
Beberapa saat terjadi kecanggungan di antara Zeo dan Satria. Kecanggungan itu terpecahkan dengan pertanyaan Satria, “Enggak biasanya lo berangkat pagi-pagi? Tadi gue ke kos-an lo, tapi lonya udah duluan.”
“Gue kan udah bilang, gue bakal coba mempertimbangkan lo. Kenapa lo masih ngejar gue?” Kecanggungan itu memang pecah. Zeo kembali ke dirinya semula.
“Karena gue belum dapat jawaban pasti dari lo. Gue kan enggak tahu lo bakal nerima atau nolak gue. Gue enggak bisa lah diam aja. Seenggaknya gue harus berusaha biar lo bakal jawab iya buat gue,” jelas Satria.
Bel pun berbunyi. Zeo pun mengusir Satria agar kembali ke kelasnya. Ketika Satria berbalik, di saat itu juga Bara datang dari arah yang berlawanan. Waktu-waktu tenang yang dirasakan Zeo seketika berubah. Meski sempat merasa gugup karena Satria, perasaan itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bentrokan yang melanda dadanya saat ini. Tubuh Zeo kembali bergetar.
Satria telah memasuki kelasnya. Bara pun menggantikan posisi laki-laki itu. Bara memegang tangan Zeo sebentar dan menariknya untuk masuk ke dalam kelas. Hanya sebentar ….
Tangan itu langsung terlepas saat Bara memasuki pintu kelas. Di saat itu juga Zeo menyadari sesuatu: dia menyesal telah memberikan kesempatan satu bulan untuk Satria.
***
Sepulang sekolah, motor Satria mengejar Zeo. Motor itu berhenti setelah berhasil menghadang Zeo.
__ADS_1
“Biar gue antar,” kata Satria sembari menunjukkan bagian belakang motornya.
“Ke mana?” tanya Zeo.
“Ke rumah sakit,” jawab Satria, “bukannya lo mau jenguk tantenya Tiwi?”
“Enggak usah. Gue ke sana naik bis aja. Jauh banget tahu,” tolak Zeo.
“Naik atau gue bakal ngikutin bis lo,” ancam Satria.
Akhirnya Zeo menaiki boncengan Satria. Mau bagaimana lagi, Satria bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa Zeo duga.
Motor itu benar-benar melaju ke kota yang tak jauh dari kampung Zeo. Zeo turun di sebuah rumah sakit di sana.
“Nanti gue jemput,” kata Satria penuh semangat.
__ADS_1
Setelah kepergian Satria, Zeo duduk lemas di depan rumah sakit itu. Apa yang telah Zeo lakukan? Zeo bahkan bisa jujur kepada Tiwi, tapi kenapa Zeo malah berbohong sampai sejauh ini kepada Satria?
Tak lama, Zeo pun bangun. Dia berjalan jauh menuju pemberhentian bus. Sepertinya malam nanti dia harus menerima teguran dari pemilik rumah makan. Zeo akan datang terlambat.
Ah, sial! Zeo bekerja untuk mendapatkan uang, bukannya malah kehilangan uang untuk ongkos dan mendapat teguran.
***
Petang baru selesai, tetapi Satria sudah menghidupkan motornya. Dia khawatir jika Zeo sampai menunggu lama dirinya. Tiba-tiba suara ponsel berdenting menghentikan niatnya. Pesan itu dari Zeo. Zeo mengatakan kalau dirinya sudah menaiki bus lebih dulu.
“Ah, sial!” umpat Satria sembari meninju motor dengan tangannya. Padahal Zeo biasanya pulang sangat malam, kenapa perempuan itu tiba-tiba pulang lebih cepat?
Satria tidak menyerah. Esoknya dia berniat mengantar Zeo lagi. Namun, Satria tidak menemukan Zeo di sekolah. Rupanya perempuan itu sudah pergi lebih dulu. Padahal Satria sudah mengatakan kalau dia akan mengantarkan Zeo setiap hari. Akhirnya Satria pergi ke rumah sakit itu sendirian. Jika tidak bisa mengantarkan Zeo, maka Satria akan menjemputnya.
Sesampainya di rumah sakit itu, Satria hanya menunggu di ruang tunggu. Dia tidak tahu di mana kamar tantenya Tiwi dirawat, bahkan namanya. Dia pun mengirimkan pesan kepada Zeo. Namun, tidak ada satu pun balasan. Akhirnya Satria menghubungi Zeo. Sayangnya hanya operator yang menghiraukan panggilannya. Meski begitu, Satria tetap menunggu di tempat itu. Dia menjaga pandangannya barangkali Zeo sudah keluar.
__ADS_1
Sayang seribu sayang. Penantian Satria tidak akan menghasilkan apa pun. Hati Zeo bahkan takkan tersentuh sedikit pun. Karena sekarang Zeo tidak hanya bekerja, tetapi bersama Bara.