Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
37. Tantangan


__ADS_3

“Gimana caranya? Baru aja lo cabut pekerjaan gue,” protes Zeo.


“Kalo lo bisa dapat nilai enam puluh matematika, lo harus jadi pacar gue,” jelas Satria.


Enam puluh? Apa dia ngerendahin gue? batin Zeo tersinggung.


“Gue bakal dapat nilai delapan puluh, tapi gue enggak bakal mau jadi pacar lo gitu aja,” tutur Zeo.


Satria langsung menarik kardus itu. “Ya udah. Belajar sendiri aja sana,” katanya ketus.


“Eh-eh!” Zeo menghentikan tarikan Satria. “Jangan, dong! Gue butuh banget, nih!” pinta Zeo.


“Berarti lo setuju sama syarat gue?” ancam Satria.


Dengan terpaksa Zeo mengangguk. Kemudian dia pulang bersama kardus itu.


Ah, sial! Mendapat nilai delapan puluh saja Zeo sudah kesulitan. Kini dia masih harus membagi pikirannya untuk mencari cara menghindari syarat Satria.

__ADS_1


Gue enggak yakin bisa belajar baik dengan semua pikiran ini, batin Zeo frustasi.


***


Waktu istirahat sekolah tiba. Zeo menoleh ke belakang: ke arah tasnya. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Tidak menyangka bisa menjadi seperti seorang murid teladan: tasnya begitu penuh. Semua barang dari Satria berada di sana.


Zeo berdesah lelah. Mulai sekarang ke mana-mana dia akan membawa tas berat itu. Dia pun bangun dan bergegas pergi ke perpustakaan.


Melihat perpustakaan sangat ramai, bisa diduga kalau Satria belum sekolah. Laki-laki itu pasti terbaring lemah seperti kemarin.


Atap sekolah memang tempat paling nyaman di sekolah ini. Udaranya begitu segar, tidak bising, dan tidak ada siapapun. Pantas saja Bara menyukainya. Zeo pun belajar di sana mulai hari ini dan beberapa hari ke depan.


Zeo mulai berangkat sangat pagi dan pulang saat hari telah petang. Dia benar-benar serius dalam belajarnya. Jika belajar di rumah, dia khawatir Tiwi akan sangat terkejut. Tentu saja itu tidak akan baik untuk kandungannya.


Hari ini Zeo terus berdengus. Rupanya darah sampai mengalir melalui hidungnya. Zeo hanya fokus pada belajarnya sehingga mengabaikan rasa sakitnya. Tiba-tiba sekotak tisu disodorkan di depannya. “Ini,” kata seseorang.


Zeo mendongak. Semringah langsung memenuhi wajahnya. “Eh, Pak Bara,” katanya. Dia pun langsung bangun sehingga menjatuhkan bukunya. Zeo merunduk untuk mengambil bukunya, tetapi Bara lebih dulu mengambilnya dan meletakkannya di atas bangku bagian samping Zeo.

__ADS_1


“Apa kamu pikir bisa dapat nilai tinggi dengan cara belajarmu yang seperti itu?” tegur Bara. Wajahnya terlihat kesal.


Zeo meringis. “Tentu, Pak. Saya—“


“Jangankan nilai keluar, kamu bahkan enggak akan bisa ikut ujian,” sahut Bara memotong perkataan Zeo.


“Apa maksud Bapak? Kenapa saya enggak bisa ikut ujian?” tanya Zeo.


“Gimana orang mati bisa ikut ujian?” sahut Bara.


Zeo berdesah kesal. “Kalau Bapak cuma mau nyindir saya, pergi aja, deh, Pak. Soalnya saya fokus mau dapatin nilai DELAPAN PULUH matematikan,” usir Zeo dengan menekankan kata ‘delapan puluh’.


Zeo menarik bukunya dan bersiap belajar lagi. Namun, Bara malah merebutnya dan meletakkan buku itu di tempatnya lagi.


“Pak …,” rengek Zeo.


Zeo berusaha mengambil bukunya lagi, tetapi Bara langsung mendorong tangannya. Bara pun menggeser buku tadi dan menghadang Zeo dengan duduk di antara Zeo dan buku itu. Kemudian menarik wajah Zeo sehingga menghadap ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2