Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
55. Mencari Seorang Ayah 2


__ADS_3

Satria benar-benar sadar saat itu. Ciuman Zeo bahkan tidak berhasil menghipnotis dirinya. Dia pun langsung mendorong Zeo sehingga ciuman itu terlepas.


“Apa yang lo lakuin?” tanya Satria terperangah. Zeo benar-benar tidak seperti dirinya.


Zeo tidak menjawab. Dia kembali berusaha mencium Satria. Namun, Satria lebih cekatan sehingga ciuman itu tak terjadi. Satria kembali mendorong Zeo.


“Apa yang lo lakuin, Ze!” kini Satria menyentak. “Bukannya lo enggak suka gue?”


“Tapi lo kan suka gue,” tukas Zeo.


Zeo benar-benar sudah gila. Kini dia bahkan mulai membuka kancing bajunya sembari mendekatkan dirinya ke Satria. Satria langsung memegang kedua tangan Zeo sehingga menghentikan gerakan Zeo.


“Biarkan aku! Bukannya lo suka gue. Jadi ayo kita lakuin semua ini!” seru Zeo. Dia benar-benar meras frustasi. Entah jurang apa yang tengah berusaha dia lewati ini.


“Sadar, Ze! Sadar!” teriak Satria. Zeo tidak sedang kesurupan, kan?


Tiba-tiba tubuh Zeo bergetar. Rupanya dia mulai menangis. Seketika Satria menjadi cemas. Dia belum pernah melihat Zeo menangis sebelumnya. Perempuan itu selalu ceria seolah-olah hidup hanyalah permainan.


“Ze … lo kenapa, Ze?” tanya Satria khawatir.

__ADS_1


Zeo belum menjawab. Dia masih menangis.


“Ze ….”


“Gue hamil, Sat …,” akhirnya Zeo mengakui.


Satria menjadi lemas. Dia melepaskan tangannya dari Zeo. Kakinya melangkah mundur dua kali. Dia terperangah dan masih tidak percaya.


“Gimana nasib gue, Sat …,” rengek Zeo.


“Ja-jadi karena itu lo ngelakuin ini semua? Buat jadiin gue kambing hitam?” tuduh Satria.


“Terus gue harus gimana, Sat?” Zeo tidak tahu harus menjawab apa.


“Lo kan kaya, Sat. Lo bisa lakuin apa pun meski citra lo udah hancur,” tuduh Zeo.


“Lo bener-bener ya, Ze! Lo bener-bener kelewatan! Gue enggak nyangka lo bisa sejahat ini!” seru Satria. Dia pun mulai melangkahkan kakinya pergi.


“Lo bener. Gue emang jahat,” tutur Zeo mengakui.

__ADS_1


Seketika langkah Satria berhenti, tetapi tidak menoleh. Meski Zeo telah menolaknya, perasaan cinta Satria tak lenyap begitu saja. Sebenarnya hatinya juga sakit mendengar tangisan itu.


“Gue emang jahat makanya seorang bayi bisa ada di dalam perut gue! Dan gue akan sangat jahat kalo gue biarin bayi ini tetap hidup dengan kesialan gue!” tegas Zeo.


A-apa maksud Zeo?


Satria langsung berbalik. Rupanya Zeo sudah berada di tempat paling pinggir.


“A-apa yang mau lo lakuin, Ze?!” teriak Satria panik. Dia mulai melangkah cepat mendekati Zeo.


“Gue akan ngerasa jahat banget kalo biarin bayi ini hidup tanpa seorang ayah dan gue akan ngerasa sangat jahat kalo biarin bayi ini mati gitu aja sedangkan kehidupan gue masih berjalan. Jadi … lebih baik bayi ini mati bersama gue,” jelas Zeo.


“Berhenti, Ze!” teriak Satria dengan menghentikan langkahnya. Kalau dia masih bersikukuh berlari, mungkin takkan ada yang berhasil diselamatkannya.


“Gue ….” Satria masih memperbaiki napasnya. “Gue … gue yang akan jadi ayahnya bayi lo!”


Seketika keinginan mati Zeo lenyap. Memang ini yang dia inginkan. Dia tersenyum senang. Kemudian berlari dan memeluk Satria erat-erat.


Satria membeku. Pelukan ini adalah impiannya sejak dulu. Benar-benar mendapat pelukan dari Zeo, semua terasa seperti mimpi. Pelan-pelan tangan Satria bergerak untuk membalas pelukan Zeo.

__ADS_1


Kalo cuma ini jalan biar gue bisa dapatin lo, gak papa, Ze. Gue tetep seneng, kok.


-oOo-


__ADS_2