
“Lo udah pulang, Ze?” sapa suara Tiwi di belakang Zeo.
Zeo langsung berbalik. Tiwi baru saja masuk dengan kepala berbalut handuk. Rupanya perempuan itu baru mandi.
“Kenapa foto ini bisa ada di kamar ini?” tanya Zeo. Dia menunjukkan foto itu kepada Tiwi.
Tiwi terkejut. Hampir saja membelalak. Untungnya dia berhasil menyembunyikan wajah aslinya.
“Oh … itu … gue juga enggak tahu,” jawab Tiwi berbohong. Dia bahkan menggaruk-garuk kepalanya yang terbalut handuk. “Lo paling.”
“Enggak mungkin. Kakak gue adalah orang yang paling gue benci di dunia karena dia adalah anak kesayangan bokap-nyokap gue,” elak Zeo.
Tiwi berdecak. Dia duduk di atas ranjang dengan santai. “Gimanapun, dia tetap kakak lo. Mungkin aja lo lupa,” balas Tiwi menyangkal.
“Tapi gue nemunya di dalam bantal,” tegas Zeo.
“Terus, lo pikir gue yang bakal bawa, gitu?” Tiwi merasa geli.
“Iya,” jawab Zeo dingin. Wajahnya sangat serius.
Tiwi langsung tertawa. “Lo kira gue apaan sampai nyimpen foto kakak lo?”
“Gue kira lo sempat berhubungan sama dia.” Akhirnya Zeo berhasil menyudutkan Tiwi hingga berada pada jalan buntu.
__ADS_1
Seketika wajah berseri Tiwi menghilang. Wajahnya ikut serius. “Hei, apa maksud lo?” tanya Tiwi sinis.
Zeo pun bangun. Dia membanting foto itu di samping tempat Tiwi duduk. “Lo yang apa maksud lo?!” sentak Zeo. “Gue tahu kalian pernah dekat, tapi gue enggak nyangka kalo … kalo kalian ….” Ah, Zeo tidak kuat mengatakan.
“Enggak gitu, Ze,” tahan Tiwi.
“Kalo kalian bakal sejauh ini.” Akhirnya Zeo berhasil menyelesaikan kalimatnya. “Gue benar-benar enggak nyangka kalo kalian bakal berbuat senekad ini! Sekarang jawab, apa anak dalam kandungan lo ini anak kakak gue?”
“Enggak gitu, Ze ….”
“Jawab, kok!” sentak Zeo lebih keras.
“Anak gue enggak ada sangkut-pautnya sama kakak lo. Ini benar-benar anak gue, Ze,” kata Tiwi meyakinkan.
“Dan lo enggak nyangkal kalo kakak gue adalah ayah dari anak ini,” simpul Zeo.
“Kenapa lo enggak pernah kasih tahu gue?!” Zeo merasa frustasi.
“Gi-gimana gue bisa ngomong, Mas Hendri kan udah nikah?” Akhirnya Tiwi mengaku.
“Seenggaknya lo harus ngomong ke gue, biar gue bisa tampar kakak gue!” seru Zeo.
“Jangan, Ze. Ini emang keputusan gue. Mas Hendri bahkan enggak tahu apa-apa soal kandungan gue.” Tiwi menjadi cemas.
__ADS_1
“Kenapa lo enggak kasih tahu?”
“Gimana gue bisa kasih tahu, sedangkan Mas Hendri udah suka sama cewek lain. Gue takut kandungan gue bakal nyakitin dia.”
“Dasar Bodoh!” umpat Zeo.
“Lo enggak bakal ngerti perasaan gue sebelum lo tahu rasanya jatuh cinta sepenuh hati.”
“Enggak. Gue enggak bakal ngerti perasaan lo sampai kapan pun,” elak Zeo penuh keyakinan. “Bukan karena gue enggak jatuh cinta, tapi karena gue bukan orang bodoh. Gue bakal jatuh cinta, tapi setengah hati, setengah pikiran.”
Zeo bergegas keluar dari kamar itu. Kamar yang sempit itu hanya dipenuhi udara yang menyesakkan.
Tiwi pun ikut bangun dan keluar dari pintu. “Ze, lo mau ke mana?” tanya Tiwi khawatir.
“Enggak usah peduliin gue, peduliin aja kakak gue,” jawab Zeo sebelum pergi.
“Tapi ini udah malam, Ze,” kata Tiwi berusaha menahan Zeo. Namun, Zeo telah pergi. “Ze!”
Zeo berlari sekencang mungkin. Saat berhenti dan mendapati dirinya kehabisan napas, udara jalan yang secara serakah ditariknya membuatnya merasa sedikit lebih baik. Dia bahkan berhasil menghentikan tangisannya. Itu membuat Zeo melakukannya tanpa henti.
.
.
__ADS_1
.
Selalu like dan koment🤗