Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
33. Antara Guru Dan Murid


__ADS_3

Satria yang jail itu berdiri seketika. Malah dia yang terkejut. “Lo seriusan?” Kemudian dia tertawa. “Lelucon lo enggak lucu, lho.”


“Kalo enggak lucu, ngapain ketawa?” sindir Zeo.


Seketika tawa Satria berhenti. Dia berusaha memaksakan tawanya, tetapi tidak bisa. Sehingga tawanya itu terpotong-potong, “He-he.”


“Gue seriusan, Bodoh!” tegas Zeo.


“Gue enggak bodoh, Bodoh! Lo yang bodoh, Bodoh! Gue juara satu, Bodoh! Panggil gue cerdas, Bodoh!” Satria sangat tersinggung karena disebut bodoh.


“Iya, Cerdas! Gue emang bodoh, Cerdas! Sekarang lo puas, Cerdas!” Zeo lebih tersinggung—kepada takdir. Dia bahkan tidak bisa kesal kepada Satria karena itulah kebenarannya.


Kini Satria kembali tertawa. Wajah cemberut Zeo begitu menggemaskan.


“Jadi lo cari buku tentang apa? Sejarah? Biologi? Kimia? Kebetulan gue hampir baca semua buku di sini,” kata Satria setelah tawanya berhenti.


Zeo tidak terkejut mendengarnya. Meski mustahil baginya, tidak akan mustahil jika itu bagi Satria.


“Novel,” jawab Zeo.


Satria mendesah. Dikiranya buku apa.


“Lo tahu kenapa gue enggak bisa baca seluruh buku di perpustakaan ini?” Satria malah bertanya.

__ADS_1


Zeo menggelengkan kepalanya.


“Karena gue enggak suka novel. Baca buku gituan cuma buang-buang waktu gue,” Satria menjawab pertanyaannya sendiri.


Zeo mendesah. Rupanya percuma. Dia pun berbalik ke arah rak buku untuk mencari benda itu sendirian. Tiba-tiba Satria menempelkan tangannya ke rak di bagian samping Zeo.


“Meski gue enggak suka, bukan berarti gue benci.” Satria menunjukkan sebuah novel di tangannya.


Zeo tersenyum semringah. Dia pun meraih novel itu tanpa terima kasih.


“Sebegitu senangnya lo?” tanya Satria melirik ke Zeo.


Zeo mengangguk. “Gue senang banget. Dari tadi nyari enggak nemu-nemu.” Zeo pun membuka cepat buku itu. Namun, dia malah kebingungan. Buku itu terlalu tebal dan hanya berisi kata-kata. Tidak ada satu pun gambar di sana. “Emangnya novel ini tentang apa?” tanya Zeo. Dia malas membacanya.


“My Obsessive Boyfriend. Sebuah dendam di dalam cinta. Tentang seorang perempuan yang berusaha membalasdendamkan kematian kakaknya kepada kekasihnya.” Satria meliuk-liukkan tangannya seperti seorang pendongeng.


“Kenapa? Bagus, tahu!” seru Satria.


“Kisah yang gue cari tuh, kisah cinta guru dan murid,” jelas Zeo.


“Mana ada kisah cinta yang kayak gitu?” timpal Satria.


Zeo menghentikan gerakannya. Dia fokus menghadap Satria. “Kenapa?” tanyanya.

__ADS_1


“Guru itu mengajarkan ilmu ke muridnya. Sedangkan si murid itu masih di bawah umur. Mana bisa mereka pacaran?” jawab Satria.


“Tapi kan mereka juga manusia? Manusia kan bisa bebas pacaran sama manusia lainnya?” protes Zeo.


“Emangnya lo mau pacaran sama Pak Budi?” Satria menyebutkan nama seorang guru yang sudah duda dan tua. Rambut hitamnya bahkan bercampur putih.


“Enggaklah,” tolak keras Zeo. Sedangkan dalam hati, dia mengatakan, Andai yang lo sebutin itu Pak Bara ….


***


Bara mengembuskan napasnya berat. Dia merasa lelah dengan semua ini. Akhirnya dia menemukan sekotak makan nasi lagi. Secari surat juga menempel di sana.


Apa Bapak kira saya akan menyerah dengan mudah?


Saya Zeo, Pak. Cewek tercantik yang udah matahin hati banyak cowok. Saya enggak mau hidup dengan rasa malu karena penolakan Bapak. Saya akan berusaha untuk membuktikan kalau Bapak adalah manusia yang sama kayak saya.


Bara khawatir anak itu akan membuatnya menjadi goyah. Dia pun melepaskan surat itu dan membuanya ke tempat sampah. Kemudian meletakkan kotak makanan itu ke atas meja guru sembarang.


.


.


.

__ADS_1


.


Selalu like dan koment🤗


__ADS_2