Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
39. Alasan


__ADS_3

Suatu hari, usai belajar, Bara menyodorkan sebotol kopi kepada Zeo. Lalu bersama-sama menatap langit di atas pijakan yang sama. Memang langit yang ditatap, karena bintang sangat jarang dan kurang menarik di sana.


“Apa Bapak ngajarin saya biar saya dapat nilai delapan puluh dan akhirnya jadi pacar Bapak?” tanya Zeo. Sebenarnya dia ingin menanyakan itu sejak beberapa hari yang lalu. Namun, dia khawatir kalau itu akan mengganggu suasana hati Bara.


Bara tersenyum geli. Zeo sungguh murid yang berani.


“Benar. Saya emang ngajarin kamu biar dapat nilai delapan puluh. Tapi bukan untuk jadi pacar saya, tapi karena kewajiban saya sebagai guru adalah memberantas kebodohan di muka bumi ini,” jawab Bara. Kemudian dia tertawa. “Lagian saya enggak yakin kalau kamu bisa dapatin nilai setinggi itu.”


“Seharusnya Bapak kasih motivasi ke saya, bukannya malah jatuhin kayak gitu,” sewot Zeo. Kemudian dia meringis. “Enggak usah sok jual mahal, deh, Pak. Ngaku aja. Bapak emang mau kan jadi pacar saya?” goda Zeo.


Bara tidak membalas. Dia hanya mempertahankan senyumnya. Dia pun bangun. Lalu mengacak-acak rambut Zeo saking gemasnya.


“Udah malam. Ayo pulang,” ajak Bara setelah menghentikan kegiatannya. Dia pun mulai melangkah.


Tiba-tiba langkah Bara berhenti karena Zeo memeluknya dari belakang sangat erat. Zeo tidak mengatakan apa pun. Dia hanya tidak mau melepaskan Bara.

__ADS_1


Tangan Bara bergerak untuk melepaskan diri dari Zeo. Seharusnya ini tidak benar. Namun, Bara malah menghentikan gerakannya.


Baiklah. Hanya untuk beberapa hari ini. Hanya sampai nilai itu keluar, katanya dalam hati. Bara pun membiarkan Zeo memeluknya sepuasnya.


***


Karena hari libur, pasar akan sangat ramai. Tiwi pun berbelanja sejak dini hari. Sesampainya di rumah, dia dikejutkan oleh penemuan terluar biasa sepanjang sejarah abad ini: Zeo belajar. Untung saja dokter mengatakan kalau kandungannya sangat sehat.


“Lo-lo-lo ngapain, Ze? Lo baik-baik aja, kan?” tanya Tiwi khawatir. Zeo tidak terlihat normal baginya sekarang.


Akhirnya Zeo melepaskan pandangannya dari bukunya. Dia mendongak ke arah Zeo. Lalu malah meringis. Sebenarnya Zeo sangat semangat belajar melebihi hari-hari kemarin. Reaksi yang diberikan Bara kepadanya membuatnya semakin berharap tinggi.


Kini Tiwi malah tertawa. Itu akan menjadi sesuatu yang terlucu di dunia.


“Kalo lo dapat nilai delapan puluh, gue enggak akan bisa kasih lo apa-apa. Tapi kalo lo dapat nilai dua puluh, lo minta apa aja gue kasih,” jawab Tiwi.

__ADS_1


“Maksud lo apa, sih?!” sahut Zeo.


“Ya, mana bisa gue kasih lo sesuatu kalau dunia udah kiamat,” jelas Tiwi.


“Gue beneran!” tegas Zeo.


Akhirnya Tiwi menghentikan tawanya. “Lo seriusan?” Kini Tiwilah yang serius.


“He’e,” jawab Zeo mengangguk. “Jadi lo mau kasih gue apa sebagai motivasi gue?”


Tiwi malah berjalan keluar pintu. Barulah dia menoleh. “Enggak, ah. Keadaan lo yang sekarang adalah yang paling menakutkan bagi gue,” katanya sembari menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia pergi ke dalam rumah untuk memasak.


“Terserah lo mau bilang apa. Yang namanya calon orang sukses emang penuh dengan rintangan,” gumam Zeo.


***

__ADS_1


selalu like dan komment🤗dan jangan lupa buat mampir di watt -.- pad ku @penggemarfanatik


sampai jumpa Sabtu depan😋


__ADS_2