
“Ke-kenapa kamu menatap saya seperti itu?” Zeo memberanikan diri bertanya meski tergagap-gagap.
“Tiba-tiba saya benar-benar ingin memakan mulutmu,” jawab laki-laki itu jujur.
Tiba-tiba laki-laki itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Zeo dan langsung mencium bibir Zeo. Ciuman itu hanya berjalan singkat. Laki-laki itu segera melepaskan ciumannya.
“Apa aku bisa menciummu?” tanya laki-laki.
Zeo menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu pun kembali mencium Zeo dengan ciuman yang lembut.
Zeo tidak tahu harus berbuat seperti apa. Dia belum pernah berciuman dan melihat orang lain berciuman. Akhirnya dia hanya meniru bagaimana laki-laki itu menggerakkan bibirnya maju mundur pelan-pelan.
Semakin lama gerakan ciuman itu menjadi semakin cepat. Ciuman itu menjadi semakin menuntut. Tanpa disadarinya, Zeo bahkan mengeluarkan desahan, Ah … ah … ah ….
Tunggu-tunggu!
Apa orang yang berciuman akan berdesah seperti itu?
“Aduh!” jerit Zeo. Akhirnya dia terbangun karena seseorang menyepak kakinya sampai menatap dinding.
“YAAA!” jerit Zeo yang merasa kesal karena ulah Tiwi. Perempuan itu sudah mengganggu ciumannya, memecahkan mimpinya, dan menghancurkan pagi indahnya.
“Yang tenang, dong,” tegur Tiwi, bukannya merasa bersalah.
__ADS_1
Zeo pun bangun. Dia benar-benar ingin mencakar Tiwi.
“Apa-apan sih, lo. Udah lanjutin film lo, enggak usah ganggu gue!” seru Zeo sembari menunjuk laptop Tiwi yang berada di atas meja lipat kecil di samping ranjang. Kemudian dia langsung membaringkan tubuhnya lagi.
“Apa gue pernah ganggu lo? Gue selalu ngelakuin yang terbaik buat lo!” tegas Tiwi tidak mau kalah.
Melakukan yang terbaik? Apa Tiwi bercanda? Bagaimana perempuan itu bisa mengatakannya dengan percaya diri setelah mendorong Zeo untuk berdiri di atas jurang neraka?
Zeo pun menutupi wajah dan telinganya dengan bantal.
“ZEEE!” teriak Tiwi sembari menarik bantal itu dari Zeo.
Zeo menjadi semakin sebal. Dia pun bangun lagi. “Apa lagi, sih?!” serunya.
“Lo enggak sekolah?”
“Sekarang hari apa?” Zeo pulang sedikit larut kemarin sehingga tidak sempat menyiapkan buku-buku pelajarannya. Setelah pulang pun, dia hanya mengganti bajunya, lalu langsung tertidur. Dia tidak bisa fokus hari ini.
“Hari apa, ya?” Tiwi juga tidak ingat. Dia bahkan tidak bersekolah. Jadi pergantian hari tidak begitu penting baginya.
Tiwi pun mendekati laptopnya untuk melihat hari apa sekarang.
“Oh, sekarang hari Sabtu. Libur ya, kan? Lo bisa lanjut tidur, deh,” kata Tiwi dengan lugunya tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
Seketika gunung merapi pada kepala Zeo meledak. “Lo mati hari ini!” teriak Zeo. Dia pun menarik bantal dan melemparkannya ke arah Tiwi. Brak! Sayangnya lemparan itu melesat dan malah mengenai laptop sehingga terjatuh.
Wajah Tiwi penuh ketakutan sebelumnya. Namun, setelah musibah yang mengenai laptopnya itu, wajahnya menjadi tidak tergambarkan. Dia pun berjongkok di samping laptopnya dengan wajah kosongnya itu. Rupanya Zeo melemparkan bantal itu dengan sangat keras sehingga laptop itu mati. Tiwi berusaha menghidupkan laptopnya berulang-ulang, tetapi gagal. Laptopnya benar-benar mati. Tiwi pun mendongak dan menghujamkan tatapannya kepada Zeo.
“Lo … lo baik-baik aja, kan?” tanya Zeo khawatir. Bukan kepada Tiwi, tetapi kepada dirinya sendiri.
“Lo pikir?”
“Gu-gue pikir lo ba-baik-baik aja.” Zeo cengar-cengir.
“LOOO!” teriak Tiwi. “Lo mati hari ini!”
Tiwi langsung menarik bantal yang mengenai laptopnya tadi dan melemparkannya kepada Zeo.
“Berhenti, Wi!” tahan Zeo.
“Terus apa yang mau lo lakuin soal laptop gue?!”
Zeo membuang muka. Dia diam. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa.
“Ze!” teriak Tiwi memecahkan kediaman Zeo.
“Terus lo mau gue gimana?!” Akhirya Zeo terpancing.
__ADS_1
“Uang kiriman bokap lo harus dipotong! Jadi lo enggak boleh makan sama jajan sampai lo bisa gantiin laptop gue!”
Seketika Zeo mengepalkan kedua tangannya sambil menggertakkan giginya. “Bukan gue, tapi lo yang mati hari ini!” tegas Zeo. Dia langsung melemparkan bantal tadi ke arah Tiwi. Sayangnya, lagi-lagi lemparannya meleset.