Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
87. Bulan Madu 2


__ADS_3

Bara berjalan pelan di depan Zeo dengan celana selutut berwarna denim yang dipadukan dengan kemeja. Rambutnya pendeknya juga bergoyang dalam iringan sang angin. Kacamata yang dia bawa sedari tadi dibiarkan menggantung di kemejanya. Terlalu disayangkan kalau kecantikan Zeo sampai harus terhalang oleh warna hitamnya.


“Lihatlah ….” Bara membuka tangannya sehingga menunjukkan para pengunjung lain yang kebanyakan mengenakan baju renang.


“Apa kamu enggak merasa aneh, ke pantai dengan mengenakan pakaian berbeda seperti itu?” sindir Bara.


“Lalu apa keuntungan yang kudapatkan sehingga aku harus seperti mereka?” tanya Zeo.


“Merasa nyaman mungkin?” tebak Bara.


“Bagaimana aku bisa nyaman kalau suamiku tidak?” timpal Zeo.


“Tapi aku merasa nyaman saja,” sahut Bara.


Zeo tertawa pelan. Apa Bara sedang mengujinya?


Zeo melangkah ke depan mendekati Bara. Kemudian tangannya mengalung di balik leher Bara.


“Untuk apa berbohong?” bisik Zeo.


“Kalau aku tidak berbohong?” sahut Bara.


“Apa seorang suami akan nyaman kalau laki-laki lain merasa nyaman saat menatap istrinya?”


“Bagaimana kamu tahu itu?”

__ADS_1


“Karena begitu pun denganku ….”


“Lalu bagaimana kalau aku sampai menarik perhatian perempuan lain?”


“Coba saja membuatku tidak nyaman. Maka aku akan meninggalkanmu di sini.”


“Waaah …. Kamu membuatku ketakutan.”


Zeo menjijitkan kakinya agar mulutnya menyamai posisi telinga Bara. Dia mengatakan sesuatu dengan sangat lirih. “Ini adalah kebenaran. Silakan coba dan aku akan membuktikan,” ancamnya.


Bara menaikkan sudut bibir kirinya. Ini membuat bulan madunya semakin menarik. Tiba-tiba kaki Zeo terangkat. Itu karena Bara langsung mengangkatnya dan memikulnya di bahu. Membuat Zeo terperanjat dan menjerit seketika, “WAAA …!”


“Sekarang aku akan mencobanya. Maksudku, membuatmu merasa tidak nyaman,” tutur Bara.


“A-apa yang mau kamu lakukan?!” jerit Zeo merasa ketakutan.


Air yang mencumbui tubuh Zeo membuat Zeo tidak segera sadar dari rasa terkejutnya. Dia pun bangun. Kemudian membersihkan air yang memenuhi wajahnya. Kini wajahnya berubah menjadi kesal.


“Lihatlah! Gara-gara ulahmu bajuku jadi basah!” protes Zeo.


Bukannya merasa bersalah, Bara malah tertawa. Dia tidak menyesal sedikit pun.


“Tinggal beli baju aja, apa susahnya, sih?” sindir Bara.


“Ingatlah. Kamu bukan anakmu. Jadi kamu enggak sekaya itu sampai membuatku bisa memilih terserah baju mana yang aku mau,” ejek Zeo.

__ADS_1


“Siapa bilang cuma orang kaya yang bisa melakukan itu?” Bara tidak mau kalah.


“Emangnya kamu bisa?” Zeo meremehkan.


“Iya, dong. Aku, kan, punya cinta.”


Bara kembali menarik Zeo sehingga bergelut di dalam air. Tak lama, mereka sama-sama terbangun. Tidak seperti sebelumnya, mereka malah mengeluarkan tawa satu sama lain.


Bisa membeli apa pun dengan cinta?


Apa itu benar-benar ada ….


… Atau sekadar gombalan para pria?


Ah, entahlah.


… Yang penting Zeo cinta.


-oOo-


Sebenarnya Zeo dan Bara pergi ke penjual pakaian bersama-sama tadi. Namun, menunggu Zeo memilih sama seperti menunggu hujan di tengah-tengah musim kemarah. Hanya menjadi sekadar harapan.


Jika Bara terus memilih, mungkin dua lemari akan penuh dengan pakaiannya, sedangkan Zeo bahkan belum menemukan satu setel saja.


Dasar perempuan! Berpakaian, mah, pakai apa saja! Tinggal pakai saja, kok, susah sekali; yang penting, kan, menutupi tubuh: seharusnya itu sudah cukup.

__ADS_1


Akan tetapi, itulah yang namanya perempuan. Sebelum mampu menyamai cetar membahanya Syahrini, mereka tidak akan menyerah dengan mudah.


__ADS_2