
“Mau apa, Pak?” tanya Zeo.
“Diam dulu,” kata Bara. Kemudian dia menarik tisu untuk membersihkan hidung Zeo.
Zeo terdiam. Biasanya dia tidak bisa diam. Namun, wajah Bara berada sangat dekat dengannya sudah cukup baginya.
“Belajar emang baik. Tapi enggak ada yang baik dari sesuatu yang berlebihan,” nasihat Bara usai membersihkan hidung Zeo.
Zeo tidak menyahut. Dia malah terus tersenyum.
Bara segera bangun. Dia bersiap pergi. Zeo ikut bangun dengan wajah terkejut. “Bapak mau ke mana?” tanyanya.
“Sebentar lagi bel masuk. Kamu juga pergi sana. Selesai pelajaran langsung pulang!” titah Bara.
“Tapi aku masih harus belajar, Pak,” jelas Zeo.
“Istirahat hari ini. Besok belajar sama saya,” kata Bara sebelum pergi.
Zeo diam memikirkan sebentar. Tak lama, dia tersenyum. “Apa maksudnya Bapak mau ngajarin saya?”
__ADS_1
Seketika Zeo meloncat-loncat kegirangan. Telapak tangannya menyatu di depan dada. “Hore!” jeritnya.
Bara tersenyum di balik pintu. Sebenarnya Zeo tidak belajar sendirian beberapa hari ini. Bara selalu ada di sana dan menemaninya tanpa Zeo tahu.
***
Akhirnya sore yang ditunggu-tunggu Zeo tiba. Bara memang mau mengajarinya, tapi tidak untuk pagi hari dan jam istirahat. Zeo bahkan menyiapkan kotak nasi lagi seperti dulu. Bara tidak menyambut hadiah Zeo dengan keramahan. Dia benar-benar memasang wajah serius layaknya seorang guru.
“Jadi kita mulai dari mana?” tanya Bara.
Zeo menunjukkan buku dan tablet yang diberikan Satria. Bara memeriksa sebentar. Kemudian menyingkirkan semua barang itu.
Bara tahu itu. Dengan mudah dia menebak kalau barang-barang itu milik Satria. Zeo tidak memiliki siapapun selain Satria dan Zeo tidak mungkin memilikinya.
“Barang-barang itu sangat bagus untuk belajar. Kalau saya sekolah, saya ingin sekali memilikinya. Tapi barang-barang itu hanya bisa dipakai orang-orang yang cerdas kayak saya, bukan orang bodoh kayak kamu,” sindir Bara.
“Lihatlah, lihat! Bapak bahkan berani terang-terangan menyebut saya bodoh. Guru macam apa Anda ini? Itu bisa disebut diskriminasi, lho,” tutur Zeo.
“Kamu pintar sekali bicara. Sebenarnya kamu ke manakan kepintaranmu itu saat berpikir?” sindir Bara.
__ADS_1
Zeo melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu dia membuang muka dengan memonyongkan mulutnya.
“Mungkin itu terdengar kasar untukmu. Tapi mengenali diri adalah yang utama sebelum mengatasi,” kata Bara dengan menurunkan nada suaranya. Kini dia terdengar lebih bijak, “Maksudku, kamu enggak bisa mempelajari isi barang-barang itu kalau dasar-dasarnya aja kamu enggak ngerti. Kamu harus belajar dasar-dasarnya dulu. Kebetulan saya bawa bukunya di tas.”
Bara menunduk untuk membuka tasnya dan mengambil sebuah buku.
Akhirnya wajah kesal Zeo menurun. Dia memberanikan dirinya melihat ke arah Bara. “Gitu, dong, Pak, dari tadi. Seenggaknya saya enggak akan tersinggung,” katanya sok benar.
“Saya emang kurang tahan sama orang bodoh. Sebenarnya waktu muda, mereka adalah yang paling saya benci,” tutur Bara setelah berhasil mengambil bukunya.
“Bapak masih nyindir saya?!” protes Zeo.
“Kapan saya pernah nyindir kamu? Saya hanya selalu berterus terang,” jelas Bara.
Bara sungguh membuat Zeo menjadi kesal. Namun, Zeo harus menahannya karena kini dia harus fokus belajar.
Bara mengajari Zeo mulai dari rumus-rumus yang dipelajari saat SD. Mungkin itu terdengar memalukan. Namun, Zeo dengan mudah memahaminya. Bara berhasil mengatasi kesulitan Zeo pelan-pelan. Itu membuat Zeo mulai membandingkan Bara dan Satria. Emang, yang bener-bener guru ama yang abal-abal selalu beda, batinnya merasa geli.
***
__ADS_1