
Bagi like sama komentarnya, kuy 🤗
Cuz ....
💃💃💃
Della mendekatkan wajahnya ke Satria, lebih tepatnya bibirnya. Dengan cepat Satria memahami itu. Dia pun menggerakkan tangannya di atas wajah Della. Menyisihkan rambut yang masih menutupi wajah itu, lalu mengusap kulit putih dan halus itu. Satria juga sama. Dia juga mendekatkan bibirnya ke Della.
Brak! Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras.
Della dan Satria langsung menghentikan pergerakan mereka. Namun, hanya Della yang menoleh ke arah pintu itu.
Dua laki-laki bertubuh besar dan seorang perempuan paruh baya baru saja masuk dari pintu itu. Mereka semua berpakaian formal warna hitam dan mengenakan kacamata hitam. Apa-apaan mereka ini? Apa mereka akan melayat?
Lalu, apa maksud kacamata hitam di malam hari?
Siapa mereka sebenarnya?
“Siapa kalian?” tanya Della dengan wajahnya yang berubah menjadi panik. Semua orang itu membuka pintu rumahnya tanpa permisi. Sedangkan Della tak mengenali mereka semua sama sekali.
Ketiga orang itu berjalan kaku dengan tubuh tegap, dengan posisi perempuan itu berada di depan kedua laki-laki tadi.
“Tuan. Ini sudah waktunya pulang,” tutur perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
Della menoleh ke arah Satria. Apa perempuan itu berbicara pada Satria?
Bibir Satria masih tidak bergerak. Namun, tangannya malah melepaskan kedua tangan Della dari lehernya. Membuat Della semakin bertanya-tanya akan apa yang terjadi di sini.
“A-apa yang terjadi?” tanya Della gelagapan.
Satria mengangkat tangannya. Kedua matanya melirik ke arah jam yang melingkari pergelangan tangannya.
“Rupanya udah larut malam. Gue harus pulang,” tutur Satria. Dia pun bangun.
Della yang masih terperangah ikut bangun. “Ta-tapi, kan, kita belum melakukan apa-apa,” protes Della. Bahkan kedua bibirnya saja belum sampai.
“Kayaknya lo benar-benar enggak kenal gue, ya?” tebak Satria.
Dahi Della mengernyit. Apa itu penting?
“Gue enggak cuma dikenal sebagai Satria Abhi Praya. Cowok yang udah kaya sejak masih balita. Gue paling dikenal dengan prinsip gue: satu hari satu cewek. Karena ini udah malam, sorry, gue enggak bisa ngehabisin waktu gue sama lo,” tutur Satria.
“Kalau gitu, apa kita bisa ketemu besok?” tawar Della.
Satria melirik ke atas. Berusaha mengingat-ingat jadwalnya yang selalu dipenuhi kesibukan.
“Sorry. Besok gue ada janjian sama Novita,” jawab Satria menyesal.
__ADS_1
“Kalau lusa?”
“Ada si Laras yang udah kejar-kejar gue selama dua tahun. Kasihan gue.”
“Kalau lusanya lagi?”
“Lusanya lagi, kan, hari Sabtu. Gue libur, dong!”
Apa ini yang namanya playboy berkarir?
“Terus kapan, dong? Gue pengen kencan sama lo” –lebit tepatnya ingin pulau pribadinya Vita.
“Antrean gue masih banyak. Seenggaknya lo harus tunggu tiga bulan lagi. Ada hampir seratus cewek yang nunggu gue,” tolak Satria.
“Enggak usah!” seru Della saking kesalnya.
Menunggu tiga bulan?
Apa maksud Satria, Della harus menikah dulu agar bisa berkencan dengannya?
Membuat KTP saja tidak seperti ini.
Satria tersenyum sinis. Kemudian dia bergerak ke samping dan mulai mengangkat kakinya dari rumah ini.
__ADS_1
Tak perlu aba-aba, ketiga orang tadi langsung mengikutinya. Mereka pun pulang dengan menaiki sebuah mobil mewah berwarna hitam. Tak lama, mobil itu pun lenyap dari halaman rumah Della.
Sesampainya di kediaman Satria, Satria langsung berpisah dari ketiga orang tadi. Sedangkan ketiga orang tadi masuk rumah dengan sambutan dari Tiwi.