
Zeo mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Padahal dia sudah datang sejak tadi.
“Sebenarnya gue udah datang pagi banget buat jadi orang pertama yang lihat nilai itu. Terus gue ke sini selama ini buat nunggu lo. Eh, ternyata malah kelewatan,” tutur Satria sembari menggaruk-garukkan kepalanya.
“Emang kenapa?” tanya Zeo.
Satria tak berhenti menggaruk-garuk kepalanya. Kutu tidak benar-benar bersarang di sana, kan?
Tiba-tiba Satria mengulurkan tangannya kepada Zeo. “Selamat …,” katanya.
Kini Zeo malah menaikkan alisnya sebelah. Kemudian dia turut mengangkat tangannya. Namun, kedua tangan itu masih belum bersentuhan.
“Selamat karena berhasil dapatin nilai delapan puluh dan selamat karena jadi pacar seorang Satria Abhipraya,” akhirnya Satria menyelesaikan kalimatnya.
Tangan Zeo bergetar. Akhirnya tangan itu menurun. Dia melihat wajah Satria yang dipenuhi senyuman kini malah dipenuhi tanda tanya. Mengingat senyum itu, Zeo merasa bersalah.
“Ma-maaf, Sat,” katanya menjadi lemas.
“Kenapa? Bukannya harusnya terima kasih?” sahut Satria.
“Terima kasih juga,” tutur Zeo.
Senyum telah kembali mengisi wajah Satria.
__ADS_1
“Tapi gue enggak bisa nerima lo jadi pacar gue,” imbuh Zeo.
Jleb! Hati Satria terjatuh seketika.
“Enggak bisa gitu, dong! Ini kan perjanjian kita kalau lo berhasil dapatin nilai enam puluh matematika, lo harus jadi pacar gue!” protes Satria.
“Tapi gue enggak dapatin nilai ini karena lo!” tegas Zeo.
“Apa maksud lo? Jangan bilang kalo ini cuma alasan biar lo bisa nolak gue karena gue enggak akan lepasin lo!” kata Satria memperingatkan.
“Lo mungkin enggak percaya, tapi bukan lo yang bikin gue bisa dapatin nilai ini, tapi orang lain. Gue bahkan enggak lagi nyentuh barang-barang lo. Dan barang-barang lo gue tinggal di perpustakaan selama ini,” jelas Zeo.
“Enggak mungkin!” elak Satria, “Enggak mungkin di sini ada orang lain yang lebih pinter dari gue sampai bisa bikin lo dapat nilai setinggi itu! Siapa dia?!”
“Ze ….”
“Sorry, Sat.”
Pelan-pelan Zeo melangkah mundur. Kemudian akhirnya ia berlari. Dia sangat takut kalau Satria sampai mengejarnya. Rupanya dia terlalu berlebihan dalam berpikir. Kenyataannya Satria tak bergerak sedikit pun. Kakinya bahkan terasa lemas untuk berdiri.
***
“Hehe ….” Zeo terus cengar-cengir di depan Bara. Sedangkan Bara menatapnya dengan dingin dan wajah bertanya-tanya.
__ADS_1
“Bapak tahu enggak apa kabar baiknya?” tanya Zeo.
“Apa?” sahut Bara.
“Saya dapat nilai delapan puluh, Pak!” seru Zeo penuh semangat.
“Oh, gitu.” Bara masih tak bereaksi seperti yang Zeo harapkan. “Selamat, ya,” tutur Bara disertai senyum tipis.
“Reaksi Bapak kok gitu doang, sih?” protes Zeo.
“Emangnya saya harus gimana? Kalo kamu butuh hadiah, minta sama orang tua kamu.”
“Tapi saya maunya hadiah dari Bapak!”
“Kenapa saya harus kasih kamu?”
“Karena mulai hari ini Bapak udah jadi pacar saya!”
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih buat kalian yang udah sabar menunggu. Sekarang aku usahakan buat update lancar setiap hari karena Alhamdulillah aku udah nyelesaiin ketikannya. Jadi selamat datang di babak yang bakal bikin kalian greget. Selalu like dan koment, okay!