Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
57. Menolak Restu Orang tua


__ADS_3

Selalu tinggalkan jempol dan komen kalian 🤗


Semangat penulis cerita online, berada di tangan pembacanya 😣 Jadi penulis bener-bener menggantungkan diri ke kalian 🤗


Cuz ....


💃💃💃


Setelah perbincangan kedua pihak keluarga selesai, Doki dan Ani pun pamit pergi untuk menyebarkan kabar baik ini ke seluruh desa. Sedangkan Andi tengah mengantar mereka berdua sehingga menyisakan Satria dan Zeo saja di rumah itu.


“Sat,” panggil Zeo.


“Apa?” sahut Satria.


“Terima kasih.”


“Enggak papa. Aku udah ngelakuin keinginanmu. Aku cuma berharap kamu akan ngelakuin semua tanggung jawabmu atas keputusanku,” tutur Satria.


“Kamu sangat berjasa padaku,” puji Zeo.


“Tapi Sat, bisa aku minta satu jasa lagi ke kamu?” pinta Zeo.


“Apa? Asal enggak nyerahin kamu ke cowok lain, aku pasti lakuin itu,” sahut Satria.

__ADS_1


“Gimana sama Tiwi? Dengan kandungannya yang sekarang, dia enggak akan bisa hidup sendirian.”


“Kalau gitu bawalah dia ke sini. Tinggal bersama kita.”


“Apa kamu baik-baik aja sama itu.”


“Kenapa enggak? Yang penting ada kamu.”


“Makasih, Sat.”


Satria merasa beruntung mendapatkan Zeo sampai akan memberikan apa pun untuk perempuan itu.


Jika seperti ini, siapakah yang merasa beruntung?


-oOo-


Sudut kiri bibir Satria terangkat. Meski begitu, napas yang keluar dari mulutnya begitu berat. Dia masih tak menyangka akan apa yang dilakukannya saat ini: berdiri di depan kediaman orang yang paling dibencinya. Siapa lagi kalau bukan Bara?


Satria hendak mengetuk pintu rumah itu. Namun, hanya dalam satu ketukan, pintu itu langsung terbuka. Rupanya rumah itu hanya menutup tanpa terkunci. Itu benar-benar kebiasaan yang buruk. Bahkan tidak seharusnya menjadi kebiasaan.


Satria pun masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi. Dia tidak langsung pergi ke ruang tamu. Dia malah berjalan-jalan ke beberapa bagian rumah untuk mencari Bara. Terdengar gemericik air dari kamar yang pintunya terbuka sedikit. Bisa ditebak kalau Bara sedang mandi.


Tidak ada gunanya berdiam di sana untuk menunggu, Satria pun melangkah menjauh dari tempat itu. Kini dia berjalan menuju ruang tamu dengan tangan kanan yang merayap di atas benda-benda di sekitar sana.

__ADS_1


Sesekali Satria berhenti untuk memberikan waktu bagia perhatiannya untuk berpusat ke benda itu. Beberapa benda membuatnya begitu tertarik, saalah satunya adalah beberapa foto di sana: foto Bara dan seorang perempuan cantik: ibunya Satria.


“Kamu ke sini?” muncul sebuah suara.


Satria menoleh. Rupanya Bara yang sudah selesai mandi. Laki-laki itu bahkan sudah berpakaian dengan rapi.


“Iya,” sahut Satria tanpa antusias sedikit pun.


“Kenapa tidak mengabari ayah sebelumnya?” tanya Bara keheranan. Tidak biasanya Satria mengunjungi rumahnya. Anak satu-satunya itu bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di sana.


“Jangan menyebut diri Anda seperti itu. Saya geli mendengarnya,” sindir Satria.


Tiba-tiba Satria menyodorkan foto yang dipegangnya ke Bara. Bara menaikkan alis sebelahnya.


“Bawalah itu bersama Anda dan pergilah untuk selama-lamanya,” titah Satria.


“Aku memang sedang berpikir tapi aku belum memutuskan,” tutur Bara.


“Lagi pula saya akan segera menikah. Jadi tanggung jawab Anda sudah tidak penting lagi karena saya akan hidup bersama orang lain,” tegas Satria.


“Dengan siapa kamu akan menikah? Tidakkah kamu masih terlalu muda?” sela Bara keberatan.


“Teman satu sekolah,” jawab Satria.

__ADS_1


“Apa maksudmu Zeo?” tebak Bara.


__ADS_2