Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
96. Puzzle Yang Memaksa Masuk 3


__ADS_3

“Maaf. Mungkin ini membuatmu merasa canggung. Tapi aku tidak akan nyaman kalau ada yang melihat seorang laki-laki bertamu ke rumahku di malam hari,” dalih Shira.


Bara mengangguk. Dia sendiri muak dengan kebenaran, kalau dia telah masuk ke rumah ini. Entah pikiran apa yang merasuki Bara sampai memaksa dirinya sejauh ini.


Shira masuk ke dalam rumah. Tak lama, dia kembali dengan secangkir kopi.


“Aku sangat senang kamu mau berkunjung ke rumahku. Sebenarnya aku udah nunggu ini sejak pertemuan pertama kita,” tutur Shira dengan senangnya. Kemudian meletakkan kopi itu ke atas meja. “Minumlah!”


Bara hanya melirik tanpa menyentuh. “Jangan salah paham. Aku tidak memiliki maksud apa pun ke sini,” sindir Bara.


“Tentu aja. Kamu, kan, udah nikah,” timpal Shira menerima sindiran itu dengan senyuman.


Shira menempatkan duduknya di kursi lain di depan Bara. “Jadi, ada hal apa yang mau kamu bicarakan sampai datang kemari?” tanya Shira.


“Aku mau kamu jangan pernah menemuiku,” tegas Bara.


“Sepertinya kamu salah paham. Aku enggak pernah nemuin kamu. Pertemuan kita cuma ketidak-sengajaan aja,” Shira lebih menegaskan.


“Bahkan kalau itu enggak sengaja, kamu harus mundur sampai pertemuan kesekian kali kita enggak akan pernah terjadi. Lebih tepatnya, aku mau kamu menjauh dari kehidupanku, bahkan jika kamu sebatas tokoh pendukung aja,” jelas Bara.


“Apa kamu tahu, permintaanmu ini menyakiti hatiku,” sindir Shira.


“Anggap aja ini sebagai penebusan maafmu di masa lalu,” timpal Bara.


Shira menaikkan sudut bibir kirinya. Semua ini menjadi semakin menarik.


“Aku enggak ingat pernah minta maaf sama kamu,” tutur Shira.

__ADS_1


“Tapi kamu memang benar sudah melukai hatiku,” imbuh Bara.


“Bagaimana kalau aku tidak memiliki penyesalan sedikit pun?” tantang Shira.


“Maka anggaplah, permintaanku ini sebagai balasan untukmu,” timpal Bara.


“Jadi kamu benar-benar terluka?” sindir Shira.


“Lalu buat apa aku melepaskanmu kalau aku masih bisa bertahan?”


“Bukannya kamu yang bilang kalau kamu akan melepaskan segalanya kecuali aku.”


“Tapi kamu enggak pernah peduli sama siapapun yang berada di sekitarmu.”


“Bisakah kita berhenti?” Shira merasa lelah dengan perdebatan di malam hari.


Tiba-tiba Bara bangun. “Sebaiknya aku pulang sekarang,” pamitnya.


“Apa begitu sopan santunmu dalam bertamu?” sindir Shira. “Setidaknya minumlah kopi itu.”


Bara melirik kopi yang masih berada di atas meja. Kopi di malam hari ….


Lelucon macam apa ini.


Bara kembali duduk. Tidak ada salahnya membedakan diri dari Shira. Dia pun meminum kopi itu.


“Apa kamu sekarang kamu puas?” tanya Bara.

__ADS_1


Shira menaikkan sudut bibir kirinya setinggi mungkin. “Lebih dari puas,” tuturnya.


Bara mengernyitkan dahi. Jujur saja, senyum Shira kali ini amat berbeda dengan senyum-senyum sebelumnya. Shira terlihat menakutkan. Membuat Bara ingin segera lenyap dari tempat ini.


Bara pun bangun. Dia langsung melangkahkan kakinya.


Hanya dalam dua langkah, tiba-tiba Bara merasa mengantuk. Ini aneh. Bukannya setelah meminum kopi harusnya matanya malah terbuka lebar?


Saking mengantuknya, kepala Bara terasa sakit. Dia sudah memegang kepalanya erat-erat. Namun, dia tak berhasil menahan rasa sakit itu. Sampai akhirnya tumbang ….


-oOo-


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2