
Tubuh Bara terasa nyaman. Rupanya dia sudah terbaring di atas kasur. Apa dia sudah kembali ke rumah? Kenapa Bara tidak ingat kapan pulangnya?
Sebenarnya kepala Bara masih sakit. Namun, dia memaksakan diri untuk membuka kelopak matanya. Entah karena dia masih setengah sadar atau kotoran mata yang memenuhi bola matanya, Bara tidak bisa melihat jelas di depannya. Semua tampak sedikit buram. Namun, Bara bisa melihat sesuatu: seseorang di atasnya.
Sudah pasti itu adalah seorang perempuan. Bara bisa menandainya dengan kimono terbuka yang orang itu kenakan sehingga menampilkan bagian dalamannya.
Siapa dia?
“Zeo?” tebak Bara dengan suaranya yang lemah.
“Aku Shira,” sahut perempuan itu.
Bara mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa Shira ada bersamanya?
“Bisakah kutanya sesuatu?” pinta Shira.
“Apa?” Bara masih bisa menyahut.
__ADS_1
“Kenapa kamu melepaskanku …. Lima belas tahun yang lalu ...?”
“Karena aku tidak bisa bertahan denganmu yang terus mencintai lebih dari satu pria,” jawab Bara.
Wajah itu mendekat. Meski begitu, Bara hanya melihat kesamaran.
“Bagaimana kalau sekarang aku bisa mencintai satu pria saja?” bisik Shira.
“Maaf. Tapi aku tidak pernah mencintai lebih dari satu wanita ….”
-oOo-
Semua itu adalah keromantisan yang sempurna. Namun, belum juga ada sepasang kekasih yang menikmatinya.
Dalam sebuah kamar yang tampil remang-remang karena lampu dimatikan dan digantikan oleh beberapa lilin itu, kebahagiaan belum datang menghampiri; hanya ada kesunyian dan kemurungan di wajah.
Zeo mengembuskan napas beratnya. Kemudian malah tertawa. Dia menertawai dirinya sendiri. Semua ini benar-benar lucu. Dia menyiapkan sebuah makan malam yang indah dengan dua kursi berhadapan, tetapi hanya dirinya yang menikmati. Apa yang sebenarnya Zeo pikirkan? Apa dia terlalu banyak menonton drama Korea?
__ADS_1
Saat Zeo terbangun tadi pagi, Bara sudah lenyap dari sisi ranjangnya. Entah ke mana laki-laki itu pergi tanpa pamit. Zeo merasa maklum. Mungkin saja Bara sedang pergi untuk menyiapkan hadiah kejutan untuk Zeo. Namun, laki-laki itu bahkan tak kembali sampai malam menjadi larut.
Ke mana laki-laki itu sebenarnya pergi?
Zeo menggigit bibirnya. Dia sedang berpikir untuk menghubungi ponsel Bara. Sedari tadi dia tak menghubungi laki-laki itu agar makan malam ini menjadi sebuah kejutan. Namun, malah dirinya yang dikejutkan oleh ketidakhadiran Bara.
Ah, entahlah. Setidaknya Zeo harus tahu bagaimana keadaan Bara saat ini.
Zeo beranjak dari kursinya. Dia pergi ke arah laci. Membuka benda itu lalu menarik ponsel yang berada di dalamnya. Dia pun menghubungi Bara.
Hanya dering yang berbunyi. Bahkan, beberapa panggilan darinya tak terjawab. Itu membuat Zeo merasa khawatir. Sampai sebuah suara akhirnya keluar dari sana.
“Halo?”
Seketika tubuh Zeo bergetar. Pikirannya mulai berkeliaran ke sekeliling. Itu adalah suara seorang perempuan.
-oOo-
__ADS_1
Bara mengerjapkan kelopak matanya berulang-ulang. Entah hanya perasaan atau memang kebenaran, sepertinya Bara sudah terlelap sangat lama. Meski begitu, kepala Bara masih terasa sakit. Kenapa bisa begitu?
Saat bola mata Bara terungkap dan kesadarannya mulai membaik, Bara merasakan keanehan dengan apa yang berada di sekitarnya. Dinding bernuansa cokelat, Bara merasa asing dengan warna itu. Lalu sebuah tangan yang berada di atas perutnya, ini bukanlah tangan yang selalu dia pegang di setiap malam.