Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
31. Pengakuan Pertama


__ADS_3

“Lo kenapa?” tanya Tiwi keheranan. Tingkah Zeo beberapa hari ini berbeda dari biasanya. Perempuan itu selalu memasak di pagi hari. Bahkan memberikannya lauk daging.


“Syukurnya gue sehat-sehat aja,” jawab Zeo. Dia cengar-cengir sembari menata makanan lain ke dalam kotak makanan.


“Enggak. Lo enggak baik-baik aja. Lo pasti terkejut banget karena perkataan gue,” sahut Tiwi khawatir.


Zeo tidak menurunkan senyumnya. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Tiwi. “Gue emang terkejut. Tapi perkataan lo enggak sepenting itu sampai gue harus gila.”


Tiwi melirik sinis. Perkataan Zeo menyinggungnya. “Terus apa maksudnya daging-daging ini? Bukannya biasanya lo cuma beli ikan asin?” Tiwi mengangkat daging itu, lalu menelannya.


“Jadi lo kangen sama yang asin-asin? Upil gue masih banyak, nih,” canda Zeo. Dia pun mulai tertawa.


Setelah itu, Zeo pun berangkat ke sekolah. Dia begitu bahagianya karena dia akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya di masa lalu. Dia meletakkan kotak nasinya bersama secarik surat di atas meja kerja Bara. Dia sudah meninggalkan benda itu tiga kali dengan surat yang sama dua kali.


Saat jam istirahat tiba, Zeo diam-diam pergi ke atap sekolah. Dia sudah ke sana sejak kemarin untuk menunggu Bara. Namun, Bara tidak pernah datang. Padahal laki-laki itu sempat mengajar di kelas Zeo tadi. Saat Zeo mencarinya di ruang guru, rupanya laki-laki itu sudah pulang. Terpaksa Zeo harus bersabar sampai esok hari.


Esoknya, akhirnya Zeo berhasil menemui Bara di ruang guru. Dia tidak lagi membawakan laki-laki itu kotak makanan. Terlalu malu menunjukkannya di depan guru-guru lainnya.


“Pak,” panggil Zeo.

__ADS_1


Bara yang sibuk dengan komputernya hanya menoleh sekilas. “Ada apa?” tanyanya dingin. Berbeda dengan suara yang terdengar ramah biasanya.


“Ada yang mau saya katakan,” jawab Zeo.


“Apa?” sahut Bara.


“Enggak bisa di sini, Pak.”


“Lagian di sini cuma ada guru. Ngomong aja,” titah Bara.


“Saya enggak mau ngomong kalo ada mereka.” Zeo bersikukuh.


“Kalo gitu keluar sana,” usir Bara.


Zeo menyapu ke sekelilingnya. Tidak ada guru mana pun yang tertarik padanya. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


“Ngomong aja,” sahut Bara.


“Ini Bapak lho ya, yang bilang enggak papa.” Sebenarnya Zeo masih ragu. Dia tidak bisa benar-benar mengatakannya di sini. Sedangkan Bara tidak mau menemuinya atau beranjak dari tempatnya. “Kenapa Bapak—“

__ADS_1


Tiba-tiba Bara memegang tangan Zeo. Laki-laki itu pun bangun lalu menarik Zeo keluar dari ruangan guru itu. Bara menarik keras Zeo sampai Zeo merasa kesakitan. Mereka berdua pergi ke atap sekolah. Seperti yang Zeo duga, Bara mengerti akan maksudnya.


“Pak, sakit, Pak,” rintih Zeo.


Akhirnya Bara melepaskan tangan Zeo hingga melemparkannya.


“Silakan katakan,” kata Bara.


Zeo menghela napas sedalam-dalamnya. Pengalaman pertama kali memang akan terasa lebih berat.


“Kenapa Bapak enggak datang kemarin dan dua hari lalu?” tanya Zeo.


“Saya rasa itu enggak penting,” jawab Bara tak acuh.


Zeo merasa tersinggung. Setidaknya Bara harus berbohong sedikit. Namun, laki-laki itu malah berterus terang.


“Itu penting, Pak. Seharusnya Bapak tahu apa yang mau saya bilang!” seru Zeo.


“Saya enggak tahu jadi saya akan pergi karena rasanya itu enggak penting.” Bara pun berbalik bersiap untuk pergi.

__ADS_1


Tiba-tiba Zeo memeluk Bara dari belakang. Memeluknya sangat erat untuk menyembunyikan wajah malu di balik punggung.


“Saya enggak percaya kalo Bapak enggak tahu. Meski kayak gitu, saya tetap akan bilang kalo saya suka Bapak.”


__ADS_2