
Aku udah update 6 part nih, guys. Please, lah, bagi jempol ama komentar positifnya 😥😥😥
Cuz ....
💃💃💃
Satria bergegas mendekati bunga itu.
“Sini!” seru Satria. Dia langsung menarik bunga itu.
Benar. Tidak ada satu pun surat. Namun, sebuah pita dengan tulisan ‘terima kasih’ terikat di sana. Itu adalah sebuah petunjuk. Seketika Satria mengerti.
Bunga itu dari Tiwi. Enam tahun yang lalu Satria memang meminta bunga untuk setiap bulan karena utang yang dia pinjamkan. Namun, rupanya bukan bunga dalam bahasa rentenir yang Satria minta, melainkan bunga dalam arti sebenarnya.
Sampai sekarang, Tiwi rutin meninggalkan bunga di kamarnya setiap bulan. Sedangkan gajinya selalu Satria potong satu per tiganya.
Ah, Satria baru sadar kalau dia tidak pernah mengobrol lagi dengan Tiwi—sejak enam tahun lalu.
“Dari siapa, Kak?” tanya Joffy.
“Kepo!” sahut Satria.
Satria melemparkan kembali bunga itu ke atas meja. Biar pelayan yang membersihkannya besok. Lagi pula dia tidak memiliki maksud apa-apa dengan benda itu. Dia hanya mau menolong Tiwi, bukannya menyusahkannya.
Saria bergegas mendekati ranjangnya. Kemudian dia melemparkan tubuhnya ke sana. Sedangkan pandangannya mengarah ke langit-langit kamar.
Tiba-tiba Satria terpikirkan sesuatu ….
Kalau enam tahun lalu Tiwi masih hamil, seharusnya dia memiliki anak kecil yang sebaya dengan Joffy, kan?
Ah, dasar Satria! Dia benar-benar cuek dengan apa-apa yang mengisi rumahnya. Dia bahkan tidak tahu apa jenis kelamin anak Tiwi.
__ADS_1
Satria bangun.
“Hei, Joni,” panggil Satria.
Joffy yang baru saja menaiki ranjang menoleh. “Joffy, Kakak,” katanya mengoreksi.
“Ikut gue!” seru Satria. Dia tidak peduli dengan kesalahannya baru saja. Tidak menyesal sedikit pun.
“Ke mana?” tanya Joffy keheranan. Padahal dia ingin tidur sekarang.
Satria tidak menjawab. Dia malah turun dari ranjang. Kemudian dia memegang tangan joffy dan mengajaknya keluar dari kamar.
Sampai di depan pintu kamar, Satria menepuk kedua tangannya. Tanpa menunggu waktu lama, tiga orang pelayan perempuan langsung datang mendekat.
Wah …. Joffy terperangah dengan sulap yang kakaknya lakukan ini.
Apa sehebat ini ya, orang kaya?
“Di mana Tiwi?” tanya Satria.
“Mbak Tiwi ada di kamar, Tuan,” jawab salah satu dari mereka.
“Baiklah. Kalian udah bekerja keras,” puji Satria.
Satria berbelok. Dia mulai melangkah. Namun, Joffy malah menahannya dengan menarik celananya. Satria pun menoleh.
“Kakak mau masuk ke kamar cewek gitu aja?” tanya Joffy khawatir.
“Makanya aku ngajak kamu. Biar enggak salah paham,” tutur Satria.
“Tapi, kan, aku juga cowok.”
__ADS_1
Ah, sial! Kanapa anak kecil ini banyak bicaranya, sih?
Satria langsung menggendong Joffy. “Makanya kamu jadi setannya,” katanya.
Satria pergi ke kamar Tiwi. Dia langsung masuk ke kamar itu begitu saja tanpa permisi. Lagi pula Tiwi tidak mungkin mandi dengan posisi pintu kamar yang masih terbuka.
Tiwi yang tadinya sedang menyisir rambut Putri langsung terkejut. Dia pun terbangun. Berdiri tegak dengan penuh hormat.
“Eh, Tuan. Apa ada sesuatu yang Tuan butuhkan?” tanya Tiwi. Padahal Satria tidak pernah menemuinya secara pribadi seperti ini.
Satria pun menurunkan Joffy ke lantai.
“Mulai hari ini, lo udah berhenti dari jabatan lo sebagai kepala pelayan.”
“Apa?”
Apa-apaan ini?
Tiwi tidak salah dengar, kan?
-oOo-
Eh, apa-apaan ini 😖😖😖 Tiwi kok sial mulu hidupnya!
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1