Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
16. Kabur


__ADS_3

Setelah keluar dari ruang guru, Zeo menegur Ranti habis-habisan. Entah perempuan itu sedang jail atau memang bodoh, Zeo benar-benar menyesali keputusannya. Setelah mengeluarkan kata-kata panjang dengan intonasi tinggi sehingga membuatnya sampai kehabisan napas, Ranti hanya membalas, “Kayaknya gue salah dengar. Gue kira Pak Bara tadi panggil lo sama ketua kelas. Maaf, ya.”


“Aish!” Zeo benar-benar ingin menyalahkan Ranti dan memaki-makinya. Sayangnya menjadi bodoh bukan kesalahan Ranti. Tuhan memberikannya begitu saja. Karena Tuhan begitu sibuk, akhirnya Dia memberikan Ranti otak yang kosong. Namun, Tuhan tidak pernah salah. Seharusnya Rantilah yang mengisi otak itu sendiri.


Setelah jam terakhir pelajaran usai, Zeo melihat Satria berdiri di depan kelasnya. Sepertinya laki-laki itu tidak akan tinggal diam setelah apa yang Zeo lakukan kepadanya tadi: Zeo telah mengatakan banyak hal kepada laki-laki itu. Apalah daya seorang budak. Sekeras apa pun dia berusaha, dia tidak akan pernah menjadi ratu.


Zeo keheranan kenapa pelajaran di kelas Satria selesai lebih cepat. Padahal mereka berada di kelas sama, hanya berbeda ruang. Zeo juga keheranan apa yang membuat laki-laki sampai begitu keras mengejarnya. Zeo tahu Zeo cantik. Siapapun tahu itu. Namun, Zeo tidak pernah dikejar-kejar laki-laki mana pun sekeras itu.


Zeo tidak kehabisan ide. Dia tidak akan bersembunyi di kelasnya dan menunggu Satria pergi dengan sendirinya. Dia pun berjalan menunduk-nunduk di samping teman sekelasnya yang tengah pulang. Teman sekelasnya yang menyadari tindakan anehnya itu merasa risih. Tepat di depan Satria, teman sekelasnya itu menjauhkan diri dari Zeo. “Ngapain sih, lo?” katanya ketus.

__ADS_1


Ah, mati. Saat Zeo menoleh pelan-pelan, Satria tengah menatapnya dengan kebingungan. Tentu saja tingkahnya tidak terlihat normal. Zeo tidak berjalan tegak, dia malah meruku’.


Zeo cengar-cengir. Itu membuat Satria menjadi semakin kebingungan. Tiba-tiba Zeo malah berlari kencang. Dia berlari sangat kencang sebelum Satria menyadari apa yang tengah dilakukannya.


Zeo menghentikan larinya setelah berada di depan sebuah mobil hitam. Zeo pun bergeser sedikit dan bersembunyi di samping mobil itu.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya seseorang yang berada di belakang Zeo.


Tiba-tiba Satria bergerak mendekat ke arahnya. Zeo pun menurunkan lututnya dan membalikkan arah pandangnya.

__ADS_1


“Bisa kamu minggir sebentar?” kata orang itu lagi.


Bola mata Zeo membelalak. Itu bukan reaksi atas perkataan orang itu, melainkan atas apa yang dilihatnya saat itu: motor Satria. Motor itu terparkir tepat di samping mobil ini.


Ah, sial! Di belakang tempat ini adalah dinding. Zeo berada di jalan bantu.


Tiba-tiba Zeo menarik kunci mobil yang dipegang orang di depannya. Kemudian dia membuka pintu mobil itu dan segera masuk ke dalamnya. Dia bergeser sedikit untuk duduk di kursi penumpang. Untuk menyembunyikan dirinya, dia memendekkan lehernya.


Zeo terlalu sibuk pada dirinya. Dia terlalu sibuk memerhatikan setiap gerakan Satria. Laki-laki itu akhirnya benar-benar pergi ke motornya. Tak lama, Satria pun melajukan motornya meninggalkan sekolah.

__ADS_1


Setelah sekian lama, akhirnya Zeo bisa bernapas lega dengan bebas. Dia pun menoleh ke samping untuk membuka pintu mobil terdekat. Namun, pintu itu tidak bisa dibuka sama sekali. Tiba-tiba Zeo merasakan tempatnya duduk mulai bergerak.


***


__ADS_2