Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
103. Membunuh Kecanggungan


__ADS_3

Tiba-tiba suara tawa memecahkan keheningan di antara mereka. Satria pun menoleh. Rupanya tawa itu berasal dari Tiwi. Satria jadi kebingungan.


“Apa yang lo lakuin?” tanya Satria.


Tiwi tidak menjawab. Dia tetap pada tawanya.


“Lo ngetawain apa, sih?” Satria sampai mengerutkan dahinya.


Awalnya Satria tidak mengerti. Namun, melihat Tiwi yang terus tertawa itu membuatnya malah ikut tertawa. Entah apa yang sebenarnya dia tertawakan.


“Lo … lo ngetawain apa?” tanya Tiwi di sela-sela tawanya. Tanpa sadar, dia sudah mengganti gaya bicaranya.


Satria yang belum bisa menghentikan tawanya itu menjawab, “Gue juga engak tahu.”


“Dasar, lo benar-benar gila!” seru Tiwi.


“Lo yang lebih gila. Gue, kan, niru lo,” timpal Satria.


“Tapi gue ketawa gara-gara apa, ya?” Tiwi malah bertanya. Dia menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.


“Kalo lo tanya gue, gue mau tanya siapa? Dinding aja enggak ada di sini,” sahut Satria.


“Kan, ada angin,” timpal Tiwi.


“Angin, kan—“


Ucapan Satria terhenti saat dia menoleh, malah kedua matanya bertemu tatapan Satria. Bukannya melanjutkan kalimatnya, tawanya malah semakin keras. Dia tak menyangka karena tawa tidak jelas ini, akhirnya kecanggungan di antara mereka terpecah sudah.


Kedua orang itu memuaskan tawa mereka untuk sementara waktu. Setelah mereka merasa lelah, akhirnya tawa itu berhenti secara perlahan. Mereka pun duduk di atas rumput yang mengisi halaman tanpa alas. Kedua kaki Tiwi berselonjor, sedangkan kaki Satria tertekuk.

__ADS_1


“Sebenarnya ini cuma cara lama,” tutur Tiwi.


“Cara lama?”


Ini malah cara baru bagi Satria.


“Gue emang sahabat dekat ama Zeo. Kami udah kayak suami istri aja. Dikit-dikit berantem, masalah sepele dibesar-besarin. Tapi kami enggak pernah marah lama-lama. Paling pagi berantem, malam udah baikan; malam berantem, pagi udah baikan. Semua ini gara-gara tawa enggak jelas itu. Orang-orang sampai ngira kalau kami adalah duo orang gila,” jelas Tiwi menceritakan kisah lama yang sudah terpendam. Mau cerita ke siapa, coba? Sudah tidak ada orang yang mengenal Zeo, Tiwi tidak punya teman akrab, lagi.


“Tapi, kan, bener kalau lo orang gila,” sahut Satria.


“Salah,” timpal Tiwi.


“Terus?”


“Duo orang enggak jelas.”


Satria dan Tiwi tertawa sejenak.


Ah, sial! Apa yang kamu lakukan sedari tadi, Tiwi?


Tiwi langsung menekuk kakinya. Ekspresi wajahnya menjadi serius. Dia menyesali tindakannya. Dia baru menyadari sekarang. Rupanya keakraban berhasil membuatnya lupa akan kedudukan.


“Maaf, Tuan. Aku enggak sadar itu,” tutur Tiwi.


Satria kembali mengeluarkan tawanya. Sedangkan Tiwi sudah tidak berani.


“Udah. Biasa aja kayak tadi,” sahut Satria.


“Maksudnya, Tuan?” tanya Tiwi.

__ADS_1


“Enggak usah nyebut gue ‘tuan’. Gue jijik dengernya!” seru Satria.


“Terus, Tuan?” Tiwi masih bertanya.


“Panggil aja kayak tadi: ‘lo, gue’,” ujar Satria.


“Maaf, enggak bisa, Tuan,” tolak Tiwi.


“Kenapa?” Satria mengernyitkan dahinya.


“Tuan, kan, majikan saya. Dan saya tetap bawahan, Tuan. Kita hanya bisa memiliki hubungan sebatas ini. Enggak bisa jadi lebih. Maksudku, sebagai teman,” tutur Tiwi.


“Kalo gitu, tetap ganti panggilan lo ke gue. Sebagai majikan, gue yang nyuruh!” titah Satria memamerkan singgasananya.


“Tapi, kan, Tuan ….”


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2