Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
159. Satria Mencari Cinta 2


__ADS_3

“Terus dulu … waktu lo suka sama gue … itu gimana ceritanya? Bukannya lo jantan banget waktu itu? Keren banget sampai bikin gue terbang ke motor,” tanya Zeo.


“Waktu itu … awalnya gue cuma tertarik aja sama lo … soalnya lo, kan, cantik. Dan gue enggak pernah lihat cewek lain secantik lo. Akhirnya ketertarikan gue jadi kebiasaan,” aku Satria.


“Bisa jadi lo sekarang mulai terbiasa sama kenyaman yang lo dapatin dari Tiwi,” tebak Zeo.


Satria terkejut. Seolah perkataan Zeo berhasil menjawab seluruh pertanyaannya.


Satria merasakan getaran dari celananya. Itu karena ponsel yang bersembunyi dalam saku celana. Satria pun mengambil ponsel itu. Rupanya terdapat sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.


Satria pun mengangkat ponsel itu sehingga sejajar dengan telinganya.


“Siapa?” tanya Satria.


Awalnya ekspresi Satria biasa saja. Setelah mendapat kabar terakhir yang diberikan oleh seseorang di seberang sana, bola mata Satria membelalak. Dia langsung bangkit dari duduknya.


Zeo jadi penasaran. Dia ikut bangkit dan terkejut meski tidak tahu ada apa sebenarnya.


“Kenapa?” tanya Zeo.


“Tiwi pingsan,” jawab Satria singkat. Kemudian dia langsung lari meninggalkan Zeo sendirian di taman.


Zeo jadi kebingungan. Kabar temannya tidak sedang dalam keadaan baik. Akan tetapi, ada di mana perempuan itu sekarang?


Zeo pun bergegas mengejar Satria. Akan tetapi, dia malah kehilangan.


Ah, sial! Harus ke mana Zeo pergi sekarang?


-oOo-


Terik semakin panas. Asap mengepul di sana sini. Sedangkan Satria masih diam di tempat, terjebak di antara kemacetan lalu lintas. Untung saja dia menggunakan motor sehingga bisa menyelip setiap ada celah kecil. Meski begitu, tetap saja Satria tidak bisa tiba dalam satu kali kedipan mata. Dia masih membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tempat di mana orang yang menghubunginya berada.

__ADS_1


Sayang sekali, sesampainya di tempat itu, orang yang Satria cari malah tak ada. Tadinya ada seorang bapak-bapak yang menghubungi Satria dan mengatakan kalau Tiwi terjatuh pingsan di depan toko. Namun, kini orang itu mengatakan kalau seseorang sudah mengantar Tiwi ke rumah.


Meski kecewa karena keterlambatannya, Satria tetap merasa lebih lega. Satria pun bergegas kembali ke rumah. Baru saja memarkirkan sepeda, itu pun sembarangan, dia langsung berlari ke kamar Tiwi.


Sesampainya di kamar itu, Satria melihat Putri sibuk bermain sendiri di ujung kamar. Sedangkan Tiwi tetap terbaring dengan mata terpejam. Satria pun mendekati perempuan itu dan langsung memegang tangannya. Wajah perempuan itu terlihat pucat. Bisa dipastikan kalau perempuan itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.


“Wi … lo kenapa, Wi? Lo udah sadar, kan?” tanya Satria panik.


Kelopak mata Tiwi mengerjap perlahan. Akhirnya dia bisa melihat benar siapa orang yang berdiri di sampingnya. “Eh, Tuan,” sapanya.


Tiwi hendak membangunkan punggungnya, tetapi Satria melarang.


“Enggak usah. Jangan bergerak lo,” larang Satria.


“Tapi, kan ….”


Awalnya Tiwi keberatan. Akhirnya dia mengalah. Lagi pula dia tidak dirugikan.


Tiwi yang pingsan, wajah Satria yang tidak terlihat baik-baik saja. Itu malah membuat Tiwi keheranan.


“Tuan,” panggil Tiwi.


“Hem? Apa? Kamu butuh sesuatu? Air? Obat? Atau apa?” cecar Satria sekali lagi.


“Saya pingsan karena kelaparan. Kenapa Tuan malah bersikap seolah-olah saya kena kanker dan mau meninggal?” tanya Tiwi keheranan.


Seketika Satria mematung. Dia terperangah pada tindakannya sendiri.


Apa yang terjadi baru saja?


Apa Satria benar-benar mengkhawatirkan Tiwi?

__ADS_1


Ya. Khawatir memang biasa ditujukan pada orang terdekat. Akan tetapi, bukankah Satria tadi terlalu berlebihan?


Satria tidak menjawab. Dia malah memundurkan kakinya dengan tubuhnya yang terasa lemah. Kemudian mulai berbalik dan melangkah pergi.


“Tuan! Tuan baik-baik aja, kan?!” teriak Tiwi.


Apa Satria baik-baik saja?


Sepertinya tidak ….


Karena Satria menyadari kalau dirinya tengah berada dalam masalah.


Sepertinya Satria benar-benar jatuh cinta ….


-oOo-


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2