
Kemarin niatnya mau update siang. Tapi malah gak buka2 laptop. Maafkan aku 😭😭 biar kubayar kekosonganku yang kemarin hari ini. Semoga tetep suka 🤗
Cuz ....
💃💃💃
Usai menenangkan diri sendiri, Tiwi melanjutkan langkahnya. Dia berusaha memberanikan diri untuk menemui Hendri secara baik-baik dan melontarkan kata maaf. Lagi pula kebohongan sudah terbongkar. Apa lagi yang harus ditakutkan?
Berbeda dari biasanya, kini Hendri hanya berdiri di depan bangku sembari menyembunyikan tangannya di dalam saku celana. Tiwi pun berdiri di sampingnya tanpa duduk pula.
“Ba-bang,” sapa Tiwi.
Hendri menoleh. “Kamu udah datang,” sambutnya.
Tiwi jadi kebingungan. Hendri hanya diam seolah tidak ada yang perlu dikatakan. Lalu untuk apa laki-laki itu memanggil Tiwi kemari?
Tiwi pun menoleh. Kemudian dia membungkuk berulang-ulang. “Maafkan aku, Bang. Maafkan aku,” tutur Tiwi. Dia sadar benar akan kesalahannya.
“Udahlah. Enggak usah ngomong gitu. Lagian terlalu sulit buat aku kasih maafku ke kamu,” timpal Hendri ogah-ogahan.
__ADS_1
Tiwi terperangah. Apa artinya permintamaafan darinya sudah ditolak?
“Aku ke sini cuma mau ngucapin selamat tinggal ke kamu,” tutur Hendri.
“Abang mau pergi ke mana?” tanya Tiwi.
“Bukan aku. Tapi kamu,” timpal Hendri.
“Ha?” Tiwi tidak mengerti.
“Permainan kamu udah selesai. Udah cukup kamu mainin keluarga aku: dari hilangnya Zeo, pernikahan palsumu dan Satria, dan seluruh tipuanmu itu. Aku udah enggak mau ada permainan lain lagi yang kamu mainin ke aku dan keluargaku,” jelas Hendri.
“Aku cuma mau kamu diam, bukannya berdalih padaku. Apa kamu pikir dengan membela dirimu seperti seorang pahlawan, aku akan jatuh cinta lagi sama kamu?” Hendri tersenyum sinis. “Kalau kamu mikirnya kayak gitu, kenyataannya kamu salah. Aku bahkan enggak pernah mencintaimu sedikit aja. Jadi, rencanamu berpura-pura menikah sama Satria buat bikin au cemburu itu percuma. Kenyataannya aku enggak terpengaruh sedikit pun.”
Akhirnya Tiwi terdiam. Kakinya terasa lemas, tetapi lututnya masih bisa bertahan. Dia tak lagi mau bicara. Percuma saja. Saat dia mengeluarkan satu kata saja, Hendri akan membalasnya dengan sepuluh kalimat yang tidak sesuai sedikit pun dengan makna kata darinya. Dia hanya akan semakin tersudut.
“Udah enggak ada yang perlu dijelasin lagi, kan?” tanya Hendri.
Tiwi mengangguk.
__ADS_1
“Kalau gitu aku balik dulu. Aku ada janji buat kencan malam sama istriku nanti. Kuharap kamu segera memiliki teman kencanmu sendiri dan ngelupain aku,” ujar Hendri sembari pamit. Kemudian dia pergi begitu saja.
Jadi, Hendri memaksa bertemu Tiwi hanya untuk semua ini?
… Semua perkataan tidak berguna ini?
Heh ….
Tiwi terduduk lesu di atas bangku. Kepalanya menunduk. Tidak lagi kuat mengangkat. Kepalanya terasa berat. Seluruh hal tengah memenuhi pikirannya. Akan tetapi, ada satu yang akhirnya keluar: masalahnya dengan Hendri telah selesai: hanya itu yang berhasil membuatnya bernapas lega.
Sedangkan dari kejauhan, sepasang mata sudah mengawasi pembicaraan kedua orang tadi. Mata itu menjadi sayu saat menemukan Tiwi terjatuh lemah di atas bangku. Bibirnya bahkan tak kuat menggaris lurus. Kedua sudutnya seolah berisi batu yang berat. Napasnya ikutan memberat. Pemilik mata itu bisa merasakan dengan benar bagaimana perasaan Tiwi sekarang.
-oOo-
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗