Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
79. Adik Baru


__ADS_3

Baru saja Satria melangkahkan kakinya keluar dari area meja, seorang anak laki-laki muncul di depan dan menghadang langkahnya. Anak laki-laki itu merentangkan kedua tangan lebar-lebar. Dia memang sengaja menghadang Satria.


“Hei anak kecil. Menyingkirlah!” usir Satria.


Anak kecil itu menggelengkan kepala. Dia masih tidak mau bergerak.


Ah, sial! Anak siapa, sih, dia?


“Kak Sat,” panggil anak itu.


“Kamu mengenaliku?” Satria menunjuk dirinya sendiri.


Anak kecil itu menganggukkan kepala.


Lalu kenapa Satria tidak mengenalinya?


Tunggu-tunggu ….


Anak kecil itu menyebut Satria paman, bukan?


Satria menoleh ke arah Zeo yang masih diam di tempat. Tanpa bersuara, seharusnya Zeo bisa membaca ekspresi wajahnya yang bertanya-tanya.


“Dia adik lo,” tutur Zeo dengan suara lemah.


“Ha?”


Satria tidak salah dengar, kan?


“Sebenarnya …” Zeo sedikit ragu mengatakan ini “… sebenarnya, gue mau titipin dia ke lo selama gue bulan madu sama ayahnya.”


“LOOO—“


Teriakan Satria terpotong karena anak kecil itu menarik-tarik celananya. Terpaksa, Satria pun menoleh.


“Apa lagi?” sentak Satria.

__ADS_1


Anak kecil itu tidak menjawab. Dia malah memanyunkan wajahnya. Membuat wajah sedihnya terlihat imut. Anak kecil itu bukan rubah jantan, kan?


Ah, sial! Satria hanya mengacak-acak rambutnya dengan sebal. Dengan wajah seimut itu, bagaimana dia bisa tega?


Bola mata Satria mengganti lirikannya ke arah Zeo. Kelopak matanya menyipit. Mengisyaratkan kalau Zeo tidak akan aman setelah ini.


AWAS AJA LO, ZEO!


-oOo-


Ah, sial, sial, siaaal ….


Apa yang sebenarnya kamu lakukan ini, Satria?


Apa kamu termakan omongannya Zeo?


Satria turun dari motornya. Lalu menggendong Joffy yang sedari tadi duduk di atas boncengan. Barulah Joffy menginjakkan kakinya ke tanah.


Setiap kali melihat anak kecil itu, dada Satria terasa begitu sesak. Seolah-olah sebuah rantai sudah mengikatnya. Pada akhirnya, Satria hanya mampu mengembuskan napas beratnya saja.


Satria berjalan lebih dulu tanpa memedulikan Joffy. Namun, Joffy bergegas mengejarnya lalu menautkan jemarinya dengan jemari milik Satria. Satria menoleh, rupanya Joffy tengah melihatnya juga dengan ekspresi wajah imut yang belum menghilang.


Ah, sial! Melihat wajah itu membuat Satria semakin sebal saja!


“Tuan sudah pulang,” sambut seorang pekerja di depan pintu.


“Iya,” sahut Satria dingin.


“Kalau boleh tahu, anak kecil ini siapa ya, Tuan?” tanya pekerja itu kepada Joffy.


“Habis nemu di kandang kuda nil.”


Pekerja itu mengernyitkan dahi. Apa Satria tengah bercanda?


Joffy melepaskan tangan Satria. Dia bertingkah seolah-olah pangeran sebuah kerajaan. “Saya—“

__ADS_1


Ucapan Joffy terpotong karena Satria langsung menggendongnya. Tidak membiarkan Joffy menjelaskan siapa dirinya.


Memiliki adik dari seorang yang sebaya denganya ….


Apa yang lebih menyebalkan dari itu?


-oOo-


Ssesampainya di kamar, barulah Satria menurunkan Joffy. Satria pun mengunci pintu kamar. Sehingga saat dia menelan habis anak itu, tidak akan ada siapapun yang melihat.


“Kakak-kakak!” panggil Joffy.


“Siapa yang lo sebut kakak itu?” Satria tidak merasa nyaman dengan panggilan itu.


“Apa Kakak enggak bisa berpikir dengan baik seperti mama?”


Apa? Satria tidak salah dengar, kan?


Apa anak kecil itu mengejeknya?


“Tapi aku bukan kakakmu!” tegas Satria.


Enak saja menyamakan Satria dengan Zeo. Anaknya Zeo, kan, Joffy.


.


.


..


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2