
“Shira sendiri yang bilang,” jawab Zeo. Sebenarnya dia sendiri enggan mengatakan itu.
Bara mempercepat langkahnya. Kini dia berjongkok di depan Zeo. Namun, Zeo malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Itu enggak benar, Sayang. Aku emang pergi ke rumah Shira, tapi aku ke sana bukan buat tidur sama dia. Ada yang perlu aku katakan. Aku—“
“Pada akhirnya kamu tidur di atas ranjangnya, kan?” tebak Zeo memotong pembelaan Bara.
Bara terdiam dengan mulutnya yang membuka. Jika ditanya seperti itu, maka jawabannya iya. Namun, ini tidak seperti yang Zeo pikirkan.
“Aku bisa jelaskan,” bela Bara.
“Kamu tidur di atas ranjangnya, kan?” Zeo mengulangi pertanyaannya.
“Iya,” akhirnya Bara memberikan jawaban yang sesuai.
“Dan kamu tidur bersama Shira?” imbuh Zeo.
Bara menunduk. “Aku enggak tahu,” jawab Bara.
Akhirnya Zeo menoleh. Dia memberanikan diri melihat Bara yang tak lagi berani menatapnya. Dahi Zeo berkerut. Sedangkan bola matanya memantulkan kekecewaan.
Jawaban macam apa yang Bara katakan tadi?
“Aku tanya, kamu tidur sama Shira atau enggak?” Zeo kembali mengulangi pertanyaannya.
“Aku enggak tahu karena saat aku terbangun, aku udah ada di atas ranjang itu,” jawab Bara cepat. Dia sendiri masih tersiksa oleh rasa frustasinya. Kini siksaannya masih ditambah dengan kekecewaan Zeo.
__ADS_1
Zeo melirik sinis. “Kamu sendiri enggak tahu apa yang udah kamu lakuin. Jadi, apa yang mau kamu jelasin?” sindir Zeo.
“Menjelaskan kalau aku enggak tahu apa-apa ….”
Kini Bara berani mengangkat kepalanya. “Aku merasa kalau aku enggak ngelakuin apa-apa. Tapi, kalau sesuatu emang terjadi di malam itu, aku enggak tahu dan aku merasa enggak bersalah. Karena aku enggak sengaja. Aku ke sana untuk menegaskan sikapku, bukan—“
“Cukup,” potong Zeo.
Bara terperangah. Apa lagi sekarang yang salah?
“Selama kamu enggak bisa jelasin apa yang sebenarnya terjadi, maka aku juga enggak bisa ambil keputusan,” tegas Citra.
“Tapi, Ze ….”
“Kamu bisa keluar sekarang,” usir Citra. Telunjuknya mengarah ke pintu.
“Kalo kamu enggak keluar sekarang, maka aku yang akan pergi,” ancam Zeo.
Kalau Zeo sudah berkata begitu, tidak ada lagi yang bisa Bara perbuat selain pergi. Dia cukup beruntung bisa menemukan Zeo di sini. Kalau Zeo sampai pergi lagi, ke mana Bara harus mencari?
Dengan berat hati, Bara pun melangkahka kakinya keluar dari kamar itu.
Sebelum benar-benar keluar, tepatnya saat berada di tengah pintu, Bara menoleh. “Sampai berjumpa saat aku menjemputmu,” pamit Bara.
Zeo tidak menyahut. Dia bahkan tidak mau menoleh sedikit pun.
-oOo-
__ADS_1
Tadi Satria menarik Tiwi sampai ke halaman. Selain dipenuhi oleh kekhawatiran, kekecewaan juga turut mengisi wajah Tiwi.
“Kenapa lo lakuin itu?” protes Tiwi setelah Satria melepaskan tangannya.
“Bukannya lo sendiri yang bilang, kalo kita harus meminta penjelasan dulu biar bisa ambil keputusan dengan bijak?” timpal Satria.
“Tapi, kan, si Zeo enggak minta penjelasan apa pun,” ujar Tiwi.
“Dan akhirnya, dia juga enggak bisa kasih keputusan apa pun,” tegas Satria.
“Tapi enggak gini juga,” tutur Tiwi dengan suara yang dipenuhi keraguan. Di satu sisi, dia mengakui kalau yang Satria katakan adalah benar. Sedangkan di sisi lain, dia berada di kubu Zeo.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1