
“Pak, sebenarnya ….”
“Sebenarnya apa, Zeo?”
“Sebenarnya ….”
Dahi Bara mengernyit. Zeo bertingkah bertele-tele. Ini tidak seperti perempuan itu biasanya. Dia mulai merasa penasaran.
“Sebenarnya saya hamil, Pak ….” Zeo ingin sekali mengatakan itu. Namun, dia tetap tidak kuat. Jadi, Zeo menundanya. Mengabaikan hati egois Zeo yang berulang-ulang memaki dirinya.
“Sebenarnya apa, Zeo?” Bara mengulangi pertanyaannya.
“Sebenarnya … apa sebenarnya Bapak bahagia dengan pernikahan ini?” akhirnya Zeo malah mengutarakan pertanyaan lain.
Bara terperangah. Jadi, Zeo bertingkah bertele-tele hanya untuk menanyakan itu—
Kini Bara malah tertawa pelan. Kemudian tangannya terangkat ke atas kepala Zeo, lalu bergerak mengacak-acak rambut di sana saking gemasnya.
“Kamu ini! Saya kira ada berita buru apa?” tutur Bara merasa lega.
“Ya, iyalah. Kalo saya enggak bahagia ngapain saya nikah? Toh, saya cukup buat hidup sederha. Saya enggak butuh duitnya siapa-siapa,” jelas Bara.
__ADS_1
“Ce-cewek seperti apa dia?” tanya Zeo.
“Dia bukan sekadar cewek, tapi perempuan dewasa,” sahut Bara membenarkan.
“Iya …. Itu maksudnya, Pak. Kan, sama aja,” bela Zeo.
“Kenapa? Apa kamu ingin membandingkannya denganmu?” tuduh Bara.
Zeo hanya diam. Tidak mau menjawab apa pun. Kalau bisa dia memang ingin membandingkan diri. Namun, perempuan itu pastinya terlalu jauh jika dibandingkan dengan dirinya.
“Saya harap saya enggak akan dengar pertanyaan itu, ya?” tolak Bara lebih dulu.
“Saya enggak mau membanding-bandingkan siapapun. Setiap orang berbeda dan memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Aku menyukainya karena dia memiliki keunggulan besar, yaitu menerima kekuranganku. Dia sudah berjasa besar dalam sepanjang perjalanan hidupku,” jelas Bara.
“Emangnya ada apa, Zeo?” tanya Bara.
Zeo kembali mendongak. Kemudian memasang senyum turut bahagia. “Enggak apa-apa kok, Pak. Saya turut bahagia untuk Bapak. Selamat ya?” dia malah menusuk hatinya sendiri dengan pisau.
Bara kembali tersenyum, bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.
“Terima kasih, ya, Zeo. Jadi kamu hanya ingin mengatakan ini sampai memanggil saya ke sini?” tanya Bara. Sebenarnya dia masih berharap ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Zeo. Kata-kata yang akan memperlambat waktu, sebelum perpisahan ini benar-benar terjadi ….
__ADS_1
Sesungguhnya Bara merasa berat akan itu ….
“Iyalah, Pak. Emangnya apa yang bisa saya katakan sekarang.” Zeo malah meringis. Dia benar-benar terlihat bahagia untuk saat ini. “Kalo gitu saya pergi dulu, ya, Pak,” pamit Zeo.
Zeo membalikkan badanya. Dia pun melangkahkan kakinya pergi dari Bara. Berusaha melangkah sejauh mungkin. Di mana dia tidak akan kuat untuk berjalan kembali—untuk selama-lamanya.
Selamat tinggal, Bapak ….
Senyum lebar milik Bara yang tak pernah terbit saat sedang bersama Zeo, Zeo akan merasa sangat menyesal kalau sampai harus menghancurkannya.
Zeo melangkah cepat karena bendungan air matanya mulai tak kuat menampung. Dia hanya menunduk. Bahkan saat tanpa sengaja berpapasan dengan Satria, dia sama sekali tak menyadari kehadiran laki-laki itu yang menatapnya dengan penuh heran.
Satria mulai bertanya-tanya. Zeo turun dari tangga yang mengarah ke atas sekolah. Setahunya, tempat itu, kan, terlarang.
Zeo memang hanya menunduk. Satria maklum dengan itu. Mungkin perempuan itu sudah tidak merasa nyaman lagi saat berada di dekatnya. Namun, melihat keadaan Zeo yang tidak terlihat baik-baik saja membuat Satria menjadi penasaran ….
-oOo-
Woho ....
Rupanya Satria masih hidup, yak 😁😁
__ADS_1
Boleh bagi dukungannya, dong 🤗