Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
36. Menyerah


__ADS_3

Satria tersenyum. Zeo benar-benar menggemaskan. Kemudian dia mulai mengajari Zeo seperti caranya belajar. Satria adalah orang genius. Sehingga dia tidak pernah kesulitan dalam pelajaran. Dengan mudah dia mengikuti apa yang diajarkan orang lain. Sayangnya, kecerdasan Zeo terlalu jauh dari kegeniusan Satria—Zeo bahkan belum tentu memiliki kecerdasan itu.


“Pelan-pelan, dong! Gue enggak ngerti!” protes Zeo.


Dengan sabarnya Satria mengulangi ajarannya.


“Maksud lo apa, sih?! Kenapa X sama Y enggak bisa bersatu? Kalo orang tua mereka enggak ngerestuin kan mereka bisa kawin lari. Kalo mereka emang beda kan bisa saling melengkapi!” protes Zeo lagi-lagi.


“Lo tahu gimana rasanya tertusuk golok?” tanya Satria dengan nada mengancam.


Bukannya takut, Zeo malah tertawa. Satria benar-benar terlihat seperti anak-anak nakal di sekolahan. Sedangkan Satria mengembuskan napasnya dengan berat. Apa sabar enggak ada batasnya itu hoax?


Satria kembali mengajari Zeo. Kini dia bisa lega karena Zeo mulai mengerti meski sedikit. Zeo pun mulai bisa menuliskan isi-isi rumus. Namun, hanya tinggal dua langkah lagi Zeo berhenti. Zeo menoleh ke Satria. “Cari bocoran soal, yuk!” ajak Zeo.


Brak! Satria menutup bukunya dengan keras.


“Mulai besok lo enggak usah kemari lagi!” tegas Satria.


“Tapi kan gue butuh lo ngajarin gue,” rengek Zeo.


“Kalo gue masih ngajarin lo, penyakit gue enggak bakal sembuh-sembuh, Ze. Gue juga mau ikut ujian,” balas Satria.

__ADS_1


“Terus kerjaan gue gimana?” rengek Zeo lagi.


“Udah gue duga: lo enggak bener-bener punya niatan belajar, Ze. Gimana lo bisa belajar kalo lo terus-terusan kerja?” sindir Satria.


“Gue beneran pengen dapat nilai delapan puluh matematika. Tapi gue tetap harus kerja karena gue emang butuh duit. Gue tahu kalau mustahil gue bisa belajar baik dengan tetap bekerja. Enggak usah kerja aja gue masih kesulitan. Tapi gue bakal berusaha karena gue punya tujuan,” jelas Zeo.


“Emangnya apa tujuan lo?” tanya Satria.


Zeo menunduk. “Gue enggak bisa bilang,” jawabnya.


“Apa lo beneran mau dapat nilai delapan puluh?” tanya Satria lembut.


“Enggak,” jawab Satria.


Zeo langsung menenggelamkan senyumnya. Dia membuang muka dan hanya melirik sinis. “Terus ngapain lo tanya?”


Satria tidak menjawab. Dia bangun dan malah membuka lemari di samping meja kerja. Rupanya dia mengeluarkan kardus dari dalam sana. Lalu menyerahkan kardus itu kepada Zeo.


“Lo jangan kerja kemana-mana. Fokus belajar aja dulu. Dan ini buat lo,” kata Satria.


“Apa ini?” tanya Zeo sembari membukanya.

__ADS_1


Satria tidak menjawab. Zeo pun memeriksa sendiri. Rupanya kardus itu berisi beberapa buku tebal, earphone, dan tablet. Zeo pun menoleh ke Satria dengan tatapan bertanya-tanya.


“Itu berisi pelajaran semester satu kelas kita. Lo pakai aja,” jelas Satria.


“Terus lo gimana?” tanya Zeo.


“Gue udah selesai belajar itu. Sekarang gue mau fokus ke semester dua dan ujian sekolah,” jawab Satria.


Zeo menggeleng-gelengkan kepala. Rupanya yang berdiri di hadapannya bukanlah manusia. “Apa gue bisa panggil lo dewa?” gumam Zeo.


“Ha?” sahut Satria yang mendengar suara tapi tidak jelas.


“Enggak. Bukan apa-apa,” jawab Zeo.


Mana ada dewa nyebelin, batin Zeo.


“Tapi gue enggak mau kasih lo cuma-cuma,” tutur Satria memperumit.


“Apa maksud lo?” tanya Zeo.


“Lo harus bayar gue,” jawab Satria.

__ADS_1


__ADS_2