Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
70. Karir Playboy Satria Abhi Praya


__ADS_3

Lagi berusaha namatin cerita ini dalam dua minggu. Semoga behasil!


Fighting!


Terima kasih buat yang mau tinggalin like, komen positif, apa lagi poin. Buat yang numpang lewat juga makasih. Itu-itunglah, nambah rupiah 😂


Cuz ....


💃💃💃


“Oke.” Akhirnya Vita setuju. Kemudian dia menyodorkan tangan kanannya. “Kalau lo berhasil tidurin itu cowok, pulau pribadi milik gue yang dikasih bokap waktu ulang tahun gue kemarin, bakal jadi milik lo. Tapi kalau lo gagal, gue enggak minta yang aneh-aneh, deh. Cukup jet pribadi aja. Kebetulan jet pribadi gue yang kemarin, dindingnya ada goresannya dikit. Jadi gue suruh orang buat bakar ke tempat pembuangan sampah.”


Della tahu kalau Vita benar-benar meremehkannya. Masak pulau pribadi dibandingin sama jet pribadi?


Meski begitu, Della tetap menerima jabatan tangan itu dengan senyum lebar. Lagi pula bukan dirinya yang dirugikan dalam taruhan itu.

__ADS_1


Della pun bangun dari sofanya. Dia berjalan dengan penuh percaya dirinya mendekati Satria. Tanpa permisi, dia langsung duduk di samping Satria.


“Hai,” sapa Della.


Satria yang tadinya entah sibuk memandang apa, akhirnya melirik Della. “Oh, hai,” sambut Satria. Dia tersenyum dengan ramahnya.


“Boleh kenalan?” tanya Della sembari menyodorkan tangan kanannya.


Satria menerima jabatan itu. Kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Della. “Kenapa enggak?” sahutnya dengan sudut bibir kanan yang terangkat.


Della hampir saja tertawa. Semua ini begitu menggelikan. Apa laki-laki ini memang semudah ini untuk didekati?


Entah apa saja yang mereka bicarakan, mereka akrab dengan begitu mudah. Della tak menyangka kalau langit sedekat ini untuk digapainya. Bahkan mereka, langsung saja sepakat untuk pulang bersama ….


Tidak-tidak! Ini bukan di mana Satria mengantarkan perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu Satria pulang ke rumahnya sendiri. Namun, pulang bersama ….

__ADS_1


… Pergi bersama-sama ke rumah yang sama.


Della mempersilakan Satria duduk di atas sofa di ruang tamunya, sedangkan dirinya pamit pergi ke dalam rumah. Tak lama, dia kembali bersama dua gelas berkaki dan sebotol wine.


“Apa rumah lo selalu sepi kayak gini?” tanya Satria.


“He’em,” sahut Della. Kemudian dia meletakkan kedua gelas itu ke atas meja sedangkan dirinya memindah isi botol tadi ke dalam kedua gelas itu. Kini giliran botol tadi yang Della letakkan ke atas meja, menggantikan posisi si kedua gelas. Barulah Della duduk di samping Satria.


“Ini,” tutur Della sembari menyodorkan segelas kepada Satria, sedangkan segelas lagi dia minum sendiri.


“Orang tua gue tinggal di rumah utama. Jadi, gue lebih suka kesepian ini biar gue bisa lebih mudah mengisinya dengan keramaian yang gue mau,” jelas Della dengan sudut bibir kiri yang menaik.


Satria meletakkan satu gelas tadi ke atas meja. Kemudian dia menghadap Della. Tangan kirinya merayap di atas lengan Della, lalu berakhir di tangan Della yang masih memegang gelas. Satria menarik gelas itu. Lalu meletakkannya di atas meja.


“Jadi, lo tinggal sendirian di sini?” tanya Satria dengan suara lirih.

__ADS_1


Tanpa permisi, Della menggantungkan kedua tangannya ke belakang leher Satria sehingga wajahnya benar-benar menjadi dekat. Sudah Della duga: tidak ada laki-laki yang tidak akan tertarik padanya. Sepertinya Vita hanya berusaha menakut-nakutinya. Laki-laki ini bahkan lebih mudah dari pada laki-laki mana pun.


“Iya. Tapi itu dulu. Sekarang, kan, enggak. Soalnya lo ada di sini,” balas Della dengan suara yang sama lirihnya. Nada yang keluar seolah nyanyian yang menggoda. Membuat lawannya jatuh hati saja.


__ADS_2