Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
42. Penolakan


__ADS_3

“Tapi saya enggak pernah mau jadi pacar kamu!” tegas Bara.


“Terserah Bapak mau bilang apa. Kan saya berhasil dapat nilai delapan puluh matematika. Sesuai kesepakatan kita, berarti Bapak harus jadi pacar saya!” Zeo lebih menegaskan.


“Kesepakatan apa? Saya enggak pernah menyetujui kesepakatan apa pun,” elak Bara.


“Bapak kok pura-pura enggak tahu, sih? Kese—“


“Suara yang kamu kirimkan ke saya? Tapi itu bukan kesepakatan. Saya bahkan tidak menyetujui apa-apa.”


“Bapak kok gitu, sih?! Bapak kan ngajari saya karena Bapak setuju?” protes Zeo.


“Jangan mengambil kesimpulan seenaknya. Saya tidak pernah setuju dan saya enggak akan mau jadi pacar kamu,” elak Bara.


“Kenapa Bapak sok jual banget, sih?! Padahal Bapakkan juga suka saya. Jadi aku harus gimana biar Bapak mau jadi pacar saya?”


“Saya enggak pernah suka sama kamu makanya saya enggak akan mau jadi pacar kamu. Lagian saya udah suka sama perempuan lain.”


Apa Bara pikir Kartika akan percaya itu? Zeo bahkan menggunakan alasan itu kepada Satria sebelumnya.

__ADS_1


“Enggak usah sok-sok an deh, Pak. Seakan-akan ada banyak cewek yang mengelilingi Bapak. Saya tahu kalau cuma saya perempuan yang ada dalam hidup Bapak. Makanya Bapak cuma bisa suka sama saya. Makanya juga Bapak mau repot-repot naikin nilai saya,” elak Zeo.


“Kamu mungkin salah paham karena saya terlalu baik ke kamu. Jadi saya ingatkan baik-baik, saya masih gurumu! Jaga sopan santunmu! Dan saya tegaskan sekali lagi, sudah ada orang lain yang saya cintai!” tegas Bara.


“Terus saya harus gimana, Pak? Gimana saya yang udah jatuh hati ke Bapak? Apa Bapak bakal pergi gitu aja tanpa tanggung jawab?” protes Zeo.


“Itu urusanmu sendiri. Kenapa saya harus peduli?”


“Tapi saya jatuh cinta sama Bapak karena Bapak yang cium saya di pinggir jalan!”


“Ciuman apa? Saya enggak pernah tuh cium perempuan mana pun. Kalo pun saya cium seseorang, enggak mungkin itu kamu!”


“Lalu apa Bapak pikir saya mengada-ngada?”


Bara pun pergi.


“Pak! Bapak!”


***

__ADS_1


Zeo tidak menyerah begitu saja. Dia terus mengganggu Bara sepanjang waktu. Baik saat Bara baru datang, di sekolah, bahkan sepulang sekolah. Itu membuat Bara semakin resah. Apalagi jika orang-orang di sekolah sampai tahu semua ini, tentu tidak akan baik bagi dirinya apalagi untuk Zeo. Terpaksa dia menemui Zeo di atap sekolah sepulang sekolah. Memenuhi keinginan perempuan itu.


“Hentikan, Zeo! Hentikan semua ini sebelum semua orang tahu!” seru Bara memperingatkan.


“Itu urusan Bapak! Kenapa saya harus peduli?” Zeo membalikkan perkataan Bara.


“Saya akan terus mengejar Bapak sampai saya berhasil ngingetin Bapak soal ciuman malam itu!” tegas Zeo.


“Saya ingat. Jadi berhentilah sekarang!” akhirnya Bara mengaku.


“Jadi Bapak ingat itu? Bapak tahu itu?” Zeo kegirangan.


“Tapi saya tetap enggak akan berhenti sampai Bapak bisa nerima saya,” tambah Zeo.


Dasar Zeo. Semakin lama dia semakin lancang saja.


“Kenapa sih kamu terus bersikukuh buat jadi pacar saya? Kamu itu masih remaja. Temanmu di sekolah banyak. Jadi pilihlah salah satu dari mereka: anak-anak yang seusiamu. Bukan orang dewasa seperti saya.”


“Tapi saya maunya cuma Bapak!”

__ADS_1


“Dengarkan saya, Zeo! Hubungan kita adalah hubungan yang mustahil! Kamu masih remaja dan saya sudah dewasa.”


“Jadi itu yang bikin Bapak enggak mau pacaran sama saya? Enggak papa, kok, Pak. Saya baik-baik aja dengan itu.”


__ADS_2