Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
160. Satria Mengejar Cinta


__ADS_3

Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.


Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.


Cuz ….


z z z z z z


Usai membalut Putri dalam selimut, Tiwi bangun. Dia beranjak pergi dari kamar. Tadi, sore-sore Satria menyuruhnya datang ke halaman belakang rumah tengah malam. Entah apa yang sebenarnya tuannya itu rencanakan ….


Tiwi tahu kalau kelakuan ini bukan sesuatu yang baik. Namun, Tiwi tetap saja menuruti. Mau bagaimana lagi, Satria, kan, majikannya.


Baru melihat dari jauh, Tiwi keheranan. Tempat yang biasanya gelap malah terlihat ramai dengan sinar lampu-lampu. Sesampainya di sana kakinya terpaku. Dia terperangah saking kagumnya. Ada banyak lampu di sekitarnya. Saat menoleh ke samping, dia bahkan menemukan sepasang kursi dan meja makan. Tak lupa lilin dan keharuman mawar. Pemandangan yang dia lihat ini mengingatkannya pada FTV-FTV kuno yang kerap orang sebut FTV India Jawa.


Belum habis kekaguman Tiwi, dia langsung menoleh terperanjat, karena seseorang menepuk bahunya dari belakang. Tiwi langsung lega saat menyadari itu adalah Satria.


Awalnya Tiwi keheranan. Satria berdiri di depannya dengan baju formal dan seikat mawar mewah. Apa laki-laki itu akan melamar seseorang? Namun, siapa?


Saat Tiwi menoleh ke sekeliling, dia tetap tidak menemukan satu pun perempuan. Tiwi pun memusatkan perhatiannya ke Satria, lalu menunduk.


“Tuan udah datang,” sambutnya hormat, “apa yang harus saya bantu?”


“Melengkapi hidupku,” tutur Satria.

__ADS_1


“Bagaimana caranya, Tuan?” tanya Tiwi masih tak mengerti.


“Dengan menikah denganku.”


Ha?


Seketika kepala Tiwi terangkat. Rupanya Satria menyungging senyum setinggi mungkin dengan memamerkan seikat mawar tadi, beserta sebuah cincin di dalam kotaknya.


Bukannya menjawab, Tiwi malah menoleh ke sana kemari dengan tampang wajahnya yang plonga-plongo.


“Jadi, perempuan itu belum datang, Tuan?” tanya Tiwi dengan suara berbisik.


Alis kanan Satria terangkat. Perempuan apa yang Tiwi maksudkan?


“Perempuan siapa?” tanya Satria.


Tiwi tidak sedang salah paham, kan?


“Tapi perempuan itu kamu,” ujar Satria.


“Ha?”


“Perempuan yang aku lamar itu kamu, Tiwi. Aku enggak lagi latihan, tapi aku emang mau menikah sama kamu,” jelas Satria.

__ADS_1


Seketika Tiwi membeku. Meski ucapan Satria terdengar seperti lelucon, ekspresi di wajah laki-laki itu terlihat begitu serius.


Satria bermaksud mengulangi lamarannya. Dia bahkan menekuk lutut kaki kanannya. Kemudian mengangkat kotak cincin itu. Kini dia memamerkan betapa indahnya cincin putih yang semakin berkilau karena tertimpa cahaya dari lampu.


“Menikahlah denganku, Wi … hidup bersamaku untuk melengkapi hidupku,” ujar Satria mengulangi lamarannya.


Tiwi tidak menyahut. Kedua tangannya mengepal erat di bawah. Sebenarnya dia tidak tahu harus bagaimana. Bukannya menjawab dengan kata-kata, Tiwi malah melangkah begitu saja. Dia berniat pergi, tetapi Satria lebih cepat menahan tangannya.


Satria langsung bangun untuk menyamakan posisinya dengan Tiwi. Namun, Tiwi malah menundukkan kepalanya.


“Ada apa, Wi?” tanya Satria khawatir.


-o O o-


o


o


o


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘

__ADS_1


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2