
“Udah. Lo pasti baik-baik aja dengan semua ini. Bukannya lo selama ini hidup kayak gitu?” hibur Satria.
Tiwi menatap Satria lekat-lekat. “Apa lo pikir kayak gitu?” tanyanya.
Satria menganggukkan kepala.
“Tapi gue enggak ngerasa gitu, Sat. Gue bukannya baik-baik aja, tapi gue nguat-nguatin aja,” tutur Tiwi.
“Kalo gitu, lakuin sekarang juga. Lo kuat-kuatin meski lo masih enggak ngerasa baik-baik aja. Karena seiring waktu, lo bakal terbiasa,” ujar Satria.
Nasehat Satria memang benar. Namun, entahlah. Tiwi masih tidak merasa begitu baik-baik saja. Dia masih tetap menangis.
Ibu jari Satria bergerak. Jari itu menyentuh pipi Tiwi. Kemudian bergerak pelan mengusir air mata yang mengotori wajah cantik itu. Kulit Tiwi terasa begitu lembut. Entah bagaimana itu bisa terjadi, padahal Tiwi selalu bekerja sangat keras sampai tidak memiliki waktu untuk menjaga kulit wajahnya.
Bahkan setelah air mata itu bersih, tangan Satria masih bergerak. Sedangkan Tiwi malah terdiam. Seolah membiarkan saja terserah apa yang akan Satria lakukan kepadanya.
Saking terbawa suasana, perhatian Satria tidak lagi menuju bekas air mata yang telah bersih. Bibir berwarna merah muda itu begitu manis bahkan hanya untuk dilihat. Ya …. Ke sanalah perhatian Satria berpusat.
Kini tangan Satria bergerak ke belakang sehingga menopang kepala Tiwi. Kepalanya bergerak perlahan, mendekat ke arah wajah Tiwi. Tanpa sadar, Tiwi malah memejamkan matanya. Seolah membuka pintu yang selama ini dia kunci rapat-rapat.
Kepala Satria terus mendekat. Namun, akhirnya tidak mendarat ke bibir itu, melainkan ke sampin telinga. “Semangatlah,” bisiknya. Kemudian melepaskan tangannya dan menarik kepalanya lagi.
Ah, sial! Apa yang hampir saja kamu lakukan ini Satria?
__ADS_1
Apa kamu ….
Apa kamu tertarik pada bibir merah muda dan tipis itu?
Tolong ingatlah, Satria: dia adalah bawahanmu. Apa yang akan orang lain katakan kepadamu kalau mereka sampai tahu soal ini?
Tiwi terkejut mendengar bisikan itu. Kemudian menyakinkan dirinya untuk membuka kelopak matanya, meski perlahan. Saat kedua matanya terbuka, Satria tidak lagi ada di sampingnya. Rupanya laki-laki itu sudah bangun dan membangun jarak antara dirinya dan Tiwi.
Ah, sial! Apa yang kamu lakukan tadi Tiwi?
Apa kamu sungguh memejamkan mata?
Akan tetapi, untuk apa, Tiwi?
Apa kamu berpikir Satria akan menciummu?
Mana mungkin Satria akan melakukan itu!
Bukankah kamu tahu benar kalau Satria bahkan masih peduli kepada Zeo?
Tiwi benar-benar menyesali tindakannya sendiri.
Tangis Tiwi benar-benar mereda saat ini. Dia bingung harus melakukan apa sekarang. Kesalahpahaman yang terjadi baru saja membuatnya merasa tidak nyaman. Seolah seluruh udara yang mengisi ruang ini tidak ada. Hanya ada kecanggunga.
__ADS_1
Tidak-tidak! Tiwi tidak bisa terus terjebak dalam keadaan ini!
Tiwi pun bangun. Dia berdiri sedikit mendekat ke Satria. Tidak lagi berani berada tepat di samping laki-laki itu. Saat mengingat apa yang terjadi baru saja, dia akan merasa malu sendiri.
“Gu-gue ….” Entah kenapa, berbicara menggunakan bahasa akrab seperti itu tidak lagi terasa nyaman untuk Tiwi.
“Saya mau balik ke kamar lagi, Tuan,” ujar Tiwi mengganti gaya bahasanya. Ini akan terasa lebih nyaman untuknya.
“O-o-oh …,” sahut Satria tanpa menoleh. Dia sendiri masih merutuki niatnya tadi.
“Kalo gitu, saya pergi dulu,” pamit Tiwi.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗