Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
53. Selamat Menikah


__ADS_3

Zeo comeback 🤗🤗


Tolong sisihkan like dan komentar positif untuk si sutor 😥 cuma itu doang, kok 🤗


Cuz ....


💃💃💃


Satria memutuskan mengganti arah. Dia pun melangkahkan kakinya menaiki tangga itu. Dia masih penasaran akan kenapa Zeo bisa turun dari sana. Rupanya pintu di sana masih terbuka. Bagaimana bisa? Siapa yang berani masuk ke sana begitu saja? Guru bahkan tidak diizinkan!


Satria masuk ke dalam pintu. Dia terperangah. Rupanya masih ada seseorang di dalam sana: Bara yang duduk dengan wajah sayu.


“Kenapa Anda ada di sini?” tanya Satria.


Bara mendongak. Dia langsung menyelimuti wajah sedihnya dengan senyuman. “Eh, kamu, Nak,” sapanya. Dia langsung bangun.


“Kenapa juga Zeo bisa turun dari sini?” tambah Satria.


“Enggak tahu sejak kapan, rupanya dia udah sering ke sini. Jadi saya memergokinya dan menegurnya untuk tidak kemari lagi. Aku harap kamu bisa mengerti alasanku,” jelas Bara berbohong.


“Oh, begitu ….” Satria tidak memperpanjang semua ini. Lagi pula Zeo sudah tidak mau berbicara dengannya. Tidak ada gunanya membela.

__ADS_1


“Saya dengar Anda akan menikah,” kata Satria mengalihkan topik. Arah lirikannya ke samping. Dia enggan menatap Bara yang akan mengutarakan jawabannya.


“Enggak. Aku enggak akan nikah, kok. Itu sekadar alasan. Aku hanya ingin keluar dari sekolah ini,” tutur Bara.


“Meskipun benar, saya juga enggak keberatan kok. Kamu bisa menikah dengan siapapun dan berapapun,” timpal Satria.


“Aku enggak mau semua itu karena aku masih ingin bertanggung jawab kepadamu,” tegas Bara.


“Makanya saya lebih senang kalau Anda menikah. Itu berarti Anda bisa jauh dari saya!” tutur Satria.


“Jadi kamu baik-baik aja jika aku pergi?” tanya Bara.


Satria mengangkat sudut bibir kirinya. Apa Bara tidak tahu itu sebelumnya?


“Sebenarnya aku sedang berpikir untuk pergi dari tempat ini,” tutur Bara.


“Maka pergilah. Sejauh mungkin!” usir Satria.


Lagi pula ayahnya tidak pernah ada dalam kehidupannya. Jadi, mana ada kepergian?


Semua sama saja ….

__ADS_1


… Takkan merubah apa pun.


-oOo-


“Apa lo gila, Ze!” seru Tiwi di ujung rasa kesalnya. Tinggal sedikit lagi dia akan terjatuh ke dalam jurang. Entah jurang apakah itu ….


Sebenarnya Zeo tengah mengutarakan keputusannya. Dia berniat untuk merawat bayi itu sendirian tanpa harus mengusik kehidupan ayahnya. Tentu saja Tiwi sangat tidak setuju dengan itu. Apa Zeo kira, semua orang senang punya anak?


“Mau gimana lagi ….” Zeo melirik ke samping. Tidak berani melihat mata Tiwi yang berapi-api.


“Gue enggak kuat buat ngehancurin kebahagiaannya, Wi,” jelas Zeo.


“Lo yang tegas, dong, Ze! Jadilah Zeo seperti biasanya yang egois! Jangan jadi seperti gue!” seru Tiwi menggantikan hati egois Zeo yang tidak bersuara lagi.


“Bukannya lo sendiri yang bilang kalo inilah cinta? Gue juga cinta sama dia! Sama kayak lo!” tegas Zeo.


“Siapa dia?! Lo bahkan belum pernah nyebutin namanya ke gue! Apa dia Satria?” tuduh Tiwi. Setahunya, hanya Satria, laki-laki yang mengisi kehidupan Zeo.


“Enggak. Gue bahkan udah lama enggak ngobrol ama dia,” elak Zeo.


“Terus siapa? Bilang ke gue!” seru Tiwi. Dia semakin frustasi saja. Entah apakah ini baik atau tidak bagi kandungannya sendiri.

__ADS_1


“Gue enggak akan bilang ke lo!” Zeo semakin menegaskan.


__ADS_2