Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
161. Satria Mengejar Cinta 2


__ADS_3

Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.


Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu meningkat.


Cuz ….


z z z z z z


Satria langsung bangun untuk menyamakan posisinya dengan Tiwi. Namun, Tiwi malah menundukkan kepalanya.


“Ada apa, Wi?” tanya Satria khawatir.


“Maaf, Tuan. Tapi aku enggak bisa,” jawab Tiwi dengan suara lirih. Sebenarnya dia bahkan tidak berani menjawab demikian.


“Enggak bisa apanya, Wi?” Satria malah bertingkah bodoh. Dia berharap kalau perkataan Tiwi tidak seperti dugaannya.


“Ya, enggak bisa. Saya enggak bisa terima lamaran Tuan,” jelas Tiwi.


“Tapi kenapa?” Satria masih belum menyerah.


“Karena kita enggak bisa menikah. Saya bukan perempuan yang cocok untuk Tuan,” Tiwi memperjelas.


“Karena kamu udah punya anak atau aku orang yang lebih kaya?” tebak Satria.


“Kamu tenang aja. Aku sampai melamar kamu setelah mempertimbangkan banyak hal. Termasuk hal ini. Aku menyukaimu apa adanya dan pamanku orang yang baik, dia pasti bisa menerima keputusanku yang menyukaimu. Enggak ada masalah di antara kita,” belas Satria.


“Lalu saya?” tanya Tiwi.

__ADS_1


“Ha?” Satria tidak mengerti.


Tiwi memberanikan diri mendorong tangan Satria dari tangannya, sehingga tangannya terlepas. Satria terperangah melihat bagaimana Tiwi melakukan itu.


“Wi ….” Satria kehabisan kata-kata.


“Hanya karena Tuan dan paman Tuan bisa menerima saya sebagai istri Tuan, apa Tuan pikir saya perlu mempertimbangkan?” tanya Satria.


“Iya. Aku bakal kasih kamu waktu buat berpikir,” timpal Satria.


“Tapi saya udah memutuskan,” ujar Tiwi.


“Apa maksudmu?” tanya Satria.


“Saya enggak bisa nerima diri saya buat jadi istri Tuan Satria,” jawab Tiwi.


“Tapi saya enggak bisa nerima diri saya sendiri,” Tiwi lebih menegaskan.


“Wi!” panggil Satria yang masih tidak bisa menerima keputusan ini.


Akan tetapi, Tiwi sudah yakin pada keputusannya bahkan sebelum mempertimbangkan. Dia pun berbalik dan bergegas meninggalkan Satria sendirian di sana.


Brus! Satria melemparkan seikat mawar merah itu karena kesal. Padahal dia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, bahkan dia sudah menyiapkan dirinya sebaik mungkin, memangnya apa yang kurang sampai Tiwi tidak bisa menerima dirinya?


Bahkan jika Tiwi tidak memiliki apa pun, kan, Satria memiliki segalanya.


-o O o-

__ADS_1


Joffy tersenyum gembira dengan kedua tangannya yang sama-sama memegang tangan kedua orang tuanya. Dari kemarin dia memaksa untuk pergi ke pasar. Akhirnya kedua orang tuanya pun setuju. Lagi pula tahun ajaran sekolah belum dimulai. Sebaiknya mereka memuaskan waktu mereka untuk berlibur.


Baru saja keluar dari rumah, senyum ketiga orang itu luntur, menyisakan tanda tanya di wajah masing-masing.


Seorang laki-laki berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya kusut. Melihat dari sayu yang mengisi matanya, bisa ditebak kalau laki-laki itu tidak sedang baik-baik saja.


“Satria?” nama itu muncul dari mulut Zeo dengan seribu tanda tanya.


Joffy mendongak ke arah Zeo. “Ngapain kakak ke sini, Ma?” tanya Joffy.


Zeo memindahkan lirikannya ke arah Bara. “Sayang. Kayaknya kamu sendiri aja ya, yang temenin Joffy,” pinta Zeo.


“Dan kamu mau pacaran sama anak tirimu?” sindir Bara. Sebenarnya dia kecewa berat pada kebetulan ini.


-o O o-


o


o


o


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2