Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
86. Bulan Madu


__ADS_3

Kedua orang itu pergi ke vila dengan menaiki taksi. Mereka memilih menyewa vila dari pada hotel. Karena dalam satu rumah yang besar, mereka tidak perlu khawatir ada yang memerhatikan gerak-gerik masing-masing.


Sebuah kamar yang luas dan terlihat nyaman telah menyambut mereka. Nuansa putih dan abu-abu semakin menambah kesejukan. Entah kapan lagi mereka bisa menikmati tempat senyaman ini.


Baru saja Zeo membuka kelambu jendela agar keindahan mampu menembus ruangan dan bersua dengan pandangan. Saat Zeo kembali, tiba-tiba Bara memeluknya dari belakang dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Kemudian Bara langsung merubah posisi sehingga berada di atas Zeo.


“Apa yang kamu lakukan, Sayang? Aku sedang lelah,” tutur Zeo. Dia langsung memalingkan kepala.


Bara malah tersenyum. Apa Zeo sedang menolaknya sekarang?


“Enak aja. Dulu kamu yang kejar-kejar aku. Sekarang saat aku terpikat, apa kamu mau mencampakkan aku?” sindir Bara.


Zeo mengembalikan arah pandangnya ke Bara lagi.


“Bukan begitu. Tapi penerbangan satu hari itu tidak sebentar. Benar-benar melelahkan,” jelas Zeo.


Bara mengabaikan perkataan Zeo. Kini tangannya malah bergerak dari dahi sampai pipi Zeo. Kemudian naik ke atas lagi.


“Lalu bagaimana denganku?” tanya Bara dengan wajah memelas.


Zeo tertawa pelan. Apa Bara sedang merayunya sekarang?


Tangan Zeo ikut bergerak. Dengan beraninya turut merayap ke bagian pipi Bara. Zeo terus menolaki Bara, tetapi apa dia tidak tahu kalau tindakannya sama seperti masuk ke kandang singa?

__ADS_1


“Kamu, kan, pasti lelah juga,” timpal Zeo.


“Karena itu aku membutuhkan asupan. Sebelum memulai hari-hari sibukku, tentunya aku membutuhkan rasa semangatku,” bela Bara.


Jika seperti ini, Bara benar-benar persis seperti Joffy. Dia terus menjawab setiap kalimat yang Zeo lontarkan.


“Baiklah,” kata Zeo akhirnya setuju.


“Benarkah?” tanya Bara penuh antusias. Binar-binar langsung keluar dari bola matanya.


“Iya. Tapi hanya untuk hari ini. Karena besok dan lusa kita hanya fokus untuk berjalan-ja—“


Sebelum kalimat Zeo selesai, Bara sudah mendaratkan bibirnya. Tidak ada momen yang lebih baik dari pada saat pasangan tengah membuka mulutnya. Lagi pula, kalimat Zeo hanya menyisakan satu kata saja. Tidak jauh beda.


Padahal kaki baru menginjak tanah Bali, tetapi mereka sudah memulai. Seolah-olah waktu lain tidak akan datang.


Namun, itulah kehidupan. Kita hanya hidup untuk hari ini. Sedangkan esok dan esoknya lagi, kita tidak pernah tahu.


Begitu pun dengan Zeo dan Bara ….


Hari ini mereka masih bisa berciuman, esok dan lusanya berjalan-jalan, entah ke depannya, apa mereka bisa mengulangi masa-masa indah ini kembali?


-oOo-

__ADS_1


Saat mendengar kata Bali, pasti ada sesuatu yang langsung masuk dalam pikiran kita ….


… Yaitu, pantai.


Mengunjungi pantai adalah kegiatan yang tidak boleh sampai tertinggal. Begitu pun dengan Zeo dan Bara. Bahkan kegiatan ini berada dalam list terdepan.


“Yuhuuu …!” teriak Zeo begitu girangnya.


Rok plisket berwarna kuning dengan panjang sampai ke bawah lutut, yang Zeo kenakan terbang tertimpa angin. Untung saja dia mengenakan dalaman yang panjang sehingga itu tidak membuatnya cemas. Sedangkan rambut panjangnya yang sudah ia beri warna pirang agar menyamai orang-orang eropa, melayang dengan begitu indahnya. Menambahkan kecantikan wajah Zeo yang tertimpa kilau sang mentari.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2