
“Lo-lo … lo … lo mau ke mana?” tanya Satria usai menghentikan langkah Tiwi yang hendak pergi ke suatu tempat.
“Ke gerbang buat lihat surat.” Tiwi mengangkat telunjuknya ke arah pintu gerbang. “Ada apa, ya, Tuan?” sekalian bertanya.
“Enggak papa,” timpal Satria.
“Kalau gitu saya pergi dulu, ya, Tuan,” pamit Tiwi sembari menundukkan kepala.
“Oh, iya …,” sahut Satria.
Meski Tiwi telah pergi, Satria belum merasa puas dengan jawaban perempuan itu. Dia malah nekat melangkah mengikuti ke mana perempuan itu pergi. Satria bahkan sampai ikut keluar dari gerbang.
Dahi Satria berkerut. Dia keheranan karena Tiwi terus berjalan pergi melewati jalan. Bukannya Tiwi tadi hanya bilang mau mengambil surat, kenapa dia malah pergi ke tempat lain? Bagaimana kalau Tiwi bertemu Hendri lagi?
Ah, sial! Ada apa denganmu Satria?
Ke mana pun Tiwi pergi, memangnya apa urusanmu?
Tidak bisa! Tidak bisa! Satria tidak bisa terus-terusan seperti ini. Satria memasuki gerbang kembali dan bergegas pergi ke dalam kamarnya. Di sana dia langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Ze … gue harus ketemu lo,” kata Satria.
-oOo-
Ah, sial! Kegilaan apa yang kamu lakukan ini, Satria?
Hanya untuk mendapatkan jawaban yang bukan bagian dari urusanmu, kamu sampai menemui Zeo dan jauh-jauh pergi ke kampungnya.
__ADS_1
“Gue pengen tahu gimana akhir pertemuan Hendri sama Tiwi waktu itu. Apa mereka udah pisah atau malah balikan?” jelas Satria mengutarakan maksud kedatangannya kemari.
Zeo menatap Satria lekat-lekat. Berusaha membaca perasaan Satria melalui ekspresi di wajahnya.
“Jadi, lo suka sama Tiwi?” timpal Zeo.
“Jawab dulu pertanyaan gue! Enggak baik nanya ke orang yang lagi nanya!” tegas Satria.
Zeo malah tersenyum. Dilihat seperti ini, Satria imut juga, ya.
“Bang Hendri udah tahu semuanya,” ujar Zeo.
Satria langsung menolek. Dia merasa terkejut sekaligus panik. “Maksud lo soal ayah dari anaknya Tiwi?” tanya Satria.
“Iya,” jawab Zeo.
“Terus Hendri ngajak balikan gitu? Terus Tiwinya mau gitu?” tebak Satria.
Ah, sial! Lagi-lagi Satria tidak bisa menahan dirinya.
Satria menunduk. Sebenarnya dia enggan mengakui, tapi ….
“Waktu itu gue juga lihat Tiwi sama Hendri ketemu. Gue enggak tahu apa yang mereka bicarain. Gue cuma ingat kalau mereka berpelukan,” ujar Satria.
“Mereka enggak balikan,” timpal Zeo.
Satria langsung menoleh. Bola matanya seketika hidup. “Maksud lo?” tanyanya.
__ADS_1
“Mereka udah berakhir: END. Mereka mutusin buat balik ke kehidupan masing-masing dan memendam masa lalu seolah-olah tak pernah terjadi,” jawab Zeo.
Sebenarnya Satria turut prihatin akan akhir dari kisah cinta Tiwi ini. Akan tetapi, sejujurnya dia yang merasa lega. Entah karena apa, dia hanya merasa lega.
“Sekarang gantian gue yang tanya: apa lo suka Tiwi?” tanya Zeo.
Satria kembali menunduk. “Gue juga enggak tahu,” jawabnya lirih.
Zeo mengernyitkan dahi. Jawaban macam apa itu?
“Kok lo bisa enggak tahu, sih?” tanya Zeo.
“Gue nyaman ada di dekat Tiwi, tapi … masak iya gue suka dia gara-gara itu?” Satria malah bertanya.
Zeo semakin keheranan. Di mana kecerdasan Satria menghilang saat berurusan dengan cinta?
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗