
Tiwi terlihat sangat marah. Keberanian Zeo meringsut. Kaki Zeo terasa melemah. Lututnya pun tertekuk sehingga dia lunglai di atas lantai. Kelopak matanya bahkan tidak kuat membendung air mata lagi.
“Maafin gue, Wi …. Ini gue yang salah …, bukan lo …. Seharusnya gue minta penjelasan lo dulu. Tapi gue malah salah paham sama lo dan marah gitu aja…,” tutur Zeo.
Tiwi mengernyitkan dahi. Sebenarnya dia tidak mengerti mana yang Zeo maksudkan. Terlalu banyak salah paham di antara mereka sampai tidak mengerti bagaimana cara berpikir masing-masing. Rupanya waktu bukanlah ukuran untuk bisa mengenal seseorang.
Heh! Tiwi mengembuskan napas beratnya. Dia memang marah, tetapi dia bukanlah Zeo. Dia pun berjalan mendekati ranjang lalu duduk di atas sana.
“Sini!” tutur Tiwi sembari menepuk bagian ranjang di sampingnya.
“Heh?” Zeo tidak mengerti akan maksud Tiwi.
“Duduk di sini aja. Kasihan lutut lo. Nanti retak lagi. Padahal lo udah susah-susah ngehalusin sampai pindah ke Rusia,” jelas Tiwi.
Sebenarnya Zeo ingin tertawa mendengar lelucon dari Tiwi. Namun, keadaan membuatnya tidak berani. Dia pun bangkit. Lalu berjalan mendekati Tiwi dan duduk di sampingnya, seperti yang Tiwi inginkan.
“Gue enggak tahu kenapa lo marah, tapi sekarang lo sadar kalau bukan gue yang salah, jadi gue enggak bakal tanya. Gue anggap masalah yang ini udah selesai,” tutur Tiwi.
__ADS_1
Zeo hanya manggut-manggut.
“Tapi … gue mau penjelasan dari lo,” pinta Tiwi.
“Soal apa?” tanya Zeo.
“Kenapa lo bilang soal anak gue ke Bang Hendri? Bukannya gue udah larang lo? Dan itu setelah enam tahun berlalu?” cecar Tiwi mengungkapkan kekecewaannya.
“Buat itu … maafin gue banget, Wi … gue sama sekali enggak ada niat balas dendam atau pun niat buruk lainnya,” bela Zeo.
“Apa pun niat lo, lo itu udah salah, lo khianatin kepercayaan gue, Ze!” tegas Tiwi.
“Emangnya siapa lo?” sindir Tiwi, “gue itu gue dan lo itu lo. Kita beda dan luka yang ada di hati gue, lo enggak bakal bisa ngerasain yang sama!”
“Makanya gue salah … gue pikir apa yang gue lakuin bakal nyembuhin lo. Tapi ternyata malah bikin keadaan lo sama abang gue makin memburuk. Kehidupan kalian udah baik-baik aja, tapi gue malah gali sungai darah untuk tenggelamin kalian,” tutur Zo merasa menyesal.
Tiwi mengembuskan napas beratnya. Penjelasan sudah dia dapatkan dan masalah telah selesai. Tidak ada gunanya menyimpan amarah terus menerus. Dia pun mengeluarkan amarah itu bersama udara yang mengisi dadanya.
__ADS_1
“Ya udah. Lagian semua udah terjadi. Meski kami sama-sama sedang terpuruk sekarang, aku percaya keadaan ini bakal membaik seiring waktu,” timpal Tiwi.
Zeo diam. Kini dia merasa lebih tenang. Memang seperti inilah Tiwi. Dia selalu baik sampai akar-akarnya. Berbeda dengan Zeo hanya bisa kecewa dan mengecewakan.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗