Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
11. Putus


__ADS_3

Ah, sialan Tiwi itu! Semua ini gara-gara Tiwi, tetapi perempuan itu tidak bisa disalahkan terhadap apa pun. Tiwi memang benar: tentang laptop itu adalah urusan Tiwi dan Satria. Namun, Tiwi adalah urusan Zeo. Zeo menjadi bingung harus memasang wajah apa saat bertemu Satria.


Zeo sudah membolos dua hari, dia tidak bisa membolos lebih banyak lagi. Jika tidak, guru-guru mungkin akan melaporkannya ke orang tuanya. Jika orang tua Zeo sampai menyuruhnya pulang, lalu bagaimana dengan Tiwi? Dia tidak mungkin akan membawa Tiwi ke dalam rumahnya juga. Lagipula sebanyak apa pun Zeo membolos, dia tidak akan pernah bisa lari dari Satria. Laki-laki itu bahkan mengejarnya sampai ke rumah.


Sesampainya di sekolah, Zeo merasa lega. Pintu gerbang sekolah sudah ditutup. Itu berarti dia telah terlambat. Dia bisa diam-diam masuk ke kelas, tetapi Satria tidak akan bisa mendekatinya. Karena laki-laki itu berada pada kelas yang berbeda dengannya.


Zeo berhasil menjalankan rencana. Namun, rencana itu tidak berhasil penuh seperti yang ada di dalam bayangannya. Dia berhasil mengendap-endap masuk sekolah, tetapi tidak dengan bersembunyi dari Satria. Saat melewati perpustakaan, rupanya laki-laki itu sedang keluar dari sana. Zeo tidak bisa lari karena dia menyadari keberadaan Satria saat Satria menariknya dan menguncinya bersama laki-laki itu di dalam perpustakaan.


“Kenapa lo enggak datang ke pesta gue?” tanya Satria dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


Ah, soal itu … Zeo sudah melupakannya. Pikirannya hanya disibukkan pada laptop baru yang Satria berikan kepada Tiwi. Kini Zeo menjadi kebingungan sendiri.


“Gue datang, kok!” tegas Zeo.


“Kenapa gue enggak tahu?”


“Kan pakai topeng.”


Ah, sial! Maju kena, mundur kena. Zeo tidak mungkin berbohong dan mengatakan kalau dia tidak mengenakan gaun itu. Satria akan merasa diabaikan dan membuat Zeo benar-benar diabaikan oleh dunia. Sedangkan berkata jujur juga bukan pilihan yang tepat. Tidak mungkin Zeo akan mengatakan kalau dia meninggalkan pesta Satria untuk mengejar laki-laki asing dan berciuman dipinggir jalan. Satria telah mengikrarkan diri kalau Zeo adalah kekasihnya. Satria akan merasa dicampakkan dan membuat Zeo benar-benar dicampakkan oleh dunia.

__ADS_1


“Gue beneran datang, kok,” sahut Zeo meyakinkan. “Gue juga pakai gaun dan topeng dari lo.”


“Kenapa lo enggak nemuin gue? Terus ke mana lo enggak pergi sampai besoknya enggak pulang? Bahkan dua hari kemarin lo sampai enggak sekolah.”


Dasar, sialan Tiwi itu! Seharusnya dia cukup mengatakan kalau Zeo sedang tidak ada di rumah. Namun, perempuan itu malah merubah cerita dan melebih-lebihkannya. Satria memang berpikir buruk tentangnya, tetapi laki-laki itu tetap tidak melepaskannya.


“Gue datang ke pesta lo. Waktu lo baru datang, gue dapat kabar kalau temen gue lagi kecelakaan. Jadi gue buru-buru ke sana tanpa pamit,” jawab Zeo berbohong.


“Bukannya lo enggak punya temen di sini? Temen sekamar lo yang bilang.”

__ADS_1


Ah, lagi-lagi Tiwilah yang memperburuk keadaan. Perempuan itu selalu berhasil mengacaukan alur cerita. Entah bagaimana Zeo bisa melupakan kemarahannya terhadap perempuan itu dalam waktu singkat.


“Itu temen gue di kampung. Jadi gue langsung naik bis ke sana.” Zeo masih melanjutkan kebohongannya.


__ADS_2