Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
35. Merayu


__ADS_3

“Sat,” panggil Zeo kepada Satria yang terbaring lemah.


“Apa sih?” sahut Satria.


“Ajarin gue, dong. Please-please-please,” Zeo memohon sampai menyatukan kedua telapak tangannya seperti menyembah.


“Gue bilang enggak, ya, enggak!” tegas Satria.


“Lo kok gitu banget, sih sama temen sendiri. Gue kan pengen dapat nilai tinggi dan itu niat yang baik. Harusnya lo kasih gue bantuan yang terbaik, dong,” bujuk Zeo.


“Karena itulah gue enggak mau ngajarin lo, karena gue takut lo kenapa-napa. Lagian gue enggak pernah mau jadi temen lo, gue maunya jadi pacar lo,” balas Satria.


“Sat …,” rengek Zeo sembari menggoyang-goyangkan tangan pucat Satria. Namun, Satria malah mengibaskannya.


“Berhenti, sih! Udah, sana! Nyapu, bersih-bersih! Bukannya lo ke sini buat kerja?” usir Satria. Kemudian Satria membalikkan tubuhnya sehingga terbaring membelakangi Zeo.


Kini Zeo menggoyang-goyangkan punggung Satria. “Sat …,” rengeknya. Namun, Satria malah melemparkan tangannya. Kemudian menutup telinganya dengan bantal.

__ADS_1


“Sat …,” rengek Zeo untuk terakhir kalinya.


Karena tidak ada harapan, Zeo pun menyerah. Dia mulai membersihkan kamar yang sudah bersih itu. Dia ingin mendapatkan bayaran. Tentu saja dia harus bersusah payah dalam kemudahan.


Pekerjaan Zeo hari itu tidak banyak. Bahkan sebelum petang pekerjaannya telah selesai. Dia tidak ingin langsung pulang karena kamar Satria sungguh terasa nyaman. Cerah, bersih, ber-AC lagi. Nikmat mana yang harus Zeo dustakan?


Zeo melangkah ke tempat belajar Satria. Banyak sekali kertas-kertas kecil yan berisi kata-kata yang tidak bisa Zeo mengerti. Melihatnya saja dia merasa pusing.


Emang, orang genius selalu beda, batin Zeo.


“Apa lo pikir angka delapan puluh bisa langsung keluar di atas kertas ujian lo kalo lo pakai mantra itu?” sindir Satria.


Zeo menoleh. Rupanya Satria telah berada di belakang tubuhnya entah sejak kapan. Zeo pun memundurkan kursinya dan bangun. “Lo udah bangun? Udah baikan?” tanyanya perhatian.


“Apa lo pikir gue bakal baik-baik aja selama mantra lo berdengung di telinga gue? Padahal gue paling benci sama orang bodoh yang malas. Mereka bener-bener nyebelin,” sahut Satria sinis.


“Terus ngapain lo nembak gue?” sindir Zeo.

__ADS_1


“Untung lo cantik,” balas Satria.


Tiba-tiba Satria mendorong Zeo sehingga Zeo terduduk di atas kursi. Lalu mendorong kursi itu sehingga lebih dekat ke meja.


“Ngapain lo?” tanya Zeo.


“Memberantas orang bodoh,” jawab Satria. Kemudian dia pergi menarik kursi lainnya ke samping kursi Zeo.


“Hei! Sesuatu yang terancam punah harusnya dilestarikan!” seru Zeo.


“Gue juga sadar kalo lo mirip komodo, tapi lo manusia, Ze. Sadar diri, dong,” sahut Satria.


Zeo merengut kesal. Siapapun yang jadi istri atau nyokap lo, gue harap mereka adalah orang yang sabar, batin Zeo.


Setelah duduk di samping Zeo, Satria pun menarik buku yang telah dikerjakan Zeo. Dia tengah memeriksa. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak, “Ck-ck-ck-ck. Gue ragu kalo lo sampai bisa juara satu melawan anak SD,” ejek Satria.


“Kalo lo ngehina gue mulu, kapan lo ngajarin gue?!” seru Zeo ketus.

__ADS_1


__ADS_2