
Zeo berjalan mengendap-endap memasuki rumah itu. Entah apa yang tengah dia pikirkan. Padahal dia tidak berniat buruk, tetapi dia seolah-olah tidak berani.
Tidak-tidak. Dia tidak ketakutan seolah hantu akan memakannya. Dia hanya merasa takut seperti seorang pencuri: khawatir jika ada yang memergokinya. Entah ada apa dengan Zeo hari ini ….
Perasaan Zeo yang terikat menjadi lega saat di ruang tengah, akhirnya dia menemukan seseorang yang dicarinya: Bara. Rupanya laki-laki itu tengah duduk di sebuah kursi, menikmati kehancurannya dalam segelas minuman berwarna keemasan di tangannya. Semakin langkah Zeo mendekat, bau minuman itu semakin menyengat.
Ah, sial! Ini kali pertama Zeo mencium bau itu.
Bau itu sungguh menyebalkan!
Kalau bukan karena cinta, Zeo takkan pernah mau mendekat!
“Pak, Bapak!” panggil Zeo.
“Bapak ngapain di sini?” tanya Zeo.
Dengan mata sayunya Bara menoleh. Kemudian menaikkan kedua sudut bibirnya. “Eh, kamu,” katanya. Tiba-tiba dahinya berkerut dan wajahnya menjadi serius.
__ADS_1
“Kamu … kamu … pergi kamu!” usir Bara tiba-tiba.
Zeo terkejut mendengar teriakan itu. Namun, dia tetap tidak beranjak dari posisinya. Dia mencoba untuk memberanikan dirinya.
“Bapak kenapa sih?” tanya Zeo.
“Apa kamu enggak lihat kalau saya mabuk?” Bara menunjuk diri sendiri dengan tangan kiri.
Buk! Tiba-tiba Bara menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Untung saja gelasnya juga sampai mengenai meja. Kini tangannya melemah sehingga gelas itu terlepas.
Apa Bara benar-benar sakit? Wajahnya tadi pucat dan gerakannya begitu lesu. Namun, apa yang terjadi dengannya sekarang?
Bukankah seharusnya dia tidak menambah lemah dirinya dengan minuman-minuman memabukkan seperti ini? Tentu saja dengan keadaannya sekarang, itu tidak akan membuatnya sembuh secepatnya.
Zeo menjadi sangat khawatir. Namun, memerhatikan ketidakbedayaan Bara saat ini, tiba-tiba membuat hasrat Zeo menguat. Bara begitu tidak berdaya sampai tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah; mana keinginannya dan mana penolakannya.
Zeo teringat pada drama bergenre melodrama yang sempat dia tonton. Ingatan itu membuat jiwa egoisnya bangun. Meski keadaan Bara saat ini sebenarnya mengkhawatirkan, ini adalah keberuntungan bagi Zeo. Kapan lagi lotre seperti ini Zeo dapatkan?
__ADS_1
Zeo bangun. Dia berdiri di samping Bara. Kemudian memindahkan tangan Bara dari meja menuju pundaknya sehingga terangkul di sana. Dengan sekuat tenaga, Zeo berusaha membangunkan laki-laki bertubuh berat itu. Namun, dengan tubuh sekecil Zeo itu, apa yang bisa dia lakukan selain mengkhayal? Tentu saja Zeo tidak mampu.
“Pak, Bapak!” panggil Zeo sembari menepuk-tepuk pelan pipi Bara yang memerah.
“Ayo bangun, Pak!” ajak Zeo.
Rupanya Bara tidak mabuk seberat yang terlihat. Dia masih mampu mendengarkan suara Zeo. “Ah, iya …,” sahutnya.
Bara pun bangun. Dia berjalan dengan tuntunan Zeo. Sesekali terseok-seok dan membuat Zeo semakin keberatan saja. Zeo menuntun Bara sampai memasuki kamar.
Zeo berniat merebahkan Bara di atas ranjang. Namun, Bara sangat berat. Tanpa sengaja Zeo terpeleset sehingga dirinya jatuh, begitu pun dengan Bara. Mereka terjatuh bersama dengan Zeo berada pada posisi bawah. Perlahan kedua mata Bara terbuka.
“Eh, Zeo …,” kata Bara berhasil mengenali Zeo.
“Iya, Pak. Ini saya, Zeo,” sahut Zeo.
Bara mengerutkan dahinya. “Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyanya heran.
__ADS_1
“Karena saya ada untuk Bapak …,” begitulah Zeo menjawab.
-oOo-