Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
65. Pesan Terakhir


__ADS_3

Pak Doki melihat amplop itu, tetapi tidak ada nama Zeo di sana. Dia pun membalikkan amplop itu, masih tidak ada nama Zeo di sana. Namun, sebuah tulisan secara besar mengisi bagian itu: DARI ANAK SIALANMU.


Belum melihat isinya saja, Pak Doki sudah dibuat kesal. Ulah apa lagi yang sedang anak sialan ini ciptakan?


Pak Doki langsung menyobek bagian atas amplop itu. Terdapat sebuah surat di sana. Pak Doki, pun membacanya.


Untuk Bapaknya Abangku ….


Aku baik-baik aja, Pak. Aku udah nikah, tapi bukan dengan Satria, melainkan suamiku sekarang. Aku enggak bisa ke sana sekarang, karena Bapak pasti marah. Suamiku enggak lebih kaya dari Satria, tapi aku menyukainya.


Oh, ya, udah ya, Pak. Pesawatnya bentar lagi mau datang. Aku harus ke Rusia dulu. Bapak belum pernah naik pesawat, apa lagi ke Rusia, kan?


Jangan iri aku, ya, Pak ….


Wek ….


Seketika Pak Doki meremas-remas kertas itu. Dari kemarin dia mengkhawatirkan putrinya, tetapi sekali ada kabar, malah kepalanya yang terasa mendidih.


“DASAR ANAK SIALAAAN …!” Teriak Pak Doki.


Heuh ….


Jadi Zeo belum meminta restu?


Dasar anak sialan!


Ini tidak baik, lho, Ze!

__ADS_1


Sangat tidak patut untuk dicontoh!


-oOo-


Napas yang keluar dari mulut Tiwi begitu berat. Berhasil keluar saja dengan tertatih-tatih. Saking kasihannya dengan dada Tiwi yang sudah disesaki segala hal.


Arah pandangan Tiwi berputar menyapu seluruh area kamar. Kamar itu sangat luas sampai dinding yang membatasi ruangan sangat jauh dari pandangannya. Dinding berwarna putih itu ….


… Sepertinya Tiwi takkan pernah melihat lagi.


Empuknya ranjang di sini rupanya hanya sebatas mimpi.


Tiwi sadar diri. Sudah saatnya dia pergi dari kediaman Satria, sebelum laki-laki itu mengusirnya. Padahal belum seminggu sejak Tiwi pindah kemari bersama Zeo.


Tiwi pun bangun. Dia menarik kopernya dan mulai berjalan membelah luasnya lantai di sana. Saat dia membuka pintu, seketika dahi Tiwi mengerut.


“Ha-hai.” Malah Tiwi yang gelagapan.


Tiwi mulai merasa resah. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Satria tiba-tiba datang menemuinya? Apa Satria berniat mengusirnya?


“Lo—“


“Gue bakal pergi sekarang juga,” sahut Tiwi berbicara dengan cepat dan memotong kalimat Satria.


“Lo mau pergi?” Satria malah bertanya.


“Iya. Jadi lo bisa tenang sekarang,” tutur Tiwi sembari menundukkan kepalanya saking lesu.

__ADS_1


“Ke mana? Tapi kenapa?”


Tiwi langsung mengangkat kepala. Dia tidak salah dengar, kan?


“Lo bukannya mau ngusir gue?” tanya Tiwi.


Kini Satria mengerti apa yang terjadi. Rupanya kesalah pahaman.


“Buat apa gue ngusir lo?” sindir Satria.


“Tapi, kan ….”


Ah, sial! Apa, sih, yang kamu katakan sedari tadi, Tiwi?


“Gue ke sini cuma buat nanyain kabar lo. Dari kemarin gue sibuk sendiri jadi enggak punya waktu buat ketemu lo,” jelas Satria.


“O … oh ….” Tiwi menggigit bibirnya. Dia bingung harus bagaimana.


“Gue … gue baik-baik aja, kok,” tutur Tiwi.


“Benarkah?” sahut Satria.


Tiwi menganggukkan kepala.


“Kalau gitu balikin koper lo ke lemari.” Satria menunjuk koper yang masih Tiwi pegang.


Tiwi menoleh ke arah kopernya. Ah, iya … dia hampir lupa akan tujuan awalnya.

__ADS_1


__ADS_2