Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
34.Tantangan


__ADS_3

“Itu buat saya, Pak?” tanya Putri, pemilik meja itu dengan semringah. Dia baru datang dari luar.


“Ibu ambil aja,” jawab Bara. Dia mulai menata buku-bukunya.


Putri yang awalnya gembira jadi keheranan. “Kenapa Bapak bawa kalo enggak dimakan?” tanyanya.


“Saya alergi kacang, Bu,” jawab Bara sembarangan.


“Tapi ini enggak ada kacangnya?” Putri menunjukkan kotak makanan yang telah dibukanya.


Ah, sial! Bara tidak fokus sedikit pun. “Maksud saya, nasi,” dia kembali menjawab sembarangan.


“Apa ada yang seperti itu?”


Bara menghentikan gerakannya. Dia pun menoleh. “Emangnya kenapa?! Kalo saya bisa alergi kacang, kenapa saya enggak bisa alergi nasi?!” sewot Bara.


Putri tertawa. Dia tertawa dengan manis. “Bapak Bara ini lucu, ya. Kalo mau goda saya jujur aja, Pak. Meski saya enggak bisa kasih hati saya, saya masih bisa kasih putri pertama saya ke Bapak,” sahut Putri dengan genit.


Bara kembali memfokuskan perhatiannya kepada pekerjaan utamanya. Perempuan tua itu memang suka melantur. Kenapa menawarkan Bara dengan anak ketiganya yang masih SMP?


Sepulang jam pelajaran sekolah, Bara melihat Zeo tengah bersandar di depan mobilnya. Perempuan itu benar-benar berusaha.


“Hai, Pak,” sapa Zeo.


Bara ingin mengabaikan itu, tetapi tidak bisa karena posisinya. Bagaimanapun dia adalah panutan. Dia pun tersenyum. “Iya. Ada apa, Zeo?” balasnya ramah.


“Kencan yuk, Pak.”


Seketika Bara mencubit telinga Zeo.


“Ah-ah! Sakit, Pak. Pak-Pak,” jerit Zeo.


“Beraninya kamu bilang gitu. Kita masih di sekolah dan saya masih guru kamu,” tegur Bara.


“Apa itu berarti kalo enggak di sekolah kita bisa kencan?” Zeo membelokkan pemahamannya.


Zeo membuat Bara semakin merasa gemas. Untungnya teriakan Putri menghentikan semua itu, “Pak Bara!”


Bara langsung melepaskan cubitannya. Dia dan Zeo menoleh bersamaan.

__ADS_1


“Ini, Pak, kotak makanannya.” Putri menunjukkan kotak makanan yang diberikan Zeo. “Terima kasih. Makanannya lezat,” puji Putri. “Meski keasinan,” tambahnya berbisik. Kemudian dia pergi meninggalkan mereka berdua.


Dalam hati Bara merasa lega belum mencicipinya. Makanan sebelumnya bahkan tidak terasa asin sedikit pun.


“Apa maksudnya ini, Pak?” tanya Zeo dengan hujaman mata tajam.


“Oh, ini ….” Bara mengangkat kotak makanan kosong itu. “Saya udah kenyang. Jadi saya kasih ke Bu Putri.”


Bola mata Zeo membelalak. “Gimana Bapak bisa—“


“ZE!” Kemarahan Zeo tertunda berkat teriakan Novi, seorang teman sekelas Zeo.


Terpaksa ….


“Eh, ada Bapak,” Novi menyapa Bara.


“Iya. Kalian mau pulang bareng?” tanya Bara ramah.


“Enggak, sih, Pak. Cuma mau nemuin si Ze ke temen saya. Katanya dia lagi cari novel,” jawab Novi. Kemudian dia menoleh ke Zeo. “Novel yang lo cari ada empat buku. Harganya 550.000.”


Apa itu tidak kurang mahal? Angka depannya saja membuat Zeo tidak tertarik melihatnya. Itu terlalu mahal.


Zeo memejamkan matanya. Malu sekali kalau Bara dan Novi sampai melihat betapa pelit dirinya.


Tiba-tiba Bara memotong kalimat Zeo dengan menarik Zeo ke sampingnya. “Sebenarnya Zeo masih ada les dengan saya. Jadi kami pergi dulu, ya,” kata Bara. Kemudian membukakan pintu mobil depannya untuk Zeo.


“Tapi kan ….” Novi tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena mobil Bara sudah melaju.


“Sejak kapan Pak Bara buka les? Apa gue perlu bilang ke Mama, ya?” gumam Novi.


***


“Apa sih yang Bapak lakuin?! Saya harus beli novel itu!” seru Zeo kesal di tengah perjalanan.


“Kamu yang ngapain mau beli-beli novel kayak gitu,” sahut Bara.


“Uang-uang saya, kok,” balas Zeo sinis.


“Maksud saya, gimana kamu bisa tenang sedangkan ujian tinggal dua minggu lagi,” jelas Bara.

__ADS_1


“Justru aneh kalo saya sampai enggak tenang gara-gara ujian,” sahut Zeo.


Zeo membuang mukanya ke samping. “Mana pernah gue enggak tenang …, kecuali di samping Bapak,” gumam Zeo. Dia bahkan tersenyum-senyum.


“Makanya kamu selalu bodoh,” sindir Bara.


Senyum Zeo berhenti. Dia merasa tersinggung. “Iya, benar. Siapapun bilang saya bodoh emang benar. Lagian kalo saya enggak bodoh, apa Bapak bakal mau pacaran sama saya?”


“Makanya saya enggak bakalan mau pacaran sama kamu karena kamu itu bodoh!”


“Apa kalo saya pintar Bapak mau jadi pacar saya?”


Tiba-tiba mobil berhenti. Seketika Zeo terusir dari sana.


“Enggak,” itulah jawaban Bara.


Zeo mengucapkan selamat tinggal kepada mobil Bara dengan kekesalan. Dia masih berdiri tegak di posisinya. Dalam kekukuhannya itu, dia bertekad, “Kalo nilai ujian matematika saya bisa dapat delapan puluh, Bapak harus terima cinta saya.” Dia bersumpah sendirian dan membagikannya kepada Bara dalam bentuk rekaman.


Sesampainya di rumah, Bara merasa frustasi setelah mendengar rekaman itu. Padahal dia menarik Zeo ke mobilnya agar Zeo menjauh dari novel semahal itu. Bara tahu benar kalau Zeo membutuhkan uang sampai harus bekerja keras sepulang sekolah untuk mendapatkan uang yang tidak banyak. Jika Zeo menggunakan uang itu untuk membeli novel, maka Zeo tidak akan menghasilkan apa-apa.


Bara harus menjauhi Zeo, tetapi dia tidak bisa pergi dari Satria lagi atau Satria tidak akan pernah merasakan ketulusannya.


***


Zeo bersungguh-sungguh dengan tekadnya. Sepanjang waktu di sekolah, pandangannya terus berkeliling untuk mencari seorang guru yang layak untuk mengajarinya. Setelah melihat seluruh teman-teman di kelasnya, Zeo tidak menemukan seorang pun yang terlihat spesial. Mereka biasa-biasa saja. Nilai pun pas-pasan.


Saat melewati perpustakaan, perpustakaan itu terlihat ramai tidak seperti biasanya. Rupanya Satria sedang tidak ada di sana. Tiba-tiba Zeo teringat sesuatu. Dia menemukan seorang teman yang patut menjadi gurunya. Zeo pun bergegas ke kelasnya Satria.


“Kata guru, dia lagi sakit,” kata seorang teman sekelas Satria.


Sayang sekali. Zeo tidak menemukan Satria di kelasnya.


Tidak apa-apa. Lagipula selama bukan hari libur, Zeo masih harus bekerja di kediaman Satria. Untuk pertama kalinya Zeo pergi ke rumah itu dengan penuh semangat.


Sesampainya di kamar Satria, Zeo melihat Satria terbaring lemah di atas ranjangnya. Zeo pun bergegas mendekati laki-laki itu. Bukan untuk menanyakan kabar atau menunjukkan perhatiannya, melainkan ucapan, “Bantuin gue dapatin nilai delapan puluh matematika, dong.”


Zeo bahkan bersyukur atas sakit yang diderita Satria. Karena rasa sakit itu, tidak ada satu pun debu yang menyentuh kamar Satria, apalagi barang tidak terletak pada tempatnya.


“Enggak!” Sayangnya itulah jawaban Satria.

__ADS_1


***


Selalu like dan koment🤗


__ADS_2