
Sebuah rumah makan dengan dinding bernuansa cokelat. Itu adalah rumah makan yang besar. Namun, tempat itu sepi sekali. Hanya Satria sendiri yang mengisi di tengah-tengah. Lagi-lagi Satria menghabiskan uangnya secara berlebihan. Hanya untuk berbicara empat mata, dia sampai menyewa seluruh rumah makan itu untuk satu hari penuh.
Tak lama sejak berada di sana, akhirnya orang yang tengah Satria tunggu telah datang.
Seorang laki-laki bertubuh tegap dan berdada lebar masuk. Kemeja berbahan denim dan celananya yang berwarna senada membuatnya terlihat lebih muda dari pada usianya. Melihat itu, Satria malah tertawa pelan. Laki-laki itu tidak tampak seperti ayahnya. Orang-orang malah akan mengiranya sebagai kakak saja. Entah berapa usianya saat ini.
“Aku datang,” ujar Bara.
Satria menunjuk kursi di depannya dengan telapak tangan. Dia mempersilakan Bara duduk tanpa bersuara.
Bara pun menarik kursi itu dan duduk di depan Satria.
“Apa kamu menemukan sesuatu tentang istriku? Eh, maksudnya Zeo?” tanya Bara penuh antusias. Dia sengaja merevisi penyebutan panggilannya kepada Zeo. Mengingat apa yang terjadi di masa lalu, Bara tidak nyaman kalau harus menyebut Zeo sebagai istri di depan Satria.
“Tergantung,” jawab Satria.
Bara menegakkan alis kanannya. Bukankah itu terdengar ambigu.
“Iya atau tidak?” tanya Satria butuh kejelasan.
“Bisa iya bisa tidak. Semua tergantung dengan obrolan di antara kita sekarang,” terang Satria.
Bara tidak bodoh. Dia mengerti kalau Satria sedang mengujinya. Dia juga mengerti kalau Satria sudah tahu di mana keberadaan Zeo. Bara hanya bisa pasrah. Tentu saja Satria akan lebih berhati-hati kepadanya sekarang.
__ADS_1
“Jadi bagaimana kamu akan menentukan jawabannya?” tanya Bara.
“Jawablah pertanyaanku,” timpal Satria.
“Apa?”
“Kenapa Anda memilih meninggalkan ibu saya bertahun-tahun yang lalu?” akhirnya Satria mampu melontarkan pertanyaan itu. Selama ini dia hanya menahan. Menutupi rasa penasarannya dengan tuduhan.
Dara Bara terasa berat. Mengungkit masa lalu membuatnya merasa tidak nyaman. Mau bagaimana lagi, jika seorang anak menjawab, maka Bara tidak memiliki alasan untuk menutupi.
“Karena aku sudah mengganti prioritas dalam hidupku,” jawab Bara.
Satria mengangkat alis kanannya. Apa ada prioritas yang lebih tinggi dibandingkan keluarga sendiri?
“Aku mencintai seorang perempuan setelah menikahi ibumu, lebih tepatnya aku sampai tergila-gila padanya. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, aku hanya mau agar selalu bersamanya bahkan jika aku harus melepaskan banyak hal,” tutur Bara.
“Enggak,” jawab Bara.
Satria tersenyum sinis. Ayahnya itu begitu terus terang.
“Aku menikah dengan ibumu atas kesepakatan bersama. Bekerja sama untuk meraih kekuasaan tinggi bersama,” ujar Bara.
“Pada akhirnya, kan, Anda meninggalkan ibu saya di tengah-tengah,” tuduh Satria.
__ADS_1
“Kami udah selesai,” timpal Bara.
Satria mengernyitkan dahi. “Apa maksud Anda?” tanyanya.
“Kami udah berhasil mendapatkan kekuasaan itu. Kesepakatan kami telah berakhir. Itulah kenapa aku memilih berhenti sampai di sana dan pergi,” jelas Bara.
“Lalu untuk meninggalkan saya … apa Anda memiliki penyesalan?” tanya Satria.
“Meninggalkanmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku,” aku Bara.
“Memang butuh waktu yang lama untuk menyadari itu. Tapi, setelah menyadari itu, aku sangat menyesal. Penyesalan itu memberikan beban berat dalam hatiku sampai aku terus diam tanpa pergerakan untuk sementara waktu. Aku dibutakan oleh cinta sampai aku tidak bisa melihat kalau di antara aku dan ibumu bukan sekadar kesepakatan kerja sama saja. Ada kamu di tengah-tengah kami. Tanggung jawab yang bukan hanya ditulis di atas kontrak,” jelas Bara.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗