
“Enggak tahu, ah!” Satria muak menjawabnya. Apa lagi kalau ada sangkut paut dengan ayahnya. Dia sungguh muak dengan orang itu.
“Udah. Gue balik ke kamar dulu,” pamit Satria. “Mulai besok gue bakal pindahin barang-barangnya Joni ke sini.”
“Baiklah.” Tiwi mengangguk.
Satria mengalihkan perhatiannya ke arah Joffy. Rupanya anak kecil itu tengah berbincang dengan Putri, dalam posisinya yang setengah berbaring.
Dia benar anaknya Zeo, kan?
Lalu kenapa Satria melihat bakat playboy-nya akan menurun ke Joffy?
“Joni!” panggil Satria.
Joni, eh, Joffy menyudahi obrolannya. Dia pun bangun dan menengok ke arah Satria.
“Iya, Kak,” sahut Joffy. Akhirnya dia menerima bagaimana Satria menyebut namanya.
“Ayo balik!” seru Satria.
Joffy memasang wajah manyunnya. “Kata Kakak aku bakal tinggal di sini?” protesnya.
Bukannya tadi Joffy yang menolak untuk tinggal di sini?
“Apa lo kira gue sangat seneng bisa sekamar ama lo?” sindir Satria.
“Mulai besok puas-puasin tinggal di sini,” imbuh Satria.
Joffy pun beranjak dari ranjang. Dia berjalan mengikuti Satria menuju kamarnya sendiri.
-oOo-
__ADS_1
Sepulang menjemput Putri dari sekolah bersama Joffy, Tiwi membawa kedua anak itu ke taman bermain. Memberikan waktu bagi mereka berdua untuk mengadu keakraban masing-masing.
Ha …. Akhirnya Tiwi bisa bernapas lega. Meski jabatannya kini tidak setinggi yang dulu, setidaknya Tiwi bisa memiliki waktu lebih luas. Dia juga bisa membagi waktu lebih banyak untuk putrinya. Bisa bekerja sembari merawat anak sendiri. Gaji dua kali lipat lagi.
“Tiwi?” terdengar suara tak asing yang sudah sangat lama tak menjumpai telinga Tiwi.
Tiwi menoleh. Bola matanya membundar seketika. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dan tubuhnya menjadi bergemetar.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” imbuh suara itu.
Tiwi tidak menjawab. Dia bergegas mendekati Putri dan Joffy. Lalu menggendong kedua anak itu bersamaan. Meski keduanya sangat berat, Tiwi tetap mampu berlari. Berlari dari masa lalu yang sudah dia tinggalkan sejak lama.
Kenapa laki-laki itu bisa ada di sini?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa Tiwi harus terlibat lagi?
-oOo-
“Tiwi udah punya anak? Kapan dia nikah? Kenapa aku enggak pernah tahu?” gumam laki-laki itu keheranan.
“Ayaaah …,” teriakan dari seorang anak kecil.
Laki-laki itu menoleh. Rupanya buah hatinya yang datang.
Seorang anak laki-laki kecil berlarian menuju laki-laki itu. Sedangkan laki-laki itu membuka tangannya lebar-lebar. Bersiap menangkap buah hatinya. Kemudian menggendong setinggi mungkin. Memamerkan betapa hebatnya anaknya ini.
Seorang perempuan pendek turut berjalan mendekatinya. Rupanya dia terus mengikuti anak kecil itu sedari tadi.
“Mas Hendri, ayo pulang,” ajak perempuan itu.
__ADS_1
Laki-laki yang kerap disebut Hendri itu tersenyum. Kemudian memeluk punggung perempuan itu.
“Ayo, Sayang,” tuturnya menerima ajakan perempuan tadi.
-oOo-
Ha …. Zeo bernapas lega.
Keluar dari bandara, udara Bali langsung mencumbui hidungnya.
Ah, udara ini ….
Karena selalu tinggal di desa, Zeo tidak pernah bermimpi bisa sampai ke sini. Bisa tinggal di kota saja sudah untung-untungan.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh punggung Zeo. Zeo menoleh. Itu adalah Bara. Tangan kanan Bara sibuk menggeret sebuah koper besar. Maklum, mereka memilih menyatukan barang-barang mereka dalam satu koper saja. Lalu tangan kiri Bara sibuk menjaga Zeo. Takut-takut kalau ada orang yang menjabret Zeo dari belakang.
Tentu saja itu tidak mungkin ….
.
.
.
.
Babang Bara ngebucin ceritanya? 🤔🤔
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗