
Hendri tersenyum sinis. Benar seperti apa yang dia duga sebelumnya.
“Karena kamu ngerasa terluka sama pernikahanku. Makanya kamu berusaha balas ngelukain aku dengan hancurin pernikahan adikku. Saat kekasih dan sahabatnya mengkhianatinya, aku bahkan enggak bisa bayangin betapa hancurnya perasaan adikku,” tuduh Hendri.
“BAAANG!” jerit Tiwi. Dia langsung bangun. Dia benar-benar muak dengan semua tuduhan ini.
“Karena aku suka Abang, bukan berarti aku jadi gila dan pendam nuraniku sedalam-dalamnya. Aku masih punya hatiku, makanya aku bisa ngerasa terluka, dan enggak akan biarin sahabatku ngerasain luka yang sama,” bela Tiwi.
Hendri bangun tanpa menghilangkan senyum sinisnya. “Terusin aja dramamu itu. Aku udah berkeluarga. Jadi, sehebat apa pun sikap kepahlawanan yang kamu pamerin ke aku, aku enggak akan terpengaruh sedikit pun. Dan jangan coba-coba buat ganggu adikku lagi. Sekarang adikku udah ada sama aku dan aku yang akan jaga dia dari kamu!” tegas Hendri. Kemudian dia mulai melangkah pergi meninggalkan Tiwi.
Kini hanya tersisa Tiwi di taman itu. Dengan kakinya yang lemas sampai tak mampu menopang sang tubuh. Lutut Tiwi bertekuk. Akhirnya dia kembali duduk di atas bangku. Sedangkan kepalanya menunduk.
Kenapa semuanya menjadi runyam sejauh ini? Di mana awal kisah ini sebenarnya? Tiwi bahkan sampai tidak mampu membuktikan pembelaan dirinya.
-oOo-
Kaki Satria terus bergerak ke sana kemari. Sedangkan bola matanya berulang-ulang melemparkan lirikan ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lama dia berada di tengah-tengah halaman. Sesekali, dia melepaskan lirikannya dan beralih ke arah depan.
Sudah lama sejak Tiwi pergi. Namun, dia belum kembali juga. Padahal mereka berencana untuk pergi bersama menemui Zeo di rumahnya. Sedang apa sebenarnya perempuan ini?
__ADS_1
Satria sudah bosan dengan semua ini. Dia pun melangkahkan kakinya, bersiap untuk pergi. Setidaknya dia harus menjemput Tiwi di taman. Kalau perempuan itu sampai tidak ada, maka Satria yang akan menemui Zeo sendirian.
Baru sepuluh kali kaki Satria melangkah, dia sudah berhenti. Dahinya melahirkan kerutan di wajahnya. Satria keheranan saat melihat seorang perempuan bergaun ungu berjalan dengan menutupi hidungnya dengan tangan.
Ya. Perempuan itu memang Tiwi. Namun, kenapa dia kembali dengan wajah sedih?
Satria bergegas mendekati Tiwi. Dia berhenti di depan Tiwi sehingga menghadang langkah Tiwi.
Tiwi mendongak. Menemukan wajah Satria yang menyambutnya, dia merasa lebih tenang. Tiba-tiba dia memeluk Satria. Di saat itu juga, tangisnya pun pecah.
“E-e-eh … apa yang terjadi?” tanya Satria cemas.
“Wi. Lo kenapa, sih?” Satria mengulangi pertanyaannya.
Bukannya menyahut, Tiwi malah mengeraskan suara tangisnya. Sudah dari tadi dia mengharapkan sesuatu yang akan menopang dirinya.
Ah, sial! Satria jadi kebingungan sendiri. Apalagi, gara-gara Tiwi, beberapa pekerja yang lewat menyempatkan diri untuk memerhatikan mereka berdua.
Tidak bisa!
__ADS_1
Ini tidak bisa terus terjadi!
Tangan Satria bergerak mengusap pelan punggung Tiwi. Membalas pelukan itu dengan harapan Tiwi bisa merasa lebih baik lagi. Kemudian menggerakkan kakinya dan menarik Tiwi untuk masuk ke dalam rumah.
-oOo-
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗