Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
Bab 174


__ADS_3

Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.


Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.


Cuz ….


z z z z z z


Seseorang mengetuk pintu baru saja. Tiwi berjalan untuk membukanya. Seperti yang ia duga, Hendrilah orangnya. Tiwi sedikit heran. Padahal ini masih siang. Biasanya Hendri hanya mendatanginya di pagi atau malam hari. Makanya Tiwi sempat ragu. Namun. Karena ketukan itu tak mau berhenti, ia pun datang. “Ada apa, Bang?” tanyanya.


“Lo bisa keluar sekarang?”


Dahi Tiwi semakin berkerut. “Apa maksudmu? Gimana dengan istrimu?” Tiwi semakin tidak nyaman. Kelakuannya sudah seperti seorang selingkuhan.


“Dia udah tahu semuanya.”


“Ba-bagaimana mungkin?”


“Aku yang udah cerita.”


“Tapi ….”


“Aku harap kamu mau keluar buat jelasin semua ke dia. Kalau kamu enggak keluar, mungkin pernikahan kami akan hancur,” pinta Hendri penuh harap.


Tiwi kebingungan. Ia tidak memiliki keberanian untuk bertatap muka dengan Kirana. Namun, ia tidak mau jika pertolongan yang Hendri berikan malah ia balas dengan kehinaan.


Setelah mengembuskan napas berulang-ulang dan mengumpulkan keyakinan, akhirnya Tiwi menguatkan kakinya untuk melangkah. “Ayo, Bang.”


Hendri tersenyum puas. Kemudian berjalan beriringan di samping Tiwi.


Sesampainya di ruang tamu, mata Tiwi melebar.


Iya. Benar. Kirana memang ada di sana dan tengah menunggunya. Namun, ia tak menyangka jika Zeo juga turut duduk di sampingnya.

__ADS_1


Kirana menoleh kepada Hendri dengan ekspresi keheranan. Seolah-olah menginginkan jawaban atas apa yang terjadi. Namun, Hendri malah menggaruk-garukkan kepala dan meringis tanpa rasa bersalah. Tanpa mau menjelaskan, ia malah berjalan dan turut bergabung dengan mereka berdua.


Tiwi benar-benar kecewa kepada laki-laki itu.


“Duduklah, Wi.” Hendri menepuk bagian sofa di sampingnya tanpa mengkhawatirkan pendapat Kirana. Sepertinya ia tahu benar kalau duduk di samping Zeo tidak memungkinkan bagi Tiwi untuk sekarang.


Tiwi mengembuskan napas beratnya.


Baiklah, Wi. Kita dengarkan lebih dulu apa maksud mereka.


Tiwi pun berjalan dan duduk di samping Hendri.


“Maaf. Aku enggak kasih tahu kamu soal Zeo.”


Tiwi melirik sinis. Jika ia tahu itu, ia takkan mau kemari.


“Hendri melirik ke arah istrinya. Kemudian bangun bersamaan. “Sebaiknya kalian ngobrol dulu aja,” katanya. Kemudian pergi keluar rumah untuk memberikan ruang bagi mereka berdua.


“Wi,” panggil Zeo.


“Hm.”


“Seperti yang lo lihat.”


“Gue bersyukur karena lo pilih tempat ini sebagai tujuan lo. Seenggaknya gue bisa nemuin lo lebih cepat.”


“Terima kasih udah cari gue.”


“Wi.”


“Hm.”


“Kita balik, yuk?”

__ADS_1


“Ke rumah lo?”


“Rumah Satria.”


Tiwi membuang muka. “Seharusnya lo bisa nebak kenapa gue lari dari rumah itu. Gue enggak mau pernikahan itu.”


“Jadi lo udah lupa sama tujuan lo?”


“Apa?”


“Memberikan tujuan buat Putri.”


Tiwi tertegun.


“Lo masih egois, Wi. Lo lebih mementingkan diri lo dibandingkan kebahagiaan Tiwi.”


“Emang tahu apa lo soal gue?”


“Gue udah tahu banyak. Termasuk asal uang yang lo kasih ke Satria.”


-oO o-


o


o


o


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2