
Zeo tak menjawab. Dia malah berbalik dan langsung menaiki ranjang, di samping Bara yang duduk. Ekspresi wajahnya masih kesal.
“Ze …,” panggil Bara.
Akhirnya Zeo menoleh. “Aku hanya kesal dengan wanita ****** itu!” seru Zeo menghina.
“Wanita ******?” Bara menaikkan alisnya sebelah.
“Itu, lho …. Si Shira,” terang Zeo.
Bara malah tertawa pelan. “Apa kamu cemburu?” godanya.
“Aku bukannya cemburu, tapi perempuan itu benar-benar menyebalkan!” seru Zeo.
Bara mengangkat telunjuknya untuk mendorong pipi Zeo. Ekspresi Zeo sekarang sungguh menggemaskan. “Itu berarti kamu cemburu,” godanya lagi.
“Aku serius, Sayang,” tutur Zeo. Tiba-tiba ekspresi wajahnya beralih serius.
Menyadari perubahan itu, senyum Bara menurun.
“Jujur aja, aku merasa enggak nyaman dengan kehadiran Shira. Ini bukan prasangka, tapi kebenaran,” jelas Zeo.
Kini Bara tahu, rupanya bukan hanya dirinya yang tidak merasa nyaman dengan pertemuan ini. Setelah mendengar penuturan Zeo, Bara sadar benar kalau sebuah maksud telah tersirat dalam pikiran Shira.
… Meski Bara belum tahu apa itu.
__ADS_1
-oOo-
Entah sudah berapa jam berlalu, sebenarnya Bara belum tidur sejak saat itu. Dia hanya memejamkan kelopak mata untuk menyamakan diri dengan Zeo yang sudah terlelap dalam mimpi.
Bara membuka kedua matanya. Dia segera mengantarkan pandangannya menuju jam yang menempel di dinding. Rupanya ini belum larut. Sepertinya Bara belum terlambat. Maklum saja, kedua pasangan itu sudah memejamkan mata sejak petang datang.
Bara menggoyangkan telapak tangan kanannya di atas wajah Zeo. Memastikan kalau perempuan itu benar-benar bertamsya di dunia mimpi. Tidak melihat pergerakan, bahkan hanya pada bulu mata, Bara bernapas lega. Dia pun bangun dan segera mengganti baju tidurnya dengan kemeja biru tua berpadu celana panjang berbahan demi.
Sebelum keluar kamar, Bara menyempatkan diri mengambil kunci mobil di dalam laci. Selama berlibur beberapa hari di sini, dia memutuskan untuk menyewa sebuah mobil. Itu akan membuat liburannya semakin leluasa.
Mobil berwarna hitam yang tadinya terparkir di halaman pun melesat. Membelah petang yang menyelimuti jalan raya di dekat sana. Sebenarnya Bara pergi tanpa tujuan. Makanya mobil itu berhenti setelah berada pada jarak yang cukup jauh dari vila.
Bara menarik ponselnya. Kemudian menyalakan untuk menghubungi seseorang.
“Aku butuh bantuanmu,” tutur Bara kepada seseorang.
“Iya. Dia ada di sini. Shira yang itu ….”
Shira yang sudah berhasil menarik Bara untuk melepaskan segalanya, termasuk harta dan keluarga.
Tak lama, Bara mendengar dentingan sebuah pesan. Dia pun membukanya. Setelah mengerti, dia kembali melajukan mobilnya sampai di depan sebuah rumah kecil.
Rupanya Shira tidak tinggal di penginapan. Karena kerap berlibur kemari, perempuan itu sampai membeli sebuah rumah kecil. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik dengan Bali ini.
Tok tok tok. Bara mengetuk pintu di sana.
__ADS_1
Tak lama, pintu itu terbuka. Seorang perempuan yang masih mengenakan baju tidur kimono selutut berwarna cokelat menyambut kehadiran Bara dengan senyum yang bersinar.
“Bara?” sambut Shira keheranan. Ini malam hari, kenapa Bara ke rumahnya?
Mimpi apa Shira tadi?
“Bolehkah aku masuk?” tutur Bara malah menawarkan diri.
“Tentu aja. Silakan.”
Shira langsung membuka pintunya lebar-lebar. Setelah Bara masuk, Shira mempersilakan Bara untuk duduk. Kemudian menutup pintunya kembali.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗