
Update terakhir buat hari ini, Guys....
Cuz ....
💃💃💃
Tiba-tiba pundak Tiwi terasa disentuh seseorang. Tiwi pun menoleh. Seketika tubuhnya terasa kaku. Bentrokan melanda isi dadanya. Bibirnya tidak berucap, tetapi banyak kata memenuhi pikirannya.
“Benar. Kamu Tiwi rupanya,” ujar seseorang dengan nada suara ramah. Senyum yang membingkai wajahnya begitu panjang, seolah-olah tak pernah ada beban dalam hidupnya.
“Ba-bang Hendri,” akhirnya Tiwi mampu mengucapkan nama itu meski dengan bibirnya yang bergetar.
“Udah lama enggak ketemu. Gimana kabarmu?” tanya Hendri dengan akrab.
“Aku baik,” jawab Tiwi dengan suara lirih. Dia tak berani memandang Hendri. Makanya dia menunduk.
“Dia siapa?” tanya Joffy.
Tiwi menoleh. Tanda tanya tampak jelas di wajah Joffy.
“Dia siapa? Anakmu?” sebelum Tiwi menjawab, giliran Hendri melontarkan pertanyaannya.
Tiwi tidak menjawab. Dia kebingungan sendiri. Tidak mungkin, kan, dia akan mengatakan kalau Joffy adalah anak Zeo. Zeo sendiri belum memberikan izin kepadanya.
“Ibuuu …!” panggil Putri sembari berlari mendekat. Menengahi semua pertanyaan tanpa jawaban itu.
Tiwi menoleh. Kemudian dia meletakkan Putri dalam gendongannya.
Saat tatapan Hendri bertemu bola mata kecil Putri, Hendri melihat sesuatu yang tak asing di wajah kecil itu. Hanya saja dia belum yakin.
“Anak siapa dia?” Kini Hendri menunjuk Putri.
“Anakku,” jawab Tiwi dengan arah pandang menunduk.
__ADS_1
“Maksudku ayahnya,” jelas Hendri.
“Tentu aja suamiku. Siapa lagi?” sahut Tiwi.
“Kamu udah nikah?” Alis kanan Hendri terangkat.
“Apa ada cewek yang punya suami tanpa pernikahan?” suara Tiwi meninggi.
“Oh, maafkan aku,” tutur Hendri merasa tidak enak hati. Sepertinya Tiwi tersinggung.
“Aku cuma heran karena enggak pernah dengar tentang pernikahanmu,” tutur Hendri, “Terus kenapa kamu enggak udang aku?”
“Kayaknya enggak penting juga undang lo ke sana,” sahut suara lain tiba-tiba.
Hendri dan Tiwi menoleh ke belakang bersamaan. Seorang laki-laki tinggi berkaus hitam mendekat dengan menenteng sebuah kantong plastik berisi es krim.
“Satria?” Dahi Hendri mengernyit. Meski sudah lama tak bertemu, dia masih bisa mengingat jelas wajah orang yang hampir menjadi adik iparnya. “Ngapain kamu di sini?”
“Jadi kamu udah nikah?” tanya Hendri.
“Iya. Kami bahkan udah punya dua anak.” Kini Satria duduk di belakang Joffy. Tangannya memegang pundak anak kecil itu.
“Maksudmu—“
“Iya. Kami adalah keluarga bahagia,” tutur Satria memotong ucapan Hendri.
Seketika Tiwi dan Hendri terperanjat. Bola mata mereka membundar sempurna karena penuturan Satria.
“Bagaimana mungkin?” Hendri masih tak percaya itu. Dua orang yang sama-sama pernah terlibat dalam hidupnya, rupanya telah bersatu setelah sekian lama.
“Tentu aja itu mungkin karena enam tahun bukanlah waktu yang sedikit.”
… Di mana cukup untuk memulai hari-hari baru ….
__ADS_1
… Dan cukup untuk melupakan masa lalu ….
-oOo-
Usai menidurkan kedua anak kecilnya, Tiwi beranjak dari kamar. Sebenarnya dia belum habis terkejut karena ulah Satria tadi pagi. Dia harus meminta penjelasan Satria sekarang.
Tok tok tok, suara ketukan pintu dari tangan Tiwi.
“Tuan. Apa kamu ada di dalam?” tanya Tiwi.
Tak lama, pintu kamar itu terbuka. Seorang laki-laki dalam balutan baju tidur abu-abu berada di sana.
“Ada apa?” tanya Satria.
“Aku … butuh penjelasan,” ujar Tiwi memberanikan diri.
Satria langsung mengerti itu. Dia pun membuka pintu kamarnya lebar-lebar. “Masuklah,” titah Satria.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1