
Kutunggu Like kamu sampai janur kuning melengkung 😙😙😙
Cuz ....
💃💃💃
“Kamu memang bukan istri saya, tapi bayi dalam rahimmu itu anak saya,” tegas Bara.
“Anak?” Zeo berdengus sinis. “Berani-berani sekali kamu menyebutnya anakmu setelah pura-pura melupakan malam itu?” sindir Zeo.
“Kamu sendiri—“ Bara mengangkat telunjuknya ke arah Zeo “—berani-beraninya kamu berniat menikahi putraku untuk menutupi kejadian malam itu?” sindir Bara tidak mau kalah.
Keduanya berdesah terperangah bersamaan. Sama-sama tidak percaya bisa disindiri seperti itu oleh mulut yang tidak tahu malu. Kemudian saling membuang muka.
Keheningan datang mengisi jarak di antara mereka. Hanya sepi yang terjadi untuk beberapa saat. Kemudia keduanya mulai mengeluarkan suara kekehan ringan. Menertawakan apa yang terjadi baru saja. Lalu kepala mereka kembali bergerak sehingga saling menghadap.
“Apa kita akan sering bertengkar seperti ini setelah menikah?” tanya Bara. Tidak percaya bisa begitu menjiwai kehidupan pernikahan di sini.
“Kita bahkan belum menikah,” timpal Zeo.
“Apa ada pertengkaran yang lebih buruk setelah menikah?” tanya Bara lagi.
“Aku mungkin akan terus-terusan menyebutmu orang jahat,” duga Zeo.
“Tapi aku bukan orang jahat,” bela Bara.
“Satria sendiri yang bilang dan aku setuju untuk itu,” tegas Zeo.
“Jadi kamu memilih untuk membela laki-laki lain dari pada aku: calon suamimu?”
Apa Bara merasa cemburu?
__ADS_1
“Bapak memang calon suamiku, tapi Satria adalah calon anakku. Tentu saja aku akan membela anakku,” tegas Zeo.
“Apa?” Bara mengangkat suaranya. “Tapi kamu yang akan hidup denganku!”
“Tapi aku juga mau hidup bersama putraku.”
“Kamu ….”
“Kamu ….”
“Kamu ….”
Apa mereka mulai bertengkar lagi?
Tanggal pernikahan bahkan belum mereka tetapkan.
Gaun pernikahan juga belum mereka pilih.
Mereka tidak akan melupakan itu, kan?
Namun, bagaimana?
-oOo-
Seisi rumah Zeo begitu gaduh. Mereka semua kesakitan kepala. Sudah gagal menjadi calon besan keluarga kaya, mereka masih harus menanggung malu dari para tetangga sekitar.
Namun, bukan itu yang paling penting ….
Zeo sekarang meghilang entah ke mana.
Setelah pergi begitu saja di hari pernikahan, anak sialan itu belum juga memberikan kabar. Satria yang kemarin-kemarin sangat mau merendahkan dirinya untuk meminta restu, kini tidak mau melirik keluarga Zeo sekali saja. Dia kembali menjadi sosok yang angkuh. Saat Pak Doki menanyakan di mana keberadaan putrinya, Satria sama sekali tidak memberikan jawaban yang mereka inginkan.
__ADS_1
“Kenapa tanya saya? Toh, saya udah enggak punya urusan lagi sama dia,” elak Satria.
Pak Doki bisa memaklumi itu. Setelah apa yang dilakukan putrinya kepada Satria, sudah pasti Satria sangat kecewa dan marah. Untung saja Satria tidak meminta ganti rugi untuk apa yang telah dia habiskan.
Semua ratusan juta dan hanya menyisakan kesia-siaan.
“Pa, Bapak,” panggil Ani menyudahi kegaduhan di rumahnya.
Semua orang di ruang tamu langsung memusatkan perhatiaannya kepada Bu Ani yang datang dengan senyum semringah.
Senyum untuk apa itu?
Apa surga baru saja dia dapatkan?
“Ada apa, Bu?” tanya Pak Doki.
Bu Ani menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat.
“Surat apa ini?” tanya Pak Doki.
“Bukan sekadar surat, Pak, tapi sebuah kabar,” tutur Bu Ani dengan kedua mata yang berbinar-binar.
“Kabar?” Dahi Pak Doki mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Itu dari Zeo,” tutur Bu Ani.
.
.
Komen, kuy 😁😁
__ADS_1