Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
121. Kesalahpahaman Zeo 2


__ADS_3

“Lo ada di sini, Ze!” teriak seseorang yang menarik perhatian Tiwi dan Zeo.


Tiwi dan Zeo menoleh. Tiwi langsung bernapas lega mendapati Satria berjalan mendekatinya. Apa Satria memang bisa mendengarkan suara batin?


“Lo ngapain ke sini?” tanya Satria setelah menghentikan langkahnya dan turut bergabung bersama kedua perempuan ini. Sedangkan wajahnya menampilkan kegelisahan yang sama seperti Tiwi.


Zeo mengernyitkan dahinya. Dia keheranan dengan tingkah kedua orang ini. Tidak ada satu pun yang menyambutnya dengan sapaan ramah. Apa ada kesalahan yang Zeo lakukan?


“Gue juga kecewa sama lo,” Zeo menambahi ucapan sebelumnya dengan pedang pandangan yang mengarah ke Satria.


Satria menoleh ke arah Tiwi. Berusaha menanyakan apa yang terjadi dengan tatapannya. Namun, Tiwi malah mengedikkan bahunya. Satria pun kembali memusatkan perhatiannya ke arah Zeo.


“Emangnya apa yang habis gue lakuin?” tanya Satria, “maksud gue, kita.”


“Gue kecewa karena kalian udah bongkar soal kehamilan gue ke keluarga gue,” ujar Zeo.


Satria dan Tiwi kembali saling menoleh. Sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan Zeo.


Membongkar kehamilan?


Keluarga?


Satria bahkan tidak ingat kapan terakhir kali berinteraksi dengan keluarga Zeo usai pesta pernikahan. Apa lagi, Tiwi. Kabarnya bahkan hilang dari keluarga sendiri, apalagi keluarga Zeo yang tidak tertarik kepadanya.

__ADS_1


“Gue emang enggak pernah ngelarang kalian buat bicara soal ini ke keluarga gue, tapi gue masih enggak nyangka kalian bisa selancang itu ke gue. Gue benar-benar kecewa sama kalian,” imbuh Zeo.


“Bentar-bentar,” tahan Satria, “yang lo omongin ini sebenarnya apa, sih?”


“Apa kurang jelas? Seharusnya dengan orang secerdas lo, lo bisa mengerti dengan cepat,” sindir Zeo.


“Tapi gue benar-benar enggak ngerti maksud ucapan lo,” ujar Satria.


Zeo malah melirik sinis. Dia muak dengan sandiwara-sandiwara yang ada di sekitarnya. Padahal sebelumnya dia cukup bahagia dalam hidupnya yang hanya diisi oleh tiga orang: begitu sederhana.


“Gue enggak tahu apa kecerdasan lo emang udah turun atau lo cuma pura-pura bodoh. Intinya, gue kecewa berat ke kalian!” timpal Zeo.


“Gue ke sini cuma buat bilang itu. Sekarang gue mau pulang. Oh, ya. Makasih udah jaga anak gue. Sekarang gue udah enggak butuh bantuan kalian lagi,” imbuh Zeo.


Zeo berbalik. Dia melangkah cepat mendekati Joffy. Kemudian mengajaknya pulang dan menggendong.


“Buruan cegah dia!” seru Satria menyuruh.


Tanpa memperpanjang obrolan, Tiwi langsung melangkahkan kakinya dengan cepat. Sesampainya di depan Zeo, dia langsung menghadang Zeo.


“Tunggu, Ze!” seru Tiwi.


Dengan terpaksa, Zeo menghentikan langkahnya. “Apa lagi?” tanyanya.

__ADS_1


“Lo ….” Tiwi benar-benar kesulitan bersuara. Seolah-olah mulutnya terganjal oleh buntalan udara.


“Apasih? Buruan!” seru Zeo.


“Lo enggak boleh bawa anak lo pulang ke rumah lo,” ujar Tiwi.


“Mbak Tiwi ini apaan, sih? Kan, aku sukanya tinggal sama Mama,” protes Joffy. Dia masih takut kalau Zeo sampai meninggalkannya lagi hanya karena permintaan Tiwi.


“Lagian kenapa gue enggak boleh bawa pulang anak gue sendiri? “ tanya Zeo.


“Karena … karena ….” Ah, sial! Tiwi jadi gelagapan. Dia tidak tahu harus menjawab apa sekarang?


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘

__ADS_1


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2