Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
7. Sebuah Ciuman


__ADS_3

Zeo langsung mendorong laki-laki itu menjauhkan diri darinya dan berpura-pura terjatuh untuk menyembunyikan gulungan kaus kaki itu di bawah gaunnya dan dadanya yang mengempis dengan lututnya.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya laki-laki itu. Dia mendekati Zeo dan mengulurkan tangannya.


Diam-diam tangan Zeo merayap di atas lantai untuk menemukan gulungan kaus kakinya. Setelah mendapatkannya, Zeo langsung berbalik sehingga memunggungi laki-laki itu, bukannya menerima uluran tangan. Tiba-tiba Zeo bangun dan pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada laki-laki itu. Dia berlarian ke kamar mandi untuk memperbaiki gulungan kaus kakinya.


Sebelumnya Zeo menyalahkan Tiwi karena membuatnya berada pada keadaan yang memalukan. Kini dia malah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak benar-benar mendengarkan perkataan Tiwi. Sebenarnya Tiwi sudah menyarankan Zeo untuk menahan gulungan kaus kaki itu dengan selotip. Namun, Zeo malah mengabaikannya dan hanya memasukkan selotip itu ke dalam tas. Jika dia mendengarkan Tiwi sepenuhnya, dia tidak akan berada pada posisi yang sangat memalukan seperti ini.


Setelah memasang gulungan kaus kaki itu dan membalutnya dengan selotip, Zeo kembali ke tempatnya. Namun, laki-laki yang sempat berdansa dengannya tadi sudah menghilang. Zeo pun bergegas mencarinya. Akhirnya Zeo menemukan laki-laki itu tengah berjalan menuju pintu keluar. Di saat yang bersamaan, Zeo melihat Satria sudah berada di ruangan. Padahal acara sudah akan dimulai, tetapi laki-laki itu malah pergi keluar. Zeo pun segera mengejar laki-laki itu.


Zeo hanya berniat mengejar laki-laki itu dan mengajaknya kembali ke ruangan. Namun, laki-laki malah berjalan hingga menyusuri sepanjang pinggir jalan raya. Dia tidak berjalan cepat seakan-akan terburu-buru. Dia tetap tenang. Malah kecepatan langkahnya sangat lambat. Sepertinya laki-laki itu sudah memutuskan. Entah kenapa Zeo malah tidak bisa menghentikan langkahnya mengikuti laki-laki itu sampai laki-laki itu berhenti dan duduk di kursi panjang yang berada di pinggir jalan.


Laki-laki itu membuka topengnya. Tatapannya mengarah pada jalanan yang ramai dengan kendaraan melaju.


Zeo memerhatikan laki-laki itu dari samping. Wajahnya tidak terlihat jelas karena lampu jalan yang berada di dekatnya tidak begitu terang. Tak lama, Zeo pun mendekati laki-laki itu dan duduk di sampingnya.


“Kenapa kamu pergi dari sana? Padahal acara udah mau dimulai,” tanya Zeo mengawali percakapannya.

__ADS_1


Laki-laki itu menoleh ke arah Zeo. “Kenapa kamu juga pergi dari sana?” Bukannya menjawab, laki-laki itu malah balik bertanya.


“Saya ngikutin kamu, tahu!” jelas Zeo.


“Kenapa kamu ngikutin saya?” tanya laki-laki itu lagi.


Zeo mendesah, ”Heh. Saya juga enggak tahu kenapa saya malah ngikutin kamu. Jadi kenapa kamu keluar gitu aja?”


“Saya hanya merasa tidak seharusnya berada di sana,” kata laki-laki itu mengakui.


“Karena hanya kita orang dewasa di sana?”


“Kita datang di sana bukan dengan sendirinya, kok. Orang Satria yang ngundang kita, kok. Kita datang juga karena kita orang terdekat Satria, kok. Justru kitalah yang seharusnya merasa tersanjung karena enggak sembarang orang dewasa yang Satria undang. Lagian ada benarnya kita datang. Karena di sana hanya berisi anak-anak sekolahan, seharusnya kan ada beberapa orang dewasa yang ngawasin.”


Zeo berbicara begitu banyak sehingga membuat laki-laki itu tidak bisa menahan tawanya. Zeo menjadi keheranan. “Ada apa?” tanya Zeo.


Akhirnya laki-laki itu menghentikan tawanya pelan-pelan tanpa menghilangkan senyumnya.

__ADS_1


“Kamu bicara begitu banyak sampai membuatku ingin memakan mulutmu,” kata laki-laki itu.


Laki-laki itu berbicara dengan nada bercanda, tetapi tidak demikian kalimatnya. Tiba-tiba Zeo menjadi gugup. Suasana di sekitarnya menjadi canggung. Apalagi usai mengatakan itu, laki-laki itu malah menatap Zeo dengan serius.


“Ke-kenapa kamu menatap saya seperti itu?” Zeo memberanikan diri bertanya meski tergagap-gagap.


“Tiba-tiba saya benar-benar ingin memakan mulutmu,” jawab laki-laki itu jujur.


Mati! Laki-laki itu membuat Zeo membeku. Zeo bingung harus memberikan tanggapan seperti apa. Akan tetapi, percuma saja Zeo memikirkannya. Apa pun tanggapan yang dipikirkannya tidak akan berguna. Karena saat Zeo baru membuka mulutnya, laki-laki itu langsung menyatukan mulutnya dengan mulut Zeo. Laki-laki itu benar-benar memakan mulut Zeo. Kegiatan itu biasa disebut sebagai ciuman. Sebuah ciuman sesungguhnya yang baru kali pertama Zeo rasakan.


Ciuman itu hanya berjalan singkat. Laki-laki itu segera melepaskan ciumannya.


“Apa aku bisa menciummu?” tanya laki-laki.


Laki-laki itu sungguh menyebalkan. Dia malah meminta izin setelah melakukannya begitu saja. Lebih menyebalkannya lagi, Zeo malah menganggukkan kepalanya.


Ah, sial! Apa yang telah terjadi kepada Zeo sebenarnya?

__ADS_1


Pertama, Zeo membiarkan Satria mencium keningnya. Sekarang dia malah membiarkan laki-laki ini mencium bibirnya. Zeo bukan orang yang mudah. Jangan membiarkan seorang laki-laki menciumnya, berpacaran saja Zeo belum pernah sebelumnya. Lalu bagaimana Zeo bisa berubah begitu mudah setelah pindah ke kota?


***


__ADS_2