
Satria berpindah tempat. Dia duduk di samping Tiwi. Kemudian mendorong kepala perempuan itu sehingga kepalanya menempel ke bahu Satria. Memberikan tempat bagi air mata berkumpul di dalam bajunya. Sedangkan tangannya mulai bergerak mengusap kepala Tiwi naik turun, dengan harapan semoga Tiwi bisa merasa lebih baik lagi.
Setelah beberapa saat dan keadaan mulai tenang, Satria bertanya lagi, “Kalau seandainya Hendri berada di posisi, di mana dia tahu kalau anak lo adalah darah dagingnya sendiri, lalu dia tetap pergi, apa yang bakal lo lakuin? Apa lo bakal benci dia atau malah maafin dia?”
Tiwi mengangkat kepalanya. Melepaskan diri dari bahu Satria. Kemudian menggeser sedikit lebih jauh dudukannya. Sesekali membersihkan bekas air mata di wajahnya menggunakan kain yang melapisi lengannya.
“Gue bakal tanya,” jawab Tiwi.
“Kenapa lo masih tanya sedangkan lo udah tahu jawabannya? Bukannya itu malah bikin hati lo semakin sakit? Hanya kasih hati lo kesempatan buat patah dan terluka lagi,” sindir Satria.
“Karena enggak semua yang gue lihat, menjelaskan semuanya. Salah atau benar itu pasti. Tapi salah atau benar secara pikiran masing-masing, hanya butuh mengerti. Seenggaknya gue pengen tahu alasan dia ngelakuin itu, gimana secara sudut pandangnya, barulah gue bakal putusin, gue bakal benci dia atau maafin dia,” tutur Tiwi.
Ah, kalimat itu lagi ….
Penuturan Tiwi adalah kalimat sama yang Satria dengarkan di kamar Tiwi beberapa hari lalu.
“Kalo seandainya, jawaban dia adalah sesuatu yang enggak bisa lo mengerti, gimana?” tantang Satria.
“Gue bakal tetap berusaha memaafkan,” timpal Tiwi dengan mudahnya.
“Kalo lo masih enggak bisa maafin?” tanya Satria yang semakin tertarik dengan perbincangan ini.
__ADS_1
“Gue bakal berusaha ngelupain,” jawab Tiwi.
“Apa kehidupan lo semudah itu?” tanya Satria lagi.
“Enggak. Karena saat gue berusaha ngelupain dia, maka gue harus rela ngelupain seluruh kenangan dan orang-orang di sekitar gue yang menjadi bagian dalam masa lalu kami,” jawab Tiwi.
Satria seolah terhipnotis mendengar jawaban Tiwi. Padahal kesan Satria saat pertama kali bertemu Tiwi: Tiwi adalah orang yang buruk. Tidak menyangka malah Tiwi bisa bersikap sedewasa ini.
“Hati sama pikiran lo terbuat dari apa, sih?” tanya Satria.
Tiwi mengernyitkan dahi. “Heh?”
Satria menanyakan itu karena dia tidak tahu atau apa? Bukannya itu sudah dijelaskan di sekolah SMP?
Tiwi malah tertawa pelan. Dikiranya apa.
“Karena untuk bisa hidup tenang, kita harus bisa mengalah,” ujar Tiwi.
“Lo baik,” tutur Satria.
Tiwi malah menanggapinya dengan senyuman. Tidak menyangka tiba-tiba Satria memanggilnya ke kamar hanya untuk menanyakan ini. Dikiranya apa.
__ADS_1
Saat Satria kembali menutup usai kepergian Tiwi, Satria merasa aneh dengan isi dalam dadanya. Tidak biasanya bergerak begitu cepat ….
Bukankah ini sekadar kekaguman?
-oOo-
Satria tidak jadi menanyakan tentang Zeo kepada Tiwi. Tanpa menanyakannya, dia tahu benar kenapa Zeo ada di sini: perempuan itu sedang mencari perlindungan. Kalau Satria mengaku telah memergokinya, dia khawatir kalau kedua perempuan itu akan merasa tidak aman.
Semalaman Satria memikirkan perkataan Tiwi. Berusaha mengadu hati dan pikirannya. Mencoba mencari keputusan bijaknya. Sampai akhirnya, Satria berada di tempat ini ….
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗