
Tak lama, seorang laki-laki yang sebaya dengan Bu Ani keluar dengan ekspresi wajah ogah-ogahan.
“Apa, sih, Bu?” sahutnya. Tidak biasanya istrinya yang pendiam ini terus berteriak seperti itu.
“Lihat itu, Pak!” Bu Ani mengangkat telunjuknya ke depan.
Pandangan Pak Doki berjalan mengikuti telunjuk itu. Dia turut terkejut melihat anak sialannya sudah berada tak jauh darinya.
“Anak kita!” ujar Bu Ani.
“Ze-zeo ….”
Zeo mulai berjalan. Dia mendekati kedua orang tuanya dan menyapa. Saling melontarkan kebahagiaan dalam bentuk ucapan. Kemudian Pak Doki memeluk Zeo dari belakang dan mengajak anak bungsunya ini masuk ke dalam rumah. Ingin segera menjelaskan tentang rasa rindu mereka selama ini.
Zeo benar: mantan orang tua tidak ada dalam kamus mana pun.
Meski Zeo sudah meninggalkan orang tuanya tanpa pamit seperti itu, mereka masih menyambut Zeo seolah anaknya yang baru pulang dari sekolah.
Orang tua benar-benar mengagumkan.
-oOo-
Zeo enak-enak menikmati masa begadangnya di ruang tamu. Dia tengah menikmati bacaan dari kumpulan komik milik kakaknya. Memang enak menjadi orang dewasa. Tidak akan ada orang tua yang menegurnya karena tidak segera tidur atau lampu yang tidak dipadamkan.
Tiba-tiba pintu rumah Zeo terbuka. Ah, sial! Rupanya Zeo lupa menguncinya. Namun, siapa yang datang bertamu malam-malam?
__ADS_1
Zeo menutup komiknya dan meletakkannya di atas meja. Dia pun bangun dan beranjak dari kursinya untuk melihat siapa yang membuka pintu itu. Tidak mungkin angin, kan?
Zeo bahkan tidak merasa kedinginan sedikit pun.
“DAR!”
“Aaah, sial!” umpat Zeo merasa terkejut.
Rupanya orang yang bersembunyi di balik pintu itu adalah Hendri. Usai mengejutkan Zeo, dia malah tertawa tanpa rasa bersalah.
“Dasar kakak sialan! Masih panjang umur rupanya,” umpat Zeo.
Hendri mendaratkan tangannya untuk merangkul pundak adiknya. Sebelum melangkah, dia menyempatkan diri untuk menutup pintu lebih dahulu. Kemudian mendorong tubuh Zeo bersama langkahnya ke arah kursi. Mereka pun duduk di sana.
“Meski sialan, aku ini masih abang tercintamu,” ujar Hendri memamerkan diri.
“Kakak ipar mana? Kamu kok enggak ikut?” tanya Zeo setelah dirinya sendiri merasa lebih tenang.
“Lagi jagain Putra di rumah,” jawab Hendri.
Zeo menaikkan alis kanannya. Nama Putra terdengar asing di telinganya. “Putra? Siapa dia?” tanya Zeo.
“Anakku. Usianya masih empat tahun,” jawab Hendri.
Zeo meringis. Padahal kakakknya yang menikah lebih dahulu, tapi malah anaknya Zeo yang lebih tua.
__ADS_1
“Bukannya besok sekolah masih libur, ya? Itu, lho, gara-gara virus corona,” tanya Zeo.
Hendri menganggukkan kepala. “Iya. Makanya kusuruh di rumah. Biar kalo lewat jalan, mereka enggak bakal ketularan orang-orang di sekitarnya,” tutur Hendri.
“Oh …. Jadi, maksud Abang, kalo abang yang kena virus corona terus mati, enggak papa, ya, Bang?” tanya Zeo dengan bersikap bodoh.
Hendri langsung mengusap wajah Zeo dengan telapak tangannya. Adik satu-satunya itu benar-benar menggemaskan. Selalu saja membuat Hendri ingin sekali menjadikan Zeo sebagai adonan.
“Kamu itu!” seru Hendri.
Zeo malah tertawa. Entah sudah berapa hari dia tidak tertawa lepas seperti ini. Sebelumnya pikirannya hanya disibukkan oleh Bara, Bara, dan Bara. Memang, ya, tidak ada yang lebih baik dari pada keluarga sendiri.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗