
Udah sampai part 80 aja ya 🙄🙄🙄
Kok tiba-tiba udah panjang, sih 😁😁
Moga aja kalian enggak bosen-bosen ama sinetronku ini 😘😘
Cuz ....
💃💃💃💃
“Kata mama Kak Sat itu kakaknya aku. Tapi, mama, kan, masih mudah. Kalau Kakak udah sebesar ini, lalu kapan mama mengadung Kakak?” Joffy malah kebingungan sendiri. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Terserahmulah!” timpal Satria.
Kini Joffy berjalan mendekati ranjang. Dia hanya melihat tanpa menaikinya.
“Kakak-kakak,” panggil Joffy lagi.
Akhirnya Satria membalikkan badannya. “Apa?” sahutnya.
“Apa aku tidurnya di sini?” Joffy menunjuk ranjang itu.
“Enggak. Tapi di sana.” Satria malah menunjuk sofa panjang di dekat lemari.
“Kakak bercanda, kan?” tebak Joffy.
“Enggak. Aku serius,” elak Satria.
Meski terdengar konyol, ekspresi Satria benar-benar serius. Itu mematahkan hati Joffy. Joffy membuat ekspresi wajahnya menjadi manyun. Kemudian mengedip-edipkan kelopak matanya sehingga terlihat imut.
Ah, sial! Satria mengacak-acak rambutnya sendiri. Kenapa anak itu harus memasang wajah itu, sih?
“Ya udah. Tidur aja di sana.” Akhirnya Satria memilih pasrah.
“Hore!” seru Joffy kegirangan. Dia langsung melemparkan tubuhnya sendiri ke atas ranjang. Ranjang itu begitu empuk. Nyaman sekali rasanya. Mungkin Joffy bisa tertidur dengan mudah.
“Eh-eh,” panggil Satria.
__ADS_1
Joffy menoleh dengan ekspresi wajah bertanya-tanya.
“Nama kamu siapa?” tanya Satria.
“Lupa,” jawab Joffy.
Satria mengernyitkan dahinya. Nama sejenis apa itu?
“Mama kasih nama aneh. Serasa baca skripsi. Jadi aku enggak hafal,” tutur Joffy.
Enggak hafal nama sendiri?
Apa ada orang aneh yang seperti itu?
… Atau memang Zeo yang memberikan nama lebih aneh dari orang itu?
“Ya udah ya udah. Jadi kamu dipanggil apa biasanya?” tanya Satria.
“Mama biasanya manggil aku Joffy. Tapi kalau papa selalu ganti-ganti. Yang Ipulla, Bambang, Juki—“
“Oke, Joni,” potong Satria. Dia ikutan menyebut nama Joffy seenaknya.
“Sama aja, lah. Joffy dan Joni. Udah serasa Upin dan Ipin.” Satria tidak mau kalah.
“Tapi Upin dan Ipin, kan, orangnya beda,” tutur Joffy.
Entahlah … entah!
Untuk apa Satria sibuk memedulikan itu?
Satria mengabaikan Joffy. Kini dia malah membaringkan tubuhnya ke atas sofa.
Karena tidak ada lagi yang diobrolkan, Joffy memilih untuk tidur. Namun, ada bau-bau aneh yang mengganggu kenyamanannya. Joffy menemukan sebuah kemeja berwarna putih. Joffy bangun lagi.
“Kakak-kakak!” panggil Joffy lagi.
Satria bangun dengan ekspresi wajah yang sangat sebal. “Apa lagi, sih?” sahutnya.
__ADS_1
“Apa ini milik Kakak?” Joffy menunjukkan kemeja putih itu kepada Satria.
“Apa kamu pikir aku akan menyimpan kemejanya Lee Min Ho di sini?” sindir Satria.
“Wah, keren ….” Joffy malah merasa kagum.
Satria keheranan. Apa yang mengagumkan dari sebuah kemeja?
“Ternyata Kakak punya koleksi yang sama kayak Papa,” tutur Joffy.
“Koleksi apa?” tanya Satria.
“Koleksi cap lipstik merah.” Kini Joffy menunjukkan bekas bibir di sana.
Ah, sial! Apa, sih, yang sedang anak kecil itu bicarakan?
Satria kembali bangun. Dia mendekati Joffy lalu merebut kemeja itu.
“Anak kecil tahu apa, sih?” ejek Satria.
“Aku tahu banyak. Kakak habis gitu-gitu, kan?” tebak Joffy.
“Gitu-gitu apaan?” sahut Satria.
“Gitu-gitu … kayak mama sama papa,” tutur Joffy.
“Apa mamamu selalu menunjukkan segala hal kepadamu?” tanya Satria.
“Enggak.” Joffy menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tapi mama sama papa selalu bermesraan di mana pun dan kapan pun.”
Oh Zeo …. Kalau kamu bangga menjadi orang tidak benar, setidaknya jangan menularkan itu pada anakmu ….
-oOo-
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗